Bukan Sekedar Pemberdayaan Hit and Run

Suatu hari, seorang ayah melihat anaknya menengadah ke atas pohon mangga yang sedang berbuah. Seakan sudah mengerti maksud si anak, sang ayahpun memanjat pohon tersebut dan memberikan buah mangga kepada anaknya. Keesokan harinya, si anak pun rindu makan buah mangga. Namun karena sang ayah belum pulang kerja, alhasil si anak hanya bisa memandangi buah mangga dari bawah pohon. Si anak pun kecewa luar biasa.

Alangkah bijaknya tatkala sang ayah dalam ilustrasi di atas mengambil pengait buah dan mencontohkan cara mengambil buah yang baik, tentu si anak bisa mengambil buah mangga secara mandiri tanpa terus berharap pada bantuan sang ayah.

Ilustrasi ini mirip dengan pesan dalam pepatah Cina yang sudah sangat sering kita dengar. Berikan kepadaku seekor ikan dan aku bisa makan selama satu hari. Ajari aku memancing dan aku akan makan seumur hidupku. Pepatah ini kerap dipilih untuk mengingatkan kita bagaimana cara terbaik menolong orang dari kesulitan.

Menolong orang adalah kewajiban setiap umat manusia. Namun seyogyanya pertolongan tersebut memancing kemandirian. Tidak menjadikannya bergantung dan bermental pengemis. Menolong orang sebaiknya tidak memanjakan. Tidak pula membuat orang tersebut terkungkung dalam kebodohan dan kelemahannya. Inilah konsep pemberdayaan yang hilirnya berusaha mengeluarkan seseorang dari penjara ketidakberdayaan.

Barangkali paradigma inilah yang sedang dipikirkan Pusat Pelayanan Sosial Masyarakat (PPSM) Gereja Kristen Indonesia (GKI) Sinode Wilayah Jawa Barat. Pada Agustus 2014 lalu, PPSM memutuskan untuk turun kandang demi menyelenggarakan pembinaan warga di tiga desa, yakni Rantau Minyak, Tanjungan Katibung dan Sri Bawono di Lampung.

Pihak PPSM membantu dalam bidang pelatihan pembuatan dan produksi keripik singkong balado untuk menambah variasi oleh-oleh khas Lampung yang selama ini lebih dikenal dengan keripik pisang tanduknya.

Keripik singkong balado buatan warga ini tergolong unik karena proses produksinya sama sekali tidak menggunakan bahan pengawet. Rasanya enak dan gurih tak kalah dengan keripik singkong balado terkenal asal Kota Padang, Sumatera Barat. Tak pelak PPSM menggantung mimpi keripik ini akan menjadi salah satu produk pangan ringan andalan Provinsi Lampung.

Tak puas sampai di sini, PPSM juga menggelar sejumlah pelatihan seperti pembuatan gula merah organik, cendol dari bahan baku sagu, bubur ayam organik, pertanian dan peternakan kambing. Khusus peternakan kambing, PPSM menyediakan modal dasar berupa lima ekor kambing yang tengah bunting.

Pdt. Suroso dari Komunitas Kristen GPP di Katibung yang merupakan koordinator lapangan peternakan kambing sangat mengapresiasi program pemberdayaan seperti ini. Menurutnya cara seperti ini jauh lebih efektif mengeluarkan warga dari kerangkeng kemiskinan dan menjadikan mereka mandiri. Warga ketiga desa merasa sangat bangga mendapat perhatian yang luar biasa dari PPSM.

“Sudah saatnya pemberdayaan bukan hanya sesaat saja alias hit and run, tapi mampu memandirikan komunitas yang diberdayakannya.” ujar Suroso.

Saat ditanyakan tentang perkembangan perawatan kambing yang diberikan sebagai modal dasar bagi warga, Pdt. Suroso menyampaikan kebahagiaannya karena modal dasar itu kini sudah berkembang biak. “Puji Tuhan, kambing tersebut telah melahirkan empat ekor sehingga total kambing yang dikelola ada sembilan ekor.” tandas dia.

Selama ini PPSM sudah berulang kali menggelar program pemberdayaan seperti yang pernah dilangsungkan di Sentani, Abepura, Biak Utara, Biak Selatan dan Raja Ampat di Provinsi Papua dan Papua Barat. Program pemberdayaan komunitas yang diselenggarakan berupa pembuatan kerajinan tangan, keripik keladi, cendol dari sagu, pelatihan potong rambut, sablon kaos, kuliner, perikanan dan pertanian.

Setiap pelatihan yang dilakukan tidak sekedar memaparkan teori semata melainkan dibarengi dengan praktik langsung agar mereka benar-benar mampu melakukannya secara mandiri.

Ketua PPSM BPMSW GKI SW Jabar Pdt. Santoni menjelaskan bahwa sebelum masuk ke Papua, tim PPSM terlebih dahulu melakukan pemetaan apa yang menjadi kebutuhan utama warga di sana. Masukan dari sesepuh di Papua diakomodir dan didiskusikan secara mendalam.

Sekian lama tim PPSM masuk ke pedalaman Papua dengan berbagai program mulai yang bersifat charity hingga meningkat pada tahapan pemberdayaan komunitas yang dibarengi dengan pengawasan dan evaluasi. Namun, masih ada kendala pada terbatasnya SDM yang mumpuni sebagai tenaga pelatih (trainer) di bidang yang diperlukan dan bersedia masuk ke pedalaman Papua. Terkahir, Pdt. Santoni pun mengajak siapa saja yang berminat agar kegiatan pemberdayaan ini bisa berkembang lebih luas.

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA