Curahan Kasih di Pedalaman Kalimantan

Pada majalah cetak SELISIP edisi Mei 2014, Heri Lingga mengisahkan pengalaman menariknya saat berkunjung ke dusun kecil bernama Serukam. Untuk mencapai dusun ini butuh waktu 5 jam perjalanan darat dari Pontianak, Kalimantan Barat. Perjalanan ini  ia mulai dari Bandara Soekarno Hatta menuju Bandara Supandio Pontianak. Lalu melakukan perjalanan darat melewati Kota Bengkayang dan berlanjut menyusuri jalan berliku tajam menapaki perbukitan sepanjang 15 kilometer.

Pertanyaannya untuk apa melakukan perjalanan sejauh ini? Memangnya ada apa di dusun Serukam yang berpenduduk 200 jiwa itu? Sungguh aneh bin ajaib, Heripun tidak tahu persis untuk apa ia pergi ke sana. Pasalnya, ia hanya mendapatkan undangan seorang pendeta emeritus Gereja Kristen Indonesia (GKI) yang seakan-akan mengerjainya untuk melakukan perjalanan misterius menuju lokasi asing seperti ini.

Undangan lewat sms ini sama sekali tidak memberi tahu alasannya diundang ke dusun kecil yang diapit antara Kota Bengkayan dan Singkawang ini. Namun, tetap saja ia terima kendati beribu pertanyaan sedang berkecamuk dibenaknya.

Sesampainya di Serukam, Heripun bertemu sang pendeta yang sedang berada di rumah sakit misi Kristen bernama RS Bethesda. Di sinilah akhirnya Heri mengerti mengapa ia harus datang ke Serukam. Ia diminta untuk menuntaskan rencana penulisan buku biografi sang pendeta. Namun, pertanyaan tak berhenti sampai di sana. Pertanyaan masih terus mencuat, untuk apa diundang jauh-jauh ke Serukam hanya demi menyelesaikan buku.

Sejenak Heri pun lupa dengan rasa penasarannya. Ia terheran-heran serta kagum luar biasa ternyata ada sebuah rumah sakit di pedalaman seperti Serukam. Muncullah rasa penasaran baru, bagaimana sejarahnya rumah sakit ini bisa berdiri di sana. Sungguh kebetulan, esok hari ada jadwal tur keliling rumah sakit yang dipandu bagian General Affairs RS Bethesda.

Seorang wanita berwajah batak tulen alumni Sastra Inggris Universitas Indonesia yang merupakan staf RS Bethesda Donda Panggabean mengajak Heri dan sang pendeta melihat ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) yang terbilang sederhana dibandingkan dengan RS di Jakarta.

Bagi warga Kalimantan Barat, keberadaan RS Bethesda sudah begitu mahsyur karena dulunya identik dengan dokter-dokter asal Amerika Serikat yang membuka pelayanan misi Kristiani di era 1960-an. Rumah sakit ini pun terkenal memberi sentuhan manusiawi kepada para pasien-pasien yang membutuhkan pelayanan kesehatan.

“Para dokter di sini, setiap hendak memeriksa pasien akan memohon izin kepada pasiennya untuk berdoa secara Kristiani,” cerita Donda ketika memperlihatkan ruang kamar periksa pasien berukuran sekitar 3×3,5 meter.

Perintis dan pendiri RS Bethesda di Serukam dr. Wendell Geary asal Minnesota AS selalu mengawali pelayanan medis kepada pasien dengan doa. Ia juga mendorong para dokter asal Indonesia yang mengabdi di RS Bethesda untuk lebih jauh mengenal latar belakang pasien dan keluarganya. Pola ini akan sangat membantu untuk tidak hanya menyelesaikan masalah fisik semata melainkan juga kait mengkait dengan urusan psikis yang kerap memicu penyakit fisik. Itu sebabnya tidak tabu bila dokter dan pasien bercerita tentang masalah keluarga dan budaya lokal pasien.

Heri dan sang pendeta juga diperkenalkan dengan seluruh dokter yang bertugas pagi itu. Heripun tercengang bahwa sebuah rumah sakit di pedalaman memiliki dokter spesialis seperti spesialis mata, anak, kandungan, gigi, penyakit dalam dan ahli radiologi. Fasilitas medis untuk setiap dokter spesialis pun lumayan memadai. Di bilik spesialis kandungan ada alat USG. Sementara di bilik spesialis mata ada alat periksa mata laiknya rumah sakit di perkotaan. Begitu pula, di bilik gigi ada dua kursi periksa gigi dan kelengkapan alatnya.

Dokter yang memeriksa pasien di RS Bethesda diberikan dua otoritas yakni menulis resep obat serta berotoritas menulis ‘resep’ bebas biaya kepada pasien tak mampu. Di sinilah letak misi itu, yakni hadir untuk menolong sesama sebagai refleksi kasih Bapa kepada anak-anak-Nya. Selain sering menggratiskan biaya pelayanan medis bagi pasien kurang mampu, Bethesda juga kerap dihadapkan pada pasien gawat darurat hasil tabrak lari atau perkelahian antar suku (Dayak dan Madura di era tahun 1999) yang tidak jelas siapa yang akan menanggung biayanya.

Tak heran, manajemen rumah sakit harus memutar otak untuk menutupi defisit mencapai sekitar 2 miliar rupiah setiap tahunnya. Namun angka defisit ini selalu dimaknai sebagai bentuk pelayanan kasih kepada masyarakat Serukam dan sekitarnya bagi kemuliaan Bapa di sorga.

Para pengelola RS Bethesda sangat percaya dengan pertolongan Tuhan hingga mereka mampu melalui kesulitan, tekanan, himpitan, sampai sempat ada upaya menutup RS, namun masih bisa bertahan hingga kini mencapai usia 46 tahun. Pengalaman di RS Bethesda tak pelak membuat Heri tercengang akan pekerjaan sang kuasa. Akhirnya ia pun berujar, “Rupanya, di Serukam ada tangan Yesus yang menyembuhkan.”

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA