Memahami Ulang Misi Gereja

Apa yang terlintas di benak warga GKI saat mendengar kata ‘misi’? Sejumlah gambaran mungkin segera bermunculan. Mulai dari kegiatan berdakwah secara langsung, sampai ke kegiatan sosial. Tapi bagaimanakah misi dipahami dalam kondisi dunia seperti sekarang?

Dalam ruang-bahasan Kristiani misi sering diartikan sebagai tugas dan panggilan Gereja. Apa yang mestinya gereja lakukan di tengah dunia. Karya apa yang perlu diperbaiki, dikoreksi, ditambah atau bahkan diubah. Juga bagaimana pula karya itu harus dilakukan.

Menjawab semua pertanyaan tadi tentu tidak bisa dilakukan seolah-olah Gereja berpijak di ketiadaan. Kehadiran Gereja di tengah masyarakat, sudah seharusnya memperhatikan konteks keberadaannya. Jika tidak demikian, tentu sulit sekali bagi Gereja menjalankan misinya di tengah dunia.

Perubahan-perubahan dunia yang begitu cepat telah menggeser nilai-nilai kehidupan. Ciptaan yang semestinya saling melengkapi dan mendukung satu dengan yang lain, justru mengalami krisis hubungan. Manusia dan alam tidak lagi bersahabat. Manusia tidak lagi memelihara alam tetapi hidup egois untuk menguasai dan menaklukkan alam.

Perpindahan penduduk dari desa ke kota, telah turut pula memaksa desa beradaptasi menjadi seperti kota. Hal ini juga membawa perubahan pola hidup dan relasi dalam masyarakat. Pola hidup jadi semakin konsumtif, sementara hubungan antar manusia jadi semakin renggang.

Di tingkat dunia Gereja diperhadapkan pada konteks yang lebih kompleks dan majemuk. Gereja hadir di tengah dunia yang amat beragam dari segi budaya dan agama. Keragaman tadi tidak selamanya disikapi manusia dengan baik. Justru dalam beberapa peristiwa, perbedaan-perbedaan tadi malah memicu konflik dan peperangan.

Melihat latar kondisi yang demikian, sudah semestinya gereja terus-menerus merenungkan panggilan dan kesaksian hidupnya dengan cara yang tepat. Dalam Konsultasi Misi Nasional Gereja-gereja Reformed tahun 2012, sejumlah gereja reformed di Indonesia pernah merumuskan dua tantangan besar yang perlu segera disikapi gereja masa kini.

Pertama, Gereja perlu menyadari bahwa ia bersaksi di tengah dunia yang majemuk dari segi agama dan budaya. Kegiatan misi/dakwah antar agama banyak menimbulkan ketegangan, pelanggaran HAM, kekerasan dan bahkan pembunuhan. Agama sudah diperalat menjadi alat politik, ekonomi dan kepentingan golongan tertentu. Gereja atau orang Kristen rupanya tidak luput dari situasi ini. Seringkali dalam melakukan misinya, ada kelompok Kristen yang melakukan tindakan-tindakan yang tidak etis.

Jika hal demikian terjadi, Gereja sudah meningkari makna misi itu sendiri. Kesaksian Gereja harus kembali meneladani sikap Tuhan Yesus. Misi itu harus dilakukan dengan sukacita. Meski menempu jalan salib, kasih dan kelembutan kepada semua orang harus tetap dilakukan. Misi gereja harus dapat mewujudkan keadilan, perdamaian, pengharapan dan kasih pada sesama. Juga mesti selalu diingat bahwa pertobatan orang lain kepada Kristus adalah buah pekerjaan Roh Kudus.

Kedua, Gereja perlu menyadari bahwa ia berjuang bersama umat manusia lain serta ciptaan lainnya demi kehidupan. Gereja di Indonesia dipanggil untuk menegakkan ‘budaya kehidupan’ serta memerangi praktik ‘budaya kematian’ yang membawa seluruh ciptaan Tuhan kepada kebinasaan. Oleh sebab itu, Gereja perlu membangun kehidupan bersama dengan umat manusia serta ciptaan lainnya, di dalam berbagai aspek kehidupan.

Dalam konteks terkini Gereja perlu meninjau panggilannya untuk memulihkan/menyelamatkan manusia dan seluruh ciptaan. Lebih dari itu Gereja perlu menyadari bahwa kehadirannya ada bersama dengan ‘yang lain’ dalam mewujudkan perdamaian dan keadilan bagi kehidupan. Misi dalam pengertian yang seperti ini tentu melampaui pengertian ‘memasukkan orang ke rumah saya,’ namun menuntut tanggung jawab dan karya yang lebih substantif.

*Disarikan dari liputan Sujud Swastoko Konsultasi Misi Nasional 2012, dalam Rubrik Berita, SELISP cetak Edisi September 2012.

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA