Christian: Pemuda Butuh Dipercaya dan Diberi Ruang

SELISIP.com – “Pemuda zaman sekarang itu lebih percaya pada media dibanding orang tua dan komunitas terdekat mereka. Pemuda semakin sulit menerima doktrin. Mereka cenderung skeptis dan butuh pendekatan emosional serta rasional yang dilakukan secara bertahap baru kita bisa mengajarkan mereka soal nilai-nilai.”

Demikianlah sekilas gambaran pemuda dalam pandangan Dosen Fakultas Teknik Universitas Parahyangan Christian Fredy Naa.

*****

Hari sudah petang, namun masih banyak mahasiswa lalu lalang di depan kami saat sedang menanti penatua pendamping pemuda GKI Cimahi ini di salah satu gedung kampus Universitas Parahyangan.

Tidak sampai sepuluh menit, sesosok pria berperawakan tinggi dengan kacama mata berlensa transition datang menghampiri. Wawancarapun kami mulai di sebuah ruang terbuka ditemani  pepohonan bonsai dan tiupan angin sepoi-sepoi.

Dua tim selisip saling berpandangan setelah mendengar ternyata di tengah-tengah kesibukannya pria kelahiran Bandung, 22 Juli 1986 ini masih sempat menempuh kuliah Doktor di jurusan Fisika ITB dan ULCO Perancis.

“Sekarang ini sulit mencari anak muda yang idealis. Mereka cenderung mudah terbawa arus zaman. Apa yang sedang berkembang di era kekinian itulah yang akan diikuti. Jadi, kalau kita bicara tentang gereja, ada banyak anak-anak muda yang memilih meninggalkan gereja hanya karena dianggap tidak relevan bagi mereka,” paparnya.

Hal ini langsung mengingatkan kita pada isu dalam Persidangan Majelis Sinode Wilayah Jawa Barat yang diselenggarakan bulan lalu, (22/9) di Zuri Resort and Convention, Cipanas. Lantas, apa yang penting kita lakukan untuk merespon tren penurunan pemuda di GKI?

img_20160927_145721Bagi Christian, seorang pemimpin gereja punya tanggung jawab menanam. Lantas apakah nantinya jemaat mau memberi kembali untuk gereja tidak menjadi masalah. Gereja hidup justru dari apa yang diberikan kepada jemaat bukan apa yang didapatkan dari jemaat.

Sehingga, alangkah bijaknya tatkala gereja melakukan pendekatan kepada anak-anak muda dengan meneliti apa yang sebenarnya mereka butuhkan. Gereja harus menyediakan kebutuhan mereka.

“Ada hal sederhana yang bisa dilakukan, misalnya dengan memberikan khotbah yang relevan dengan situasi kekinian pemuda. Kita perlu mengkontekstualisasikan injil untuk menjawab masalah-masalah yang mereka hadapi dalam kehidupannya sehari-hari. Misalnya mereka sulit mengatur waktu antara pelayanan dan sekolah, saya sering kaitkan hal ini dengan Kejadian 1: 5. Di sana dikatakan petang lebih dulu dari pada pagi. Itu artinya, istirahat kita di malam hari akan menentukan keseluruhan kegiatan kita selama satu hari penuh. Saya coba ajarkan agar mereka tetap menjaga pola istirahat mereka agar tidak ada alasan membenturkan pelayanan dengan kewajiban mereka di sekolah.”

Setelah menjawab kebutuhan anak muda, mereka dengan senang hati akan cinta terhadap gerejanya. Alhasil, mereka akan bertumbuh dengan nilai-nilai kristiani yang mengakar sehingga tatkala berada jauh dari gereja, mereka siap menghadapi tantangan apapun yang ada di luar sana.

Hal inilah yang sedang dikerjakan oleh Christian di GKI Cimahi. Ia rindu membangun anak-anak muda agar tetap setia di gereja dan memegang teguh kekristenan dalam kehidupan mereka sehari-hari.

Eksperimen demi eksperimen sudah dilakukan. Ia memulainya dengan pendekatan personal kepada pemuda. Semua ini tidak dimulai dengan doktrin, namun dengan mengajak mereka makan bareng lalu bercerita tentang pengalaman mereka sehari-hari.

Ia terinspirasi dengan cara Yesus mengajar. Ia tidak langsung berceramah. Seringkali pengajaran justru dilakukan setelah makan bersama atau memberi orang-orang makan.

Di GKI Cimahi, anak-anak muda didekati dengan pola membangun komunitas. Sekarang sudah ada satu komunitas pecinta fotografi yang dikenal dengan nama LENSA GKI.

“LENSA GKI ini juga tidak ujug-ujug dibentuk begitu saja. Awalnya kami mulai dengan membuat workshop untuk memberikan kepada mereka pengetahuan tentang fotografi. Dari sana, akhirnya kami menemukan bakat-bakat tersembunyi. Inilah yang saya maksud bahwa gereja harus memberi lebih dulu barulah mereka mau diajak melayani dengan kemampuan yang mereka punya, jelas Christian yang berusaha mengembangkan pemuda selama dua tahun ini.

Harus diakui bahwa menghadapi tren penurunan pemuda di GKI bukan persoalan mudah. Kita tidak bisa melakukan hal yang sama dan mengharapkan hasil yang berbeda. Perlu terobosan dan kemauan untuk berubah.

Kita juga memerlukan tokoh pemuda yang inspiratif di masing-masing gereja lokal yang mau berpikir keras demi pengembangan anak-anak muda. Pendeta dan para majelis harus juga memberikan kepercayaan penuh agar pembaharuan ini dapat berjalan dengan lancar.

“Semua organisasi jika ingin naik, harus mengalami turbulensi. Kita harus siap untuk itu. Sekarang kita sedang naik sedikit demi sedikit. Jadi, berilah anak muda kepercayaan agar bisa membuktikan bahwa sebenarnya mereka juga mampu memberikan yang terbaik,” tutupnya. **jfs

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA