Pengakuan Seorang Transman

“Bahkan sampai ada dosen yang ngomong: ‘Itu bisa nular lewat bantal… lewat kutunya…’”

Nath, mendaftar satu dua asumsi aneh yang kerap disematkan ke kaum LGBT. Ia menceritakan semua itu dengan tawa renyah, seolah tidak menghiraukan beban yang bertahun-tahun menghinggapinya. Sesekali tangan kanannya menyomot makanan. Ia tampak cerita, saat SELISIP menjumpainya Kamis (20/10) di salah satu gerai fast-food di Kota Bandung.

Orang yang kini sudah berani mengaku diri laki-laki itu, memang sempat agak ragu apakah akan menulis identitasnya, atau cukup mendaraskan kisahnya sebagai seorang transman (female to male). Nath akhirnya memilih yang kedua. Ia yakin proses yang bekerja di balik yang pengalamannya jauh lebih indah dari soal pribadinya.

Nath terlahir di keluarga Kristiani yang saleh. Pelayanan di gereja adalah hal yang dari kecil sampai dewasa jadi bagian keseharian Nath. Sangat kental dengan kitab suci, ibadah, ritual dan himne Kristiani, ia belakangan sadar kalau semua itu kadang ia lakukan dengan motivasi untuk jadi baik. Juga kekhawatiran spiritual, takut Tuhan marah atas hal yang aneh yang dialami di tubuh dan jiwanya.

“Keluarga pastinya mendidik, agar berlaku sebagaimana baiknya perempuan. Dipakein rok. Kadang didandanin… Tapi entah kenapa aku justru sering risih sendiri… Aku pengen jadi cowok. Kayaknya itu sudah dari dulu, gak ada yang mengajari… Seolah ada diri yang terperangkap di tubuh yang salah.”

Dengan menekankan berkali-kali bahwa ia lahir dan tumbuh di lingkungan yang baik, Nath ingin menepis anggapan orang bahwa orientasi, identitas dan ekspresi gender yang dianggap ‘tidak lazim’ oleh masyarakat itu semata-mata dikarenakan didikan keluarga yang buruk, korban broken home, atau lingkungan yang salah.

“Aku sering cerita ke teman dekat yang udah tahu: Lah aku kan selama ini gaulnya sama kamu semua. Orang-orang gereja. Berarti kalau LGBT menular, kamu semua LGBT donk,” celotehnya.

Saat gejolak keterasingan antara tubuh dan jiwa itu semakin terasa, transman yang kini tengah berkuliah tersebut, sempat merahasiakannya sekian lama. Lima tahun lebih, ia bahkan memilih menjalani secara diam-diam identitas ganda. Sebagai seorang perempuan baik-baik yang ingin menyenangkan keluarga, sekaligus sesekali tampil sebagai seorang pria yang butuh diterima, punya kekasih perempuan dan berekspresi layaknya pria.

Nath di forum dunia maya, atau kelompok baru yang sama sekali tidak kenal latar belakangnya, berkali-kali mengaku sebagai pria. Bahkan ia sempat menjalin hubungan kasih dengan seorang perempuan.

Tidak capek?

“Capek banget. Sering bahkan stress sendiri. Ada tekanan besar untuk coming out dan jujur sama orang-orang dekat aku. Tapi aku khawatir. Keluarga dan sahabat aku kan kebanyakan orang-orang yang konservatif. Takut mereka shock dan gak terima…”

Ketakutan ini ia yakini juga banyak dialami rekan-rekannya yang transman. Palu godam penghakiman bernar salah seringkali jadi penolakan yang sangat mengkhawatirkan rekan-rekan LGBT. Padahal banyak hal yang terjadi bukan semata kesalahan mereka.

Nath mengaku berkali-kali menangis dalam doanya. Bertanya berulang mengapa Tuhan membuat hal ini terjadi pada dirinya. Tapi belakangan, ia mengaku, nampaknya Tuhan tengah membukakan sesuatu.

“Awal tahun ini, aku akhirnya mengaku di depan Mamaku. Sayang Papa gak sempat dengar, karena keburu dipanggil Tuhan. Reaksi Mama jelas shock… tapi aku terharu sekali saat Mama nerima, dan dia bilang: ‘Maafin kami, kami tahunya kamu lahir dengan alat kelamin cewek, maka kami pun langsung memaksakan semua aturan ini ke kamu…’”

Nath kini menjalani terapi injeksi hormon dengan pengawasan dokter. Ada kemungkinan ia berencana akan menempuh jalur legal pergantian jenis kelamin.

Tapi satu hal yang kini jadi kegembiraan besarnya, pengalaman ini membuatnya mampu untuk mendampingi rekan-rekan transman yang lain. Ia belajar dan sekarang kerap mengkampanyekan konsep Sexual Orientation and Gender Identity (SOGI). Demi mendorong penerimaan diri kaum transman, juga membuat masyarakat lebih memahami spektrum yang lebih luas terkait gender dan orientasi seksual.

“Senang aja, setelah berani mengaku… ada hal yang bisa berguna buat orang lain,” serunya mantap.

 **arms

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA