Anjangsana ke Pintu Gerbang Damai

“Adek-adek jangan takut ya, kita ini pesantren, bukan teroris loh, jadi nggak ada bom disini…,” canda Ustad Fadhullah Said membuka Anjangsana Sekolah di Pondok Pesantren Al Quran Babussalam, Bandung pada Kamis pagi (24/11). Canda itu segera disusul tawa siswa SD dan SMP dari beberapa sekolah.

Hari itu siswa SD Kristen Yahya, SMP BPK Penabur dan SMP Bahtera menjadi tamu. Mereka berkunjung ke pesantren yang secara harafiah bermakna “pintu gerbang damai” itu. Sementara siswa SD dan SMP Babussalam menjadi rekan yang menerima mereka.

Acara ini merupakan bagian dari rangkaian Bandung Lautan Damai (BALAD) 2016 merayakan Hari Toleransi Internasional. Anjangsana Sekolah memang dirancang untuk mengajak siswa-siswi dari sekolah dengan latar yang berbeda agar bertemu dalam perjumpaan. Diharapkan sedari dini siswa-siswi ini memperoleh pengalaman keberagaman.

Delapan puluh siswa SD dan empat puluh dua siswa SMP itupun kemudian berbaur, untuk mengalami sendiri bermain dan bercengkrama dengan rekannya yang berbeda. Di tingkat SD, anak-anak ini kemudian membuat karya bersama berupa lukisan wajah rekan mereka yang berbeda. Sementara siswa SMP bermain kartu remi keberagaman, yang mengajak mereka mengenal tokoh-tokoh keberagaman di Indonesia seperti Gus Dur, Rm. Mangun, Pdt. Eka Darmaputera dan banyak yang lain.

anjangsana-5

Ada keindahan tak terlukis kata saat melihat bagaimana anak-anak yang mulanya masih canggung karena belum begitu kenal, akhirnya larut dalam kegembiraan permainan. Mereka akhirnya bertepuk tangan karena kelompoknya menang, juga begitu senang setelah memandang karya mereka bersama dipajang. Jabat erat, canda, pelukan, bahkan kejahilan kecil khas anak-anak akhirnya mengalir dengan begitu bebas, seolah mereka telah berteman lama.

Nael, salah seorang siswa SMP BPK Penabur mengaku awalnya dia bingung. Ini kali pertama ia mendatangi pesantren. Tapi di kelompoknya ia langsung merasa diterima, hingga bisa berinteraksi dengan bebas dengan rekan-rekannya yang Muslim. Sementara Siti, siswi SMP Bahtera mengaku acara seperti ini sangat seru. Ia berharap sekolahnya pun nanti bisa jadi tuan rumah acara Anjangsana mengundang sekolah-sekolah dengan latar agama lain.

Acara berdurasi tiga jam itu memang singkat. Tapi, ada pengalaman berbeda yang dirasakan oleh siswa-siswi yang di keseharian sekolah sering kali hanya berinteraksi dengan rekan seagama saja. Pengalaman yang membuat mereka bisa lebih terbuka dan melepas prasangka.

Namun, bisa jadi anak-anak itu justru mengajari kita yang lebih tua secara usia. Bahwa dialog dalam persahabatan bukanlah barang yang sulit. Hanya perlu ketulusan dan keterbukaan seperti yang telah mereka contohkan baru dalam tiga jam…. **arms

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA