GKI Cimahi Berkembang dalam Transisi

Kota itu kecil, tak sampai 50 kilometer persegi. Namun, ledakan jumlah manusia nampaknya belum akan berhenti. Tahun 1990-an penduduknya tak sampai dua ratus ribu, tapi sekarang hampir menyentuh angka enam ratus ribu. Itulah Kota Cimahi.

Bergereja di tengah perubahan yang sedemikian dinamis, tentu menjadi tantangan tersendiri. GKI Cimahi mengalaminya. Gereja yang awalnya hanya beranggotakan belasan kepala keluarga, dalam rentang enam puluh lima tahun, kini membesar menjadi gereja dengan jumlah jemaat hampir 2.000 orang.

Penambahan itu tidak terjadi secara bertahap. Empat puluh tahun gereja ini hanya mengalami pertumbuhan alami. Era 1990-an sampai awal 2000-an adalah penambahan terbesar. Kebanyakan disumbang oleh semakin banyaknya pekerja industri serta keluarga muda yang bermukim di kota ini. Gejala yang lazim di hampir semua daerah penyokong kota besar.

Pdt. Ujang Tanusaputra, salah satu pendeta di jemaat ini, menekankan pentingnya kolaborasi antara gaya pelayanan yang klasik yang membuat gereja ini bertahan sejak dulu, dengan inovasi pelayanan yang bisa mengantisipasi perubahan.

“Kita harus merangkul semuanya. Yang lama jangan ditinggalkan, apalagi dengan cara arogan yang bisa menimbulkan sakit hati. Tapi, kita tidak boleh lalai dalam membaca kemana potensi masyarakat dan jemaat ini berkembang,” papar pendeta yang kini menginjak usia lima puluh enam tahun ini.

Perubahan memang perlu diterima. Jumlah jemaat yang semakin besar, serta aktivitas perkotaan yang semakin sibuk memang akan merenggangkan hubungan. Gaya kekeluargaan yang bertahan sekian lama, dimana warga jemaat guyub mengerjakan semua kegiatan gereja bersama-sama, tentu sulit untuk selalu dilakukan.

“Ya, kalau dulu mungkin bisa saja, misalnya ada warga jemaat yang wafat, semua jemaat langsung kunjungan penghiburan kesana. Lalu gereja mau ada event apa, semua warga langsung ikut. Tentu saja sekarang itu hampir mustahil dilakukan. Harus ditanamkan pengertian, bahwa kita satu tubuh, dengan banyak fungsi. Mengerjakan panggilan yang berbeda, bukan berarti tidak peduli. Tapi hal itu menyatu dengan panggilan kita bersama, sebagai satu gereja,” tambah Pdt. Ujang.

Dalam antisipasi terhadap perubahan yang kian dinamis, gereja yang beralamat di Jalan Pacinan 32 ini, semakin menyadari pentingnya regenerasi dan pemberdayaan kaum muda. Demikian pula kesinambungannya dengan apa yang dilakukan oleh jemaat secara keseluruhan.

Apa yang diungkap oleh penatua pendamping pemuda, Christian, terkait pelayanan pemuda dan remaja memang amat dirasakan di GKI Cimahi [Lihat: pemuda butuh dipercaya dan diberi ruang]. Saat ini kaum muda Cimahi tengah berbenah, menyisir celah lintas generasi, demi masa depan jemaat.

pdt-ujang

Bagaimana membuatnya sinergis dengan kehidupan jemaat secara umum? Pdt. Ujang mengakui adanya celah generasi antara kaum muda dengan jemaat dewasa. Namun, hal itu harus segera diatasi demi membantu pelayanan yang di masa datang akan dikerjakan generasi penerus.

“Kami tengah berupaya membantu agar fasilitas pelayanan di masa mendatang, semisal lahan dan sejumlah ruangan bisa tersedia. Juga, agar kolaborasi dengan sejumlah badan pelayanan, seperti Sekolah BPK Penabur Cimahi, bisa semakin sinergis. Kami pun tengah merintis tiga bulan sekali kebaktian untuk aktivis gereja. Agar semakin menyatukan hati para pengerja gereja. Agar yang muda dan yang tua bisa urun rembuk, selain dalam rapat juga dalam ibadah,” jelasnya.

Tentu saja masih terlalu dini menilai keberhasilan langkah antisipasi yang dilakukan GKI Cimahi. Yang jelas, sebagai gereja yang tengah menghadapi transisi karena dinamika perkotaan, GKI Cimahi bisa dijadikan kajian reflektif bagi jemaat serupa di tempat lain. Bagaimana bertumbuh di tengah situasi yang demikian. Mungkin ada yang perlu diteladani, sebagaimana pula ada yang perlu terus dievaluasi.

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA