Mr. Soenario Diselingi Brass

Barangkali tak ada kaitan langsung antara sosok Mr. Soenario Sastrowardoyo dengan alat musik tiup. Tapi Rabu (23/11) di Museum Konperensi Asia Afrika, Bandung, anak-anak muda ternyata bisa saja mempertemukannya.

Grup musik tiup Brass-A Band yang digawangi pemuda-pemudi GKI Guntur, GKI Kebonjati dan GII Gardujati ini tampil bersama sejumlah komunitas seni lainnya menyelingi Tadarusan Tokoh Mr. Soenario. Tiupan tim Brass-A Band, geretan grup karinding, gesekan biola, petikan gitar, gerak pantomim dan kekuatan puisi, semuanya berpadu rancak dengan refleksi kiprah dan pemikiran menteri luar negeri Indonesia era 1950-an itu.

Acara Tadarusan Tokoh ini digelar sebagai bagian dari rangkaian Bandung Lautan Damai (BALAD) 2016 merayakan Hari Toleransi Internasional. Sekitar delapan puluhan peserta dari beragam komunitas di Bandung, antusias mengikuti jalannya diskusi.

Sosok Mr. Soenario diangkat mengingat pandangannya akan kesatuan bangsa yang dengan berbesar hati menerima perbedaan serta mengedepankan persatuan. Para narasumber yang berasal dari beragam komunitas, kemudian mengaitkannya dengan kondisi terkini toleransi di Indonesia. Tema: Mengurai Akar Kekerasan dan Meneber Perdamaian, dijadikan tajuk Tadarusan Tokoh ini.

Bikkhu Sudasila dari Vihara Vipassana Graha, mengingatkan agar pelajaran dari sejarah tidak dilupakan. Melihat kondisi bangsa yang kini punya bibit perpecahan, semisal kasus penyerangan gereja, diseretnya isu agama ke dalam politik, serta ujaran kebencian di dunia maya, Sang Bhikku mengajak umat beragama agar mengambil refleksi dan mengevaluasi kembali cara beragamanya.

tadarus-4

Sementara Wim Tohari Daniealdi, dosen di Universitas Pasundan, menegaskan bahwa toleransi, keberagaman dan keterbukaan adalah semesta kehidupan orang Indonesia. Baginya sosok Mr. Soenario adalah jenius yang mengenali kekuatan persatuan di masa yang terbilang dini. Kiprah beliau di Perhimpunan Indonesia dan Sumpah Pemuda menunjukkan kejeniusan tersebut.

Lebih lanjut, idenya tentang kekeluargaan bangsa-bangsa bukan sekedar aliansi politik juga mendahului zaman, saat dunia masih terporos dalam blok-blok militer-politik.

Empat narasumber lain Desmond Satria (Pengelola Komunitas Museum Konperensi Asia Afrika), Wawan Gunawan (Jaringan Kerja Antar Umat Beragama), Mohammad Miqdad (Institut Titian Perdamian) dan Yohanes Slamet (Fakultas Filsafat Universitas Katolik Parahyangan) menggenapi diskusi yang berlangsung lebih dari dua jam itu. Semuanya sepakat bahwa dalam kondisi terkini perlu sikap reflektif dan belajar dari para pendiri bangsa ini tentang persatuan.

Selepas diskusi acara dilanjutkan dengan tampilan seni di selasar Gedung Merdeka yang letaknya tak jauh dari ruang diskusi. Masih dengan sejumlah tampilan seni, anak-anak muda Bandung ini juga menampilkan tokoh-tokoh keberagaman Indonesia dalam display roller-banner, tampilan yang banyak menarik perhatian orang yang berlalu lalang di sekitar gedung tersebut.

Bagi kami, ini adalah salah satu bentuk kreatif melakukan kampanye publik akan isu keberagaman,” ungkap Dian salah satu panitia acara Tadarusan Tokoh ini. “Tentu saja mencampur ide-ide bernas sejarah dengan tampilan seni perlu kreativitas tersendiri. Apalagi dengan mengandalkan kesukarelaan,” tambahnya.

Kreativitas dan semangat kesukarelaan itu kiranya boleh semakin meluas menginspirasi banyak tempat lain. **arms

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA