Kala Banjir Mampir ke Ibukota

Jakarta tempo dulu hanyalah pemukiman kecil dengan aktivitas yang terbatas. Pembangunannya baru semakin gencar setelah dinyatakan sebagai Ibukota Republik Indonesia. Sejak saat itu pusat perekonomian dan pembangunan difokuskan di ibukota.

Perkembangannya yang kian cepat dari tahun ke tahun ternyata berbanding lurus dengan permasalahan yang kian kompleks. Sekilas permasalahan itu terlihat seperti warisan yang tak kunjung habis.

Salah satu permasalahan yang menguras emosi di Jakarta adalah banjir. Bagi warga ibukota, disambangi banjir setiap kali hujan sudah hal yang biasa. Bahkan membersihkan rumah saat banjir surut masuk dalam deretan list aktivitas rutin mereka setiap tahunnya. Ada banyak penyebab mengapa permasalahan banjir ini tak kunjung usai.

Sejak tahun 1600, Jakarta yang kala itu masih disebut Batavia sudah sering mengalami banjir karena berada di dataran rendah. Melihat kondisi Jakarta saat ini dipenuhi gedung pencakar langit dan penduduk yang semakin padat tak heran membuat risiko akan terjadinya banjir kian tinggi.

2

Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral dalam penelitiannya menyebutkan bahwa permukaan tanah di Jakarta turun 5 cm tiap tahunnya dikarenakan penyedotan air tanah dalam kapasitas yang sangat besar serta ketidakmampuan untuk menahan berat beban bangunan diatasnya.

Sungai disekitar pun kian dangkal dan menyempit sehingga tidak mampu menampung debit air yang meningkat kala hujan turun. Bangunan liar disekitar sungai dan sampah yang dibuang sembarangan memperparah keadaan ibukota.

Tahun 2007 lalu dicatat sebagai salah satu banjir terbesar di Jakarta, kala itu Jakarta lumpuh total dalam 4 hari. Banjir telah menelan 80 korban jiwa akibat terseret arus dan tersengat aliran listrik. Lebih dari 320.000 jiwa harus mengungsi dan perekonomian terhenti. Sekolah diliburkan dan aktivitas bandara pun turut terganggu. Kerugian saat itu dihitung memasuki angka Rp 4 triliun lebih.

Di tengah kesesakan itu, Tim PPSM GKI dengan nama Gerakan Kemanusiaan Indonesia bersama relawan lain turut hadir untuk membantu warga Jakarta. Berbagai upaya dilakukan untuk meminimalisir jumlah korban. Pada tanggal 3 Februari GKI menyisir ke pemukiman penduduk dan menjemput warga menggunakan perahu karet untuk dibawa ke tempat pengungsian.

Setiap pukul 11.30 WIB setiap harinya, tim GKI turun menyusuri jalanan untuk membagikan 3.000 nasi bungkus. Pinggiran rel kereta dan kolong jembatan pun masuk dalam jangkauan para relawan.

Relawan GKI turut membantu warga dengan mendirikan pos kesehatan dibeberapa titik diantaranya Kedoya barat dengan total 750 pasien, Rel K.A Duku Atas dan Kebon Pala dengan jumlah 350 pasien. Pelayanan kesehatan ini dibantu oleh tim medis yang sigap memeriksa kondisi pasien dan memberikan obat-obatan yang diperlukan.

Selain memberikan bantuan jasmani, GKI datang untuk membangkitkan kembali semangat para korban. Turun langsung ke pemukiman warga, menjadi pendengar yang setia dan bertukar canda cukup ampuh mengobati kepiluan hati mereka. Tak lupa, anak-anak korban banjir diajak bermain dan diberikan hiburan oleh tim.

Bagi anak-anak di Jakarta, banjir mungkin sudah menjadi bagian dari keseharian mereka, tapi tetap saja mereka tak boleh kehilangan masa bahagia untuk bermain dan tertawa disaat seperti itu.

Kehadiran GKI dan relawan lainnya memang tak banyak membantu korban tapi harapannya apa yang mereka perbuat mampu membantu warga untuk semangat menata hidup lagi sehingga saat masa itu terlewati warga Jakarta bisa turut membantu pemerintah untuk bahu membahu mengatasi berbagai persoalan ditengah sesaknya ibukota. **yst

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA