Cerita Dua Perempuan Kristiani di Sosial Politik

Dua perempuan Kristiani itu sama-sama punya aktivitas di bidang politik, juga aktif menggeluti permasalahan sosial-kemasyarakatan. Keduanya bekerja sebagai tenaga ahli anggota DPR-RI, meski fraksinya berbeda. Di kegiatan lain, yang satu aktif sebagai penyiar di radio serta turut menggeluti isu lintas agama, sementara yang satu lagi menggeluti pemberdayaan ekonomi lewat usaha kreatif di bidang fashion nusantara.

Kami sengaja memilih berdiskusi dengan Luciana Dita dan Martine Dian terkait peran perempuan Kristiani di bidang yang bersentuhan langsung dengan masyarakat. Bidang yang selama ini mungkin sedikit sekali diisi perempuan Kristen. Kali ini, kami memang lebih ingin mendengar dari orang yang ada di lapangan, ketimbang mereka yang banyak aktif di mimbar gereja maupun kajian akademis.

Harus diakui, peran perempuan dalam ruang publik yang dominan laki-laki, seperti di politik praktis maupun isu-isu sosial, memang kerap menjumpai tantangan tersendiri.

Luciana yang akrab disapa Lulu, menceritakan saat ia berkali-berkali turun menjumpai masyarakat, ada semacam kecakapan yang harus ia buktikan terlebih dahulu dikarenakan posisinya sebagai perempuan. Umumnya masyarakat dan mitra-mitranya cenderung memandang perempuan kurang cakap untuk terjun di dunia politik.

Padahal politisi perempuan itu sering punya bahasa persuasi masyarakat yang lebih efektif dari laki-laki. Ini bisa mengisi dan memperkaya praktik politik di bangsa kita,” ujar lulusan Ilmu Komunikasi Universitas Atma Jaya ini. “Sayangnya selama ini hal tersebut kurang dimanfaatkan dengan baik, karena politisi perempuan seringkali dianggap hanya sekedar memenuhi kuota keterwakilan gender, ya itu tadi…, sering langsung dipandang sebelah mata.

Lebih luas lagi, pendiri label fashion Ken Dedes Ethnic ini menilai perempuan Indonesia sebenarnya punya potensi besar untuk mandiri dan berkarya dalam skala yang lebih besar. Apa yang ia alami saat membantu pemberdayaan ekonomi usaha kecil menengah lewat bisnis fashion adalah contohnya.

Sebagian besar pelaku usaha kecil menengah kita adalah kaum perempuan. Mereka sering mengalami keterbatasan karena tuntutan kebutuhan dan hambatan akibat sejumlah pandangan di masyarakat. Tapi begitu hal tersebut bisa diatasi, mereka ternyata bisa demikian kreatif dan menghasilkan produk berkualitas tinggi,” imbuh Lulu penuh semangat.

Perempuan yang tampil dalam ruang sosial-politik, nampaknya memang perlu mengembangkan keberanian. Martine Dian menegaskan, sebagai upaya perintis (meski terkadang sulit), perempuan perlu aktif membuka kesempatan untuk pengembangan diri. Tidak melulu berharap diberi kemudahan.

Kedua perempuan muda ini menyoroti kadang kala isu kesetaraan gender juga perlu dihadapi dengan kecakapan yang tertampil nyata dari perempuan. Tidak melulu karena mengeluh dan menuntut keadilan serta perlakuan yang sama dari masyarakat.

Politisi perempuan di Indonesia, kalau hanya menuntut isu kesetaraan gender, tentu tidak akan sampai pada praktik politik yang asli. Ia hanya jadi pelengkap,” aku Lulu.

Lantas bagaimana mereka menilai kiprah perempuan Kristiani?

Martine sebagai orang yang cukup aktif di kegiatan gerejawi cenderung mengakui bahwa gereja memang belum sepenuhnya mendorong perempuan Kristiani untuk terlibat dalam dunia sosial-politik.

Tapi ini bukan melulu soal ketidaksetaraan gender. Kita punya banyak pendeta perempuan juga perempuan yang memegang jabatan di lembaga pelayanan. Ketua Umum PGI sekarang bahkan seorang perempuan. Ini lebih karena gereja memang kurang memberi penyadaran untuk menggeluti isu kebangsaan, jadi ya baik laki-laki maupun perempuan Kristen seringkali abai akan permasalahan ini,” papat Martine yang merupakan majelis jemaat GKI Wahid Hasyim ini.

Hal senada juga dirasakan Lulu. Perempuan yang aktif dalam kepengurusan Orang Muda Katolik (OMK) Paroki Katedral Jakarta ini menilai ekskusivitas dan pengabaian karena merasa diri minoritas sering jadi penghambat, tidak hanya perempuan, tapi juga seluruh umat Kristiani, untuk berkarya bagi masyarakat umum.

Kedua perempuan ini pun mengakui gereja kini telah cukup membuka diri dalam membangun kesadaran untuk mencintai dan berkarya bagi bangsa. Namun sejauh yang dialami, mereka merasa lebih banyak dibentuk oleh keluarga dan lingkungan, ketimbang oleh gereja. Harapan mereka tentu saja ke depannya upaya penyadaran gereja bisa menyentuh umatnya lebih dalam lagi.

Optimisme mereka untuk kaum muda Kristiani sangat besar. Lulu mengaku sangat antusias saat terlibat dalam acara temu pemuda yang digagas KWI. Acara itu menyoroti tema lintas iman, bidang yang kini juga jadi bagian pelayanannya di OMK parokinya. Program seperti itu dinilainya berpotensi besar untuk memberikan edukasi pada kaum muda Katolik akan perannya bagi bangsa.

Sementara Martine pun merasakan hal sama saat melihat kepedulian gereja untuk lebih menjangkau kaum muda. Tema-tema kebangsaan, lintas iman dan kebhinekaan kini jadi hal yang juga bisa ia tularkan pada generasi muda dalam lingkup warga jemaat tempat ia bergereja.

Apa yang mereka kisahkan mungkin berbeda, namun melengkapi, seruan teoritis maupun teologis terkait kesetaraan gender.

Mereka menilai praktik ketidaksetaraan gender bukanlah melulu soal mengeluhkan pola pikir, tapi soal keberanian bergelut di banyak bidang kehidupan dan ruang publik. Lantas menampilkan kecakapan. Sampai pola pikir yang tidak setara itu tidak sekedar dikritisi oleh seruan, tapi diubah oleh teladan nyata. **arms

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA