Martine Dian Katanya Bukan Dibentuk Gereja

Kesempatan seperti Kak Tine, terbilang jarang ya untuk seorang perempuan Kristiani?

SELISIP menanyakan hal itu pada Martine Dian, mengingat aktivitasnya yang terbilang jarang dirambah oleh umat Kristen di Indonesia. Selain sebagai seorang penyiar dan host acara radio di RPK dan GKI-YKB, yang kerap membahas persoalan bangsa terkini, Tine juga aktif dalam sejumlah kegiatan sosial-kemasyarakatan. Ia pun kini menjadi salah satu tenaga ahli anggota DPR-RI di Komisi VI, komisi yang bermitra dengan pemerintah dalam urusan industri, investasi dan persaingan usaha.

Tapi, Tine nampaknya tidak memandang kesempatan itu langka. Baginya perempuan justru perlu aktif mencari peluang demi mengembangkan kapasitas dirinya. Tidak melulu terkotak pada kerja hanya demi memenuhi kebutuhan ekonomi sendiri dan keluarga.

Kurangnya tokoh-tokoh perempuan Kristiani yang berbicara mengenai persoalan bangsa, baginya bukanlah sekedar permasalahan gereja tidak menjunjung kesetaraan gender. Lebih jauh, perempuan yang juga majelis jemaat di GKI Wahid Hasyim ini mengkritisi kelemahan pola pikir pietis yang masih kental di jemaat Kristen di Indonesia.

Ya, laki-lakinya pun tidak banyak mengurus permasalahan demikian. Saya sering diminta mencari narasumber tokoh-tokoh Kristen untuk berbicara mengenai persoalan lintas agama, ekonomi, sosial-politik atau permasalahan kemanusiaan. Seringnya nama yang muncul itu-itu saja. Di GKI misalnya, urusan kebangsaan seperti itu dikasihnya ke Pak Patty lagi, Pak Patty lagi…,” keluhnya sembari tertawa.

Sebagai orang yang dididik dalam lingkungan masyarakat lumayan terbuka, Tine meyakini banyak hal dari sekitarnya yang membuat dia mau memberi perhatian pada persoalan bangsa. Pernah mengenyam pendidikan di sekolah Kristen, lalu di sekolah negeri dan kampus umum, Tine merefleksikan bahwa hal itulah yang membentuknya concern memperhatikan permasalahan kemajemukan bangsa Indonesia. Keterlibatannya dalam Sekolah Pengelolaan Keberagaman CRCS-UGM, serta keadaan saat ini yang dinilainya banyak menciderai kebhinekaan, semakin membuatnya mantap menggeluti isu pluralisme tersebut.

Lantas apakah gereja tidak membentuk dan mempersiapkannya untuk menggumuli permasalahan penting seperti itu?

Ya, bisa dibilang tidak sih…

Lulusan Universitas Sahid, Jakarta ini tertawa saat memberi jawaban tersebut. Ia harus mengakui gereja Indonesia pada umumnya kurang membekali dan mendorong warga jemaatnya untuk terlibat dalam permasalahan kebangsaan.

Baginya gereja memang tidak menghalangi warganya aktif dalam kegiatan sosial-politik kemasyarakatan. Juga membekali secara spiritual agar kita tidak membenci umat lain yang berbeda. Tapi, Tine menilai jemaat Kristiani perlu lebih terlibat lalu berkolaborasi dari banyak bidang yang menjadi permasalahan di bangsa ini.

Butuh lebih banyak pencerahan lewat mimbar kita. Bahwa permasalahan kebangsaan adalah panggilan untuk jemaat kita. Apalagi bagi kita yang menyandang nama Gereja Kristen Indonesia. Juga perlu peningkatan minat baca juga. Ini memang budaya yang perlu terus digalakkan. Agar kita bisa menangkap dan beroleh wawasan pentingnya menggumuli permasalahan itu. Setelah karya mulai ada, perlu bersama-sama berkolaborasi, tidak hanya maju sendiri,” paparnya.

Meski cukup banyak mengkritisi kondisi jemaat dan kepedulian para rohaniwan Kristen, Tine bukanlah tipe orang yang pesimis. Ia mengaku sangat yakin ke depannya generasi muda Kristiani bisa berkolaborasi lebih baik dalam menggumuli permasalahan bangsa dan memajukan gereja.

Itu optimis karena kita mesti beriman dan berpengharapan atau rasional karena Kak Tine memang melihat kemajuan ke arah sana?” Canda SELISIP menelisik optimisme Tine.

Di ujung telepon, perempuan yang berulang tahun tanggal 7 Maret itu tertawa kecil.

Ya, dua-duanya lah. Saya lihat dari yang kecil-kecil saja, di jemaat kami GKI Wahid Hasyim yang terbilang kecil. Kemajuan pola pikir untuk peduli pada masyarakat juga sudah semakin banyak tumbuh kok. Di kalangan majelis, kami pun mulai melihat bagaimana lewat profesi masing-masing, kita bisa menghargai panggilan dan memikirkan kemungkinan kolaborasi. Anak-anak muda juga sudah ada beberapa yang aktif untuk kegiatan sosial,” urainya di penghujung wawancara telepon kami pada Minggu malam (15/1).

Di balik penjelasannya, tersimpul harapan besar agar generasi ke depan semakin serius menggeluti permasalahan kebangsaan. Sembari tergambar pula ketekunannya selama ini, untuk menggumuli hal tersebut di keseharian, meski kecil dan bertahap. **arms

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA