Menyambangi Kelud yang Tidak Biasa

Meski dikenal sebagai salah satu gunung tercebol di Pulau Jawa (tidak sampai 2000 mdpl), Gunung Kelud bisa jadi yang paling ganas. Amat banyak catatan letusan dahsyat yang ditorehkan gunung yang ada di perbatasan Kabupaten Blitar dan Kediri ini.

Sejak 1300 M, gunung ini tercatat meletus dalam jangka waktu yang relatif pendek, 9-25 tahun. Hampir semuanya sangat eksplosif, memakan korban jiwa ribuan orang. Letusannya sering dikaitkan dengan banyak peristiwa penting di masyarakat Jawa, sejak era Ken Arok hingga Kerajaan Majapahit.

Tahun 1926, selepas letusan besar 1919 yang menghancurkan banyak rumah penduduk dan merenggut nyawa lima ribuan orang, pemerintah kolonial Belanda sempat membangun sebuah sistem terowongan penyaluran lahar, yang dalam beberapa kali bencana letusan lumayan meminimalisasi korban dan kerusakan rumah.

Walhasil, meski pernah mengalami erupsi kembali pada 1951, 1966 dan 1990, banjir lahar dingin yang biasanya merusak banyak tempat, sudah berkurang daya rusaknya. Tentu saja, di tiap erupsi tersebut, terowongan lahar tertimbun dan rusak sehingga perlu diperbaiki lagi.

Akan tetapi, yang terjadi pada 2007 adalah penyimpangan. Kelud tidak meletus keras, tapi bererupsi perlahan. Aktivitas gunung ini meningkat sejak akhir September 2007 dan masih berlanjut hingga akhir Nopember di tahun yang sama.

Adanya pertumbuhan kubah, yang akhirnya menyumbat danau kawah Kelud, diduga menjadi penyebab mengapa letusan itu tidak seekplosif sebelumnya. Praktis selama dua bulan, status Kelud naik turun dari aktif normal, waspada, siaga, bahkan sampai awas, yang pernah dikeluarkan pada pertengah Oktober.

Kondisi yang demikian tentu membuat risau banyak penduduk yang mayoritas petani. Saat pertama kali dikabarkan ada aktivitas vulkanik di Kelud, beberapa penduduk masih bertahan. Namun kenaikan tiba-tiba ke status ‘awas’ pada pertengah Oktober, membuat penduduk dalam radius 10 kilometer dari gunung (sekitar 135.000 jiwa) buru-buru beranjak. Menyebar tak tentu ke banyak wilayah sekitar lereng gunung.

Tim relawan Gerakan Kemanusiaan Indonesia (GKI) sempat menjenguk beberapa tempat pengungsian di masa-masa status awas tersebut. Tim GKI menemui sejumlah pengungsi yang hanya membawa sedikit barang. Tak sempat mengemas terlalu banyak, mereka kebanyakan khawatir Kelud meletus dengan cepat dan dahsyat.

Meski demikian, ada saja sedikit penduduk – yang entah karena tidak mendapat info atau khawatir atas kepunyaan mereka – masih belum keluar dari pemukiman mereka. Umumnya itu ada di radius 8-10 km.

Tim GKI yang bekerjasama dengan GKI Kediri, GKJW serta sejumlah organisasi lain turut membantu pendataan pengungsi yang belum terjangkau, serta menyiapkan beberapa tempat pengungsian baru. Bantuan yang banyak diperoleh dari jemaat GKI se-Indonesia disalurkan di sejumlah pos pengungsian baru itu. Trauma healing untuk anak-anak juga menjadi kegiatan yang di lakukan di pos pengungsian.

Kelud di 2007 akhirnya memang tidak meletus dengan keras. Bahkan danau kawah yang ada, tertutup kubah baru yang menahan letusan. Penduduk dapat kembali ke rumah dan lahan pertaniannya, meski masih harus selalu waspada untuk kemungkinan letusan di waktu lain.

Bagi Tim GKI, waktu tak sampai sebulan yang dibagi bersama warga lereng Kelud adalah pelajaran berharga, tentang ketabahan dan kesabaran. Mengingatkan kita semua betapa kita rapuh dan amat tergantung pada alam, serta sekaligus Sang Penguasa Alam. **arms

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA