Perempuan Bijak Tak Bernama

Israel masih digoncang gejolak. Sehabis pemberontakan besar oleh Absalom, kerajaan belum stabil. Masih ada kelompok-kelompok separatis seperti Seba bin Bikri yang jadi batu sandungan (2 Samuel 20). Raja Daud mencoba memantapkan posisinya dengan sejumlah operasi militer. Ia menugaskan Amasa untuk mengerahkan Kaum Yehuda menangkap sang pemberontak.

Kekhawatiran utama Daud adalah jangan sampai Seba bin Bikri dan orang-orangnya bisa mencapai salah satu kota berkubu, yaitu kota-kota yang ditetapkan oleh leluhur Israel untuk jadi wadah perlindungan bagi siapapun warga yang terancam pembalasan hukuman mati (Bilangan 35:12). Daud tidak ingin tradisi baik ini dijadikan Seba sebagai sarana menggalang kekuatan pemberontakan baru.

Tapi Amasa nampaknya kurang cekatan dalam tugasnya. Entah dia bersimpati pada Seba atau mungkin karena sebab lain, operasi militer itu tertunda sekian lama. Daud pun menyuruh Abisai, adik Panglima Yoab untuk mengambil alih operasi.

Panglima Yoab yang terkenal temperamental melakukan manuver. Ia menganggap penunjukkan adiknya, sebagai kesempatan untuk membereskan operasi itu dengan cepat. Yoab membunuh Amasa. Ia juga mengerahkan banyak suku Israel. Ia bahkan menggunakan momen operasi itu untuk menaikkan reputasinya sebagai panglima perang Daud.

Sayangnya Seba dan kaum Bikri sudah sampai di Abel Bet-Maakha, salah satu kota berkubu kecil milik Suku Dan. Yoab amat kesal. Pengejarannya yang telah menyisir kota-kota Israel nampaknya akan berakhir sia-sia. Ia dan pasukannya memilih untuk melanggar tradisi Israel. Mereka mengepung Abel Bet Maakha. Menemboki kota itu sehingga tak ada satu pun penduduk yang bisa keluar.

Sampai disini semua ceritanya adalah para lelaki yang gemar perang. Mereka bahkan rela mengorbankan orang yang belum tentu bersalah. Mereka bahkan rela melanggar hukum demi ambisi yang digerakkan kebencian.

**
Tapi dari dalam kota kecil muncul perempuan bijak. Ia berani menjumpai Yoab dan berbicara atas nama rakyat Abel Bet Maakha. Negosiasinya berbuah solusi yang efektif. Kota Abel tidak jadi dimusnahkan, penduduk kota pun menyerahkan kepala Seba bin Bikri. Masalah kemanusiaan itu beres tanpa harus menumpahkan banyak darah orang tak bersalah.

Siapa perempuan bijak itu? Alkitab tidak menyebut namanya. Literatur kekristenan pun tidak terlalu banyak membahasnya. Meski Talmud amat memuji keberanian sang perempuan, bahkan mengatribusinya dengan gelar syelomai emuni (pencari kedamaian umat beriman), namun cerita ini kerap tenggelam diantara banyak narasi para lelaki pejuang dalam kronik raja-raja Israel.

Nampaknya Raja Salomo menyadari kecenderungan kita untuk mengabaikan peran si perempuan. Ia menulis dalam Kitab Pengkhotbah: dengan hikmatnya ia menyelamatkan kota itu, tetapi tidak ada orang yang mengingat orang yang miskin itu (Pengkhotbah 9:15).

Perempuan bijak itu adalah sebuah cerita yang menggambarkan hikmat dalam wajah yang lebih lembut (Ibrani, hokmah, Yunani sophia) hadir dengan sederhana, namun berfaedah besar bagi banyak orang. Meski demikian, sering diabaikan. Hal yang seringkali terjadi pada sekian banyak perempuan-perempuan sederhana di negeri kita. **arms

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA

One thought on “Perempuan Bijak Tak Bernama

Comments are closed.