Saat Priangan Timur Bergetar

Sore itu di sekitar Tasikmalaya, langit cerah sedikit berawan. Belum sebulan sejak bencana gempa bumi di wilayah Sumatera Barat, yang di Kota Padang sampai merusak ekskalator satu pusat perbelanjaan. Di obrolan masyarakat masih menyebar semacam ‘kajian’ lepas, bahwa lempeng tanah belum stabil. Masih mungkin terjadi gempa di beberapa tempat lain.

Desas-desus yang demikian memang agak meresahkan. Terutama bagi mereka yang tinggal di Pantai Selatan Jawa Barat. Bayangan kelam tsunami tahun 2006 yang meluluh-lantakkan daerah sekitar Pangandaran masih belum lepas dari ingatan warga.

Sebenarnya yang dimaksud pembicaraan kaum awam itu adalah kemungkinan lempeng Indo-Australia dan Eurasia masih akan bertumbukan di beberapa wilayah dekat Indonesia. Sayangnya, hal itu memang terjadi…

Rabu, 2 September 2009, menjelang sore, terjadi gempa dengan kekuatan 7,3 Skala Richter, 142 km sebelah barat daya Tasikmalaya. Getarannya bahkan dirasakan sampai ke Pulau Bali. Masih ada gempa susulan lebih kecil (4,9 SR) di sore yang sama.

Meski tidak menimbulkan tsunami besar, dampak gempa cukup parah. Ada setidaknya 79 korban tewas. Belasan rumah di Cianjur tertimbun longsoran tanah yang terpicu gempa. Lebih dari itu, trauma mendalam semakin menghinggapi warga.

Untungnya masyarakat sudah lebih terkonsolidasi dalam upaya penanggulangan. Waktu Tim Gerakan Kemanusiaan Indonesia (GKI) terlibat dalam penanganan gempa ini, koordinasi sudah berjalan lancar. Sejumlah elemen semisal Organisasi Pelajar dan Perempuan NU (IPNU dan Fatayat), Ormas OI (Orang Indonesia), Brigade Yon Infantri 13, dijadikan mitra bersama GKI setempat.

Relawan GKI datang ke sepuluh desa yang tersebar di Kota Tasikmalaya, Kabupaten Tasikmalaya, Kota Banjar, Kabupaten Ciamis dan Kabupaten Garut. Ada shelter yang didirikan di masing-masing desa, dengan konsentrasi bantuan berupa bahan makanan, obat-obatan dan genset.

tasik-2

Shelter-shelter yang dibangun umumnya amat sederhana. Hanya berupa tenda plastik. Mengingat beberapa warga sebenarnya masih agak takut untuk ada dalam ruangan. Ruang di sekitar Masjid NU dan rumah milik pegiat OI jadi ruang yang dipakai untuk menyimpan bahan-bahan bantuan. Tim GKI juga terlibat dalam pengadaan dapur umum bersama Brigade Yonif 13.

Sungguh pengalaman yang luar biasa melihat orang dari berbagai latar belakang, dalam waktu yang hanya sebentar, sudah bisa untuk sama-sama bergiat membantu. Bagi Tim GKI momen-momen seperti ini adalah hal yang dalam waktu-waktu ke depannya makin sering ditemui dalam banyak upaya penanggulangan bencana alam di negeri ini. **arms

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA