Menemukan Kerukunan Kala Membantu

Meski dikembangkan dari rahim gereja, bahkan memiliki akronim yang senada seperti banyak lembaga dan badan pelayanan GKI lainnya, Gerakan Kemanusiaan Indonesia (GKI) tidak mungkin membatasi pelayanan dan kerjasamanya hanya ke warga jemaat Gereja Kristen Indonesia. Bantuan bencana alam, layanan kesehatan, pemberdayaan masyarakat adalah tanggung jawab yang mengharuskan GKI hadir bersama semua elemen di bangsa ini. Sepanjang tahun demi tahun mengemban pelayanannya, GKI pun telah bekerja sama dengan banyak kalangan, termasuk dari rekan-rekan beragama lain.

Cerita itu terjadi misalnya saat penanggulangan banjir bandang di Garut 2016. GKI bekerja sama dengan beberapa pesantren, organisasi kepemudaan, selain dengan pihak pemda dan dinas militer yang mengkoordinasi bantuan serta relawan.

Saat memberi bantuan untuk penyintas di banjir Jakarta tahun 2007, tim yang ada juga bekerjasama dengan beberapa komunitas pengajian, komunitas ibu-ibu setempat bahkan para pemulung. Mereka turut serta dalam menyalurkan nasi bungkus serta mempromosikan layanan kesehatan yang diadakan Tim GKI.

Cerita senada juga terjadi saat penanggulangan gempa di Tasikmalaya 2006. Dua lembaga yang merupakan badan otonom dalam tubuh Nahdlatul Ulama, yaitu Fatayat-NU dan IPNU Tasikmalaya, turut membantu posko penanggulangan bencana bersama GKI. Bahkan, salah satu posko didirikan di masjid milik ormas Islam terbesar di Indonesia itu.

Lebih jauh lagi saat membantu proses pemulihan pasca-tsunami Aceh 2004, GKI juga bekerjasama dengan sejumlah elemen masyarakat, yang tentu saja kebanyakan bukan warga jemaat.

Sementara di lain kesempatan, GKI juga mengajak gereja-gereja setempat bekerja sama dan berdaya sehingga bisa terlibat penuh dalam membangun masyarakat. Sinode GMIM, GPM, GKPM dan banyak denominasi lain telah menjadi mitra yang sejauh ini saling menguatkan untuk membantu GKI dalam melangsungkan pelayanan kemanusiaannya tanpa pandang bulu.

Uniknya, hampir semua jejaring tadi didapat bukan semata karena data yang diperoleh dari pusat informasi. Biasanya, ada sentuhan personal dalam mempertemukan jejaring tadi dalam kerjasama. Tak jarang, semua baru terbentuk saat tim sudah mulai bergerak menggalang bantuan.

Tim GKI menyadari, saat niat tulus dan kerja keras dibarengkan dalam karya kemanusiaan, akan ada banyak pihak yang juga bersedia membantu dengan niatan yang sama. Meski perlu terus mengevaluasi dan menjaga konektivitas antar jaringan, hampir semua relawan yang terlibat di GKI menyadari bahwa perjumpaan dengan rekan-rekan dari berbagai latar belakang tadi adalah berkah tersendiri. Berkah yang baru dirasakan saat hati tergerak dan tangan bekerja untuk membantu sesama. **arms

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA