Menjadi Gereja yang Tanggap Bencana

Tinggal di Indonesia, negara dengan curah hujan tinggi, rangkaian gunung berapi serta pertemuan dua lempeng besar dunia, mau tak mau akan selalu menghadapkan kita dengan sejumlah peristiwa alam. Sepanjang tahun, peristiwa seperti banjir, tanah longsor, gempa bumi, letusan gunung berapi, tsunami, angin puting beliung, serta sejumlah fenomena alam lain sangat lumrah terjadi di negara kita. Semua tadi adalah gejala alam. Kitalah yang menyebutnya bencana karena mendatangkan kerugian bagi umat manusia.

Dalam merespon bencana alam, sering pula kita tidak belajar dari sejumlah kesalahan. Biasanya bantuan yang diselenggarakan amat sporadis serta sering tumpang tindih. Komunitas masyarakat tentunya perlu belajar lebih jauh agar bisa membangun gerak penanggulangan bencana yang lebih efektif dan berkesinambungan.

Kesadaran ini nampaknya juga mulai muncul di tengah gereja, termasuk saudara-saudara kita di Indonesia Timur. Pdt. Elifas T. Maspaitella bersama rekan-rekannya di Angkatan Muda Gereja Protestan Maluku (AMGPM) sejak 2012 telah menginisiasi dibentuknya Tim Penanggulangan Bencana Gereja Protestan Maluku. Lebih jauh lagi, di 2014, tim ini mengadakan pelatihan khusus bagi kader-kader muda yang tanggap bencana.

Gerakan Kemanusiaan Indonesia (GKI) turut menjadi fasilitator dalam pelatihan yang bertajuk Community Action for Disaster Response (CADRE) tersebut. Kegiatan ini merupakan program PEER (Program for Enhanement of Emergency Response) yang diselenggarakan bersama USAID, American Red Cross, ADPC dan Ambulance 118.

CADRE diselenggarakan selama 11-13 Februari 2014 di Jemaat GPM Titawaai, Nusa Laut. Pelatihan ini menekankan peningkatan kemampuan dasar relawan AMGPM dalam menghadapi bencana. Sharing pengalaman serta panduan-panduan kritis yang disampaikan dalam pelatihan diharapkan dapat menjadi bekal dibangunnya badan penanggulangan bencana di setiap wilayah Sinode Gereja Protestan Maluku.

Pdt. Elifas mengungkapkan bahwa keduapuluh lima peserta pelatihan ini berasal dari banyak wilayah GPM di Maluku dan Maluku Utara. Mereka adalah bagian dari relawan Badan Penanggulangan Bencana GPM yang akan dilibatkan dan kapasitasnya akan ditingkatkan, dengan merekrut lagi para relawan di setiap wilayah klasis GPM.

Bagi GKI yang telah melakukan sejumlah aksi tanggap bencana sebelumnya, kesempatan untuk turut berbagi pada rekan-rekan GPM adalah sebuah kehormatan sekaligus patut disyukuri. Terlepas dari segala kelebihan dan kekurangan selama ini, kemitraan antar gereja di tiap wilayah diharapkan bisa menampilkan komunitas Kristiani sebagai bagian masyarakat yang tanggap atas bencana. GKI berharap sejumlah gereja lain pun bisa terlibat memberi sumbangsih serupa. **arms

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA