Pdt David Roestandi dan Ketionghoan yang Sensitif bagi Gereja

Saya lagi baca, bukan karena kita mau wawancara soal ini ya,” canda Pdt. David Roestandi saat menyambut SELISIP di Ruang Konsistori GKI Kebonjati. Ia menunjukkan salah satu buku tentang budaya Tionghoa, serta sedikit berbagi tentang skripsinya di STT Jakarta yang membahas permasalahan sosial etnis Tionghoa selepas tragedi 1998.

Bagi Pdt. David, permasalahan sosio-kultural etnis Tionghoa, kekristenan dan keindonesiaan sebenarnya sesuatu yang sering dianggap sekedar tahu sama tahu. Dalam sejumlah kuesioner dan pembicaraan dengan jemaat, ia sering mendapati warga jemaat umumnya lebih memilih untuk menarik diri ketimbang serius membicarakannya.

Terutama di warga jemaat dewasa. Masih ada, seperti trauma, yang menganggap persoalan itu harusnya didiamkan saja. Padahal bagi generasi muda, apalagi remaja yang lahir di era 2000-an harusnya kan lebih murni. Tergantung didikan orangtua. Mereka bisa punya sikap baru, tidak melulu ada dalam bayang-bayang seperti itu,” ujarnya.

Pendeta lulusan STT Jakarta ini memandang generasi muda Tionghoa perlu menerima dengan sadar, bahwa etnisitas Tionghoa dan keberadaan di Indonesia adalah karunia dari Tuhan. Jadi memang harus dibicarakan dengan terbuka. Apalagi dengan isu SARA yang kini gencar di media.

Membicarakan etnisitas Tionghoa seharusnya tidak perlu dibenturkan dengan dua concern utama GKI, yaitu keindonesiaan dan kekristenan. Budaya Tionghoa adalah bagian yang tak mungkin dipisahkan dari keindonesiaan, sehingga mestinya punya daya inspirasi yang besar bagi keseharian warga Indonesia.

Kita kan bisa menerima, sosok Hanoman misalnya, sebagai bagian tak terpisahkan di budaya kita. Padahal kita tahu itu berasal dari India. Saya kira hal yang sama seharusnya terjadi dengan ragam aspek budaya dari tradisi Tionghoa,” papar pria kelahiran 18 Oktober 1984 ini.

Kesalahpahaman terkait aspek budaya Tionghoa yang sering ‘dicurigai’ sebagai bentuk paganisme oleh kekristenan konservatif, juga sebenarnya bisa diatasi dengan pembelajaran yang mendalam. Pdt. David mengakui represi yang panjang dari pemerintahan Orde Baru memang membuat banyak aspek yang begitu kaya dari budaya Tionghoa tidak lagi dipahami sepenuhnya oleh setidaknya dua generasi.

Utamanya di warga Tionghoa peranakan seperti di sebagian jemaat GKI SW Jawa Barat. Ya seperti Imlek, setelah itu Cap Go Meh. Bagi sebagian besar warga jemaat mungkin cuma sekedar kumpul keluarga. Tidak lagi mengerti makna filosofis di baliknya. Bahkan sering juga dijauhi. Padahal kita kan bisa belajar lebih jauh, memahami bagaimana sebagai umat Kristiani kita bersikap, tanpa harus meninggalkan identitas. Apalagi zaman sekarang sudah sedemikian terbuka,” jelas Pdt. David

Secara ringan pendeta yang ditahbiskan di tahun 2013 ini mensyukuri kehidupan masa kecilnya yang mengalami dua lingkup pergaulan yang sinambung. Ia tinggal dalam lingkungan yang sangat plural, meski sedari kecil bersekolah di sekolah Kristen. Pengalaman seperti ini mungkin tidak selalu didapat oleh semua warga jemaat, sehingga kadang ada permasalahan yang perlu saling disesuaikan dan dipelajari bersama sebagai bagian dari keseharian jemaat. Untuk itulah pembelajaran dan percakapan yang terbuka terkait masalah ini, perlu sekali menjadi concern gereja.

Ketakutan, trauma, kesungkanan yang muncul di sebagian warga etnis Tionghoa untuk masuk dalam setiap aspek kehidupan masyarakat Indonesia sebenarnya perlu terus diatasi. Generasi muda perlu diberi kerangka berpikir baru, agar mereka mantap masuk ke banyak bidang kehidupan.

Dalam kaca mata Pdt. David eksklusivitas yang protektif itu sebenarnya perlahan sudah mulai mencair di generasi muda. Dalam konteks pergaulan keseharian, ia menilai kaum muda Tionghoa sudah tidak lagi merasa eksklusif, hanya bergaul akrab dengan rekan satu etnis. Namun, untuk beberapa hal, semisal keterlibatan di organisasi sosial atau politik, memang masih membutuhkan perhatian khusus agar lebih partisipatif.

Meski menyadari gereja belum sepenuhnya mendorong hal ini, Pdt David tetap optimis hal tersebut akan menjadi kewajaran bagi kaum muda di masa depan. Bukan lagi hal sensitif yang disimpan di dasar bangku gereja. **arms

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA