Saat Banjir Bandang Menghadang Manado

Cuaca di akhir tahun 2013 hingga awal 2014 memang sedang ekstrim-ekstrimnya. Kondisi yang dalam masyarakat global disebut sebagai El-Nino (Spanyol: Sang putra kecil, mengingat peristiwa ini sering terjadi tidak jauh dari masa Natal) memang kerap membludak di tahun-tahun tertentu. Di sejumlah daerah Indonesia, hujan deras mengguyur hingga beberapa hari. Seperti yang terjadi di Sulawesi Utara selama 13-15 Januari 2014. Momen dimana gelombang pasang laut juga terbilang tinggi.

Parahnya, cuaca ekstrim ini kadang diimbuhi kesalahan manusia. Telah jadi pengetahuan umum di masyarakat, kalau sungai-sungai kecil sekitar Manado, juga sejumlah hutan-hutan kecilnya, perlahan makin punah. Walhasil tak ada lagi tampungan yang cukup menahan derasnya laju air.

Banjir bandang melanda Manado, Tomohon, Minahasa dan Minahasa Utara di pagi 15 Januari 2014. Dampaknya terbilang parah. Ribuan rumah terendam air. Lebih dari 40.000 warga mengungsi. Korban tewas dikabarkan mencapai 19 orang. Beberapa ruas jalan utama yang menguhungkan kota dan kabupaten di Sulawesi Utara juga lumpuh karena longsor. Pemerintah Daerah di Sulawesi Utara menyebut ini merupakan banjing bandag terparah selama tiga belas tahun terakhir.

Saat tim dari Gerakan Kemanusiaan Indonesia (GKI) tiba di Manado pada 20 Januari 2014, dampak banjir bandang belum usai. Sejumlah jalan masih belum bisa dilalui. Kebutuhan akan bahan pangan, tempat untuk tidur, serta terutama air bersih dan penerangan hampir tidak bisa diakses warga.

GKI bekerja sama dengan Sinode Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM) membuka posko bantuan dengan berfokus pada penyediaan bahan pangan, air bersih dan penerangan. Ada seribu lampu LED yang disumbangkan untuk membantu proses di posko pengungsian, juga sejumlah instalasi air bersih.

Selain itu, tim penanggulangan bencana ini juga mengajak masyarakat turut berpartisipasi sembari menjalin kekuatan untuk berdaya bersama. Ada program Bacuci Sama-Sama yang mengajak orang sama-sama mencuci pakaian di posko. Sejumlah mesin cuci dipakai untuk program yang disambut antusias warga ini.

Selama hari-hari yang dihabiskan di Manado, tim mendapati semangat warga untuk bergotong royong amatlah terasa. Tua, muda, anak, dewasa semuanya turut berpartisipasi menyumbangkan apa yang bisa demi kerja bersama. Tentu daya semacam ini diharapkan bisa terus ada. Tidak hanya ketika bencana, namun dalam kesadaran bersama agar lebih merawat alam, sehingga tidak terjadi lagi hal seperti ini. **arms

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA