Pdt. Em. Kuntadi dalam Radicalizing Reformation

Seberapa relevan Marthin Luther bagi masa kini? Apakah ia layak dijadikan panutan, sebagaimana sering diulang-usang di gereja-gereja Protestan? Ataukah pemikirannya sudah sedemikian klasik, sehingga hanya patut dikenang sebagai sosok historis pendiri suatu gerakan dalam sejarah gereja?

Pertanyaan itu telah coba dijawab cukup lama oleh para pemikir gereja-gereja reformasi sedunia. Di tengah seabreg persoalan terkait kemiskinan, tidak meratanya distribusi sumber daya, praktik ekonomi yang serakah, kehancuran ekosistem, serta banyak permasalahan lain, para cendekiawan tersebut mencoba menggali kembali pemikiran dan kiprah Luther, sejauh mana relevansinya di zaman ini.

Sejak 2010 telah digulirkan proyek Radicalizing Reformation, suatu kerja bersama para intelektual Kristiani juga undangan dari agama lain, untuk menempatkan pola pikir yang kokoh bagi gereja-gereja reformasi dalam menghadapi permasalahan global.

Ada sejumlah publikasi yang terangkum dalam lima tema sebagai bentuk pemikiran dari kerja bersama tersebut. Kelima tema tersebut adalah: Pembebasan terhadap Keadilan, Pembebasan dari Mammon, Pembebasan Politik dan Ekonomi, Pembebasan dari Kekerasan demi Kehidupan yang Damai, serta Gereja yang Terbebaskan Sehingga Mampu Bertahan dan Mentransformasi.

SELISIP mewawancarai Pdt. Em. Kuntadi Sumadikarya, salah seorang teolog Indonesia yang diundang dalam Konferensi Internasional Ketiga Radicalizing Reformation, sekaligus Peringatan 500 tahun Marthin Luther menyampaikan 95 dalil reformasinya. Konferensi yang diadakan pada 7-10 Januari 2017 di kota bersejarah Wittenberg itu merupakan konferensi internasional terakhir dari program Radicalizing Reformation.

Pdt. Kuntadi menjelaskan mengapa program ini mengangkat tema dengan perspektif ganda Radicalizing Reformation – provoked by the Bible and Today’s Crises. Tema yang menuntut kepekaan akan permasalahan global terkini, juga penggalian Alkitab yang mendalam.

Para penggagas menyadari tanpa sebuah radikalisasi berpikir, paradigma dan cara hidup, kita tidak akan bisa menyelesaikan permasalahan di dunia ini. Ini persoalan dimana-mana, semua bangsa kena penyakit. Kita semua tahu sakitnya apa. Akar permasalahannya yang harus disasar,” tutur pendeta yang pernah menjabat sebagai ketua GKI Sinode Wilayah Jawa Barat ini.

Beberapa pemikiran Luther semisal yang menolak praktik serakah riba, menggelorakan perlawanan terhadap penindasan ekonomi dan politik, menekankan penghayatan keselamatan bagi dunia, keterlibatan aktif semua umat – terlepas dari dampak buruk atau kegagalannya – dinilai patut diradikalisasi sebagai kerangka berpikir dalam konteks menjawab pertanyaan global.

Demikian pula semangat reformasi Luther untuk menguji dan menjawab persoalan terkini dengan penafsiran yang radikal atas kitab suci adalah pola pikir yang perlu terus digalakkan.

Evaluasi semacam ini penting. Permasalahannya, dunia kita memang tengah mengalami kerusakan. Secara ekologi, politik, ekonomi, maupun bidang lain. Kita harus melahirkan sejumlah alternatif. Ini yang perlu jadi concern gereja. Sayangnya mungkin masih kebanyakan di tataran elit saja, biar sudah berkali-kali konferensi juga,” ucap Pdt. Kuntadi.

Kerisauan dan kekhawatiran yang dibagikan pendeta yang juga aktif di Oikotree Forum ini memang sangat mendasar. Persoalan ini sebenarnya dialami oleh semua umat manusia. Maka tak heran forum-forum antar-umat beragama, juga forum-forum masyarakat Kristiani semisal dalam seruan Gereja Katolik, Dewan Gereja Sedunia, WCRC, LWF atau juga Konferensi Radicalizing Reformation ini menelurkan keprihatinan senada: kalau kita tidak menghentikan keserakahan dan memberi alternatif baru bagi kehidupan, maka kita tengah menyiapkan kehancuran dunia. **arms

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA