Apakah GKI Relevan bagi Remaja dan Pemuda?

Pemuda GKI tidak mampu bersuara banyak di luar, ketika bicara masalah sosial kemasyarakatan. Penatua yang berusia muda di GKI sangat minim! Jemaat usia muda di GKI sudah sangat berkurang…

Selentingan-selentingan tadi beberapa tahun belakangan jadi bahasan seru di GKI. Banyak yang merasa berkepentingan untuk menjawab permasalahan ini. Dari riset yang serius seperti yang dilakukan oleh Pdt. Stephen Sulaiman, diskusi di dunia nyata dan dunia maya, hingga pembicaraan keseharian para pengerja dan pendamping Komisi Remaja Pemuda. Semuanya berbagi kekhawatiran yang sama.

Sebagai seorang penatua pendamping, saya cenderung berpikir sederhana. Merefleksikan pertanyaan sederhana. Bukankah para pemuda GKI saat ini pernah berusia remaja? Pernah juga duduk di bangku sekolah minggu?

Maka bagi saya masalah kepemudaan saat ini yang melanda GKI bukan hanya tentang pemuda itu sendiri. Ini merupakan masalah masif dan sistemik terkait infrastruktur, pola pembinaan hingga masalah organisasi gereja.

Jadi, untuk menyelesaikan masalah kepemudaan di GKI diperlukan aksi holistik. Bukan sekejap diatasi dengan sekedar memberi wadah atau dana berkegiatan. Cara gereja menjangkau dan membina pemuda harus berubah di berbagai aspek, dari spirit pembinaan hingga pola organisasi dan tata kelola GKI.

Baiknya kita mulai dari yang pertama dan paling kelihatan, khotbah di kebaktian Minggu. Salah besar jika kita mengira pemuda GKI saat ini datang ke gereja karena ingin dengar khotbah. Riset Pdt. Stephen Suleman menunjukkan bahwa sebagian besar alasan pemuda hadir di kebaktian minggu adalah seputar; ada teman yang mengajak, jarak gereja yang dekat atau sudah bergereja di gereja disana sejak kecil. Jadi jelas, khotbah ibadah minggu bukan hal yang relevan bagi pemuda.

Kenapa bisa demikian? Coba kita lihat frasa-frasa yang lazim dipakai di kebaktian Minggu semisal Allah itu Besar, Kehidupan yang Bermakna, Allah itu Baik, Menang dari Kekecewaan, dan sebagainya.

Yang langsung terasa adalah konten khotbah Minggu itu tidak mengena ke pergumulan pemuda. Isu keseharian pemuda yang sederhana seperti susahnya mengatur waktu, bingung menentukan karir atau jurusan, masalah dalam relasi tidak secara langsung terkait dengan khotbah.

Masalah lain adalah khotbah gerejawi itu terlalu simbolik. Kata-kata tersebut bukan salah atau keliru, tapi kalau tidak diberikan konteks yang sesuai pergumulan, maka anak muda sulit untuk mendengar. Di sinilah tantangan para pengkhotbah di kebaktian remaja-pemuda untuk memberikan ilustrasi dan cerita kehidupan yang sesuai konteks. Dan, tepat disitu pula masalahnya, kebanyakan pengkhotbah tidak berjiwa muda. Tidak bisa membuat ajaran yang ‘berat’ jadi obrolan ringan khas pemuda.

Di masalah kedua, ada baiknya kita melihat kepemimpinan dan organisasi gereja serta wadah dan infrastruktur yang disediakan gereja bagi pemuda.

Kepemimpinan dan organisasi gereja praktis sama sejak saya mulai pelayanan di tahun 2004 hingga sekarang. Kegiatan itu-itu saja. Mekanisme organisasi serta format rapat memakan waktu sangat lama. Membuat remaja dan pemuda enggan masuk organisasi gereja. Sistem kepemimpinan yang didominasi oleh generasi X di gereja membuat generasi Y dan Z menjadi nggak nyambung.

Ironisnya, jika di luar sana, dunia industri menganggap generasi Z sebagai pasar utama, serta menjadi sumber profit yang paling besar, lantas mengapa di gereja, generasi ini sepi? Sepi kreativitas, sepi kehadiran di persekutuan dan sepi kontribusi!

Dampak dari pola kepemimpinan dan organisasi tersebut membuat gereja tidak bisa menampung talenta-talenta kreatif remaja dan pemuda. Generasi X, si pengambil keputusan, enggan untuk berubah dari gaya dan tampilan lama. Talenta seperti videografi, cinematografi, fotografi, drama bahkan talenta pemimpin pujian yang ekspresif bisa di-judge tidak sesuai gaya GKI.

GKI tetap saja pada pola lama yang ‘mencari’ pelayan untuk mengisi slot menjadi liturgos, song leader, pemain musik dan kolektan. Itu pun kadang tidak dibina dengan road map yang jelas. Maka tidak heran apabila remaja dan pemuda lebih merasa ‘terberkati’ di luar sana, yang bisa mengapresiasi talenta dan keunikan mereka.

Ada satu jenjang pelayanan yang tidak ada di banyak GKI, yakni komunitas parenting/dewasa muda dan profesional muda (pemuda yang sudah bekerja). Jenjang ini yang saya rasa menjadi gap generasi, tidak tersedia infrastruktur menjembataninya.

Infrastruktur yang saya maksud adalah wadah yang disediakan gereja lengkap dengan kegiatan dan pola pembinaan yang menjawab kebutuhan jemaatnya. Misalnya remaja memiliki kebutuhan pengajaran akan berpacaran, pemuda yang sudah bekerja bergumul dalam hal mengatur keuangan dan mempersiapkan pernikahan. Adakah wadah untuk ini? Wadah bukan hanya bicara tentang tema khotbah di hari Minggu, tapi konteks komunitas yang bersifat persekutuan antar sesama orang percaya.

Persoalan ini membuat kita pantas menyoroti masalah ketiga. Apakah gereja siap mengubah paradigma dari sekedar tempat beribadah menjadi komunitas?

Remaja dan pemuda tidak diajarkan untuk berkomunitas di gereja. Gereja tanpa sadar hanya butuh mereka mengisi kegiatan serta memastikan kebaktian Minggu berjalan baik.

Meminjam frasa Ernest Prakasa di film Cek Toko Sebelah, mari kita “Cek Gereja Sebelah” yang beberapa tahun terakhir ledakan jumlah remaja dan pemudanya sangat pesat semisal Jakarta Praise Community Church (JPCC), City Light Community Church (CLCC) Bandung, Elshaddai Creative Community (ECC) Bandung, atau Inspire Community Center (ICC) Bandung.

Ada kesamaan dari nama, yakni community, tapi yang lebih penting kegiatan mereka masuk dalam konteks remaja dan pemuda, yakni berbasis komunitas. Pemuda GKI tidak harus berganti nama. Ini bukan masalah doktrin atau musik atau tampilan gereja, tapi spirit berkomunitas yang seharusnya bisa gereja berikan dalam konteks berkegiatan remaja-pemuda di gereja.

Ketiga permasalahan tadi jadi refleksi saya atas pelayanan di kaum muda selama ini. Intinya solusi atas permasalahan pemuda di gereja memerlukan proses yang holistik, sistematis serta harus rela berproses dan tidak mengandalkan event seremonial belaka.

Penulis: Dr. Christian Fredy Naa

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA