Pdt. Ariel: Pemuda GKI Perlu Kreatif Menghadapi yang ‘Memuakkan’

Kamis (13/4) jelang malam, Pdt. Ariel Aditya Susanto menyempatkan diri untuk berdiskusi dengan SELISIP via telepon. Pendeta yang berasal dari GKI Jemursari, Surabaya itu lantas bercerita lumayan panjang soal Temu Raya Pemuda (TRP) dan kondisi kaum muda di GKI.

Gaya bicara agak lambat, diselingi beberapa kali batuk, tetap tidak menutupi semangat Pdt. Ariel untuk berbagi. Beberapa kali orang yang mengemban pelayanan di KPP Sinode GKI ini agak mengeluhkan lembamnya birokrasi gereja. Kurang dinamis dalam menampung gerak anak muda. Penghalang ini terang-terangan disebutnya, sebagai hal yang kadang memuakkan.

Ya, nggak apa-apa ditulis saja ‘memuakkan’. Nggak usah disensor,” ujarnya sembari tertawa. Lantas ia berkisah beberapa pengalaman kaum muda GKI di sejumlah wilayah, yang baru saja memulai gerakan sudah langsung dibebani belitan prosedur, kejelasan penanggung jawab, disebut sebagai kegiatan liar karena di luar jalur formal serta banyak hal lain.

Tentu saja, ia tidak menyalahkan gereja sepenuhnya. Menurutnya pemuda perlu kreatif menghadapi permasalahan seperti ini. Apalagi di tengah kondisi seperti sekarang dimana pemuda GKI juga dituntut untuk semakin peduli pada masyarakat dan bangsa. Hal yang menurutnya, masih kurang kalau dibandingkan dengan apa yang telah diejawantahkan oleh kaum muda NU dan organisasi pemuda kebangsaan lain.

Sebenarnya kalau dibandingkan pemuda Kristiani lain, kaum muda GKI bisa dikatakan sudah lebih kritis dan maju dalam cara berpikir. Banyak juga orang-orang yang telah berkarya di masyarakat, yang secara keanggotaan gerejanya itu GKI. Tapi gereja nampaknya belum tepat untuk disebut memberi andil dalam membentuk orang-orang yang demikian,” papar pria kelahiran 2 November tiga puluh delapan tahun silam ini.

Banyak hal bagus sebenarnya yang ada di GKI. Teologi gereja kita itu bisa dibanggakan. Penghayatan ekumenis GKI itu khas. Coba dimana ada tiga gereja jadi satu, justru banyaknya satu jadi tiga…,” runut Pdt. Ariel saat ditanya hal yang bisa dikembangkan bagi pemuda GKI. “Hanya saja…, kita lemah di packaging. Itu yang membuat kurang menarik saat menyampaikan pesan tersebut pada kaum muda.

Persoalan-persoalan tadi turut menjadi gumulan dalam persiapan TRP tahun ini. Sebagai tim pengarah untuk TRP 2017, Pdt. Ariel berharap pemuda bisa beroleh inspirasi di event ini. Ia mengakui ada sejumlah pergeseran yang telah terjadi dari sejak penyelenggaraan TRP tahun 2012 hingga kini.

Ada sejumlah kritik dan saran. Misalnya soal minimnya momen untuk berbagi antar pemuda. Juga banyaknya materi yang searah. Saya sudah sampaikan ke panitia, saya harap itu bisa diakomodir. Kita mencoba menyajikan yang kita anggap penting dan baik bagi pemuda, mungkin tidak menampung semua aspirasi, tapi tentu sangat terbuka untuk dievaluasi dan diberi berbagai masukan,” jelas ayah seorang putri ini.

Pdt. Ariel juga berharap agar semua pihak menaruh ekspektasi yang wajar untuk TRP. Tindak lanjut event ini menurutnya mungkin akan lebih pada berbagi ide lewat media internet. Sementara geraknya di tiap wilayah akan sangat bergantung pada inisiatif dan kerjasama kaum muda di masing-masing jemaat, klasis dan sinode wilayah.

KPP kan tidak langsung punya link dengan semua pemuda GKI. Di tataran Sinode Wilayah, di beberapa klasis dan di jemaat juga ada yang tidak punya kepengurusan komisi pemuda, jadi ya tidak bisa buru-buru,” ungkap Pdt Ariel sembari menyebut sejumlah bentuk follow-up seperti situs ingnite, brand merchandise xii (baca: twelve), serta beberapa komunitas yang didirikan mandiri pasca TRP 2017.

SELISIP lantas ia minta menilik video promo TRP 11-14 Mei 2017. Secara khusus Pdt. Ariel membahas beberapa pembicaranya. Selain sejumlah pendeta dari GKI dan gereja lain (termasuk Pdt. Agus Sutikno, the street preacher), TRP juga mengundang tokoh muda seperti Sahat Martin Philip Sinurat (Ketua Umum GMKI), Doni Pranama (Tokopedia) dan Yosi (Cameo Project). Semua pembicara ini diharapkan mampu menginspirasi dan memantik ide bagi kaum muda GKI agar kreatif membangun gerak yang dinamis. Barangkali, termasuk bersikap elegan dalam menghadapi penghalang yang diistilahkannya ‘memuakkan’ itu. **arms

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA