T.B. Simatupang: Pemikiran dan Kontribusinya bagi Gereja dan Indonesia

Selain Leimena, salah satu tokoh ‘awam’ yang telah memberikan kontribusi yang sangat besar pengaruhnya bagi bangsa Indonesia terutama dalam bidang militer, ideologi, dan politik, dan bahkan juga bagi perkembangan berteologi gereja di Indonesia adalah T.B. Simatupang (1920-1970).

T.B. Simartupang, tokoh langka yang hebat, tetapi jujur. Ia cerdas, tetapi berintegritas. Ada banyak kontribusi pemikiran yang telah T.B. Simatupang berikan bagi gereja dan bagi Indonesia. Tulisan ini akan menyinggung sebagian kecil saja tentangnya.

Pak Sim yang Cerdas
Saya beruntung sempat mengenal Tahi Bonar Simatupang yang biasa dipanggil pak Sim. Sejak masih mahasiswa idola saya bukan bintang rock, bukan juga bintang sepak bola, tetapi pak Sim. Ya, saya menjadikan pak Sim, seorang pensiunan Jenderal TNI AD yang pernah menjadi Kepala Staf Angkatan Perang Republik Indonesia menggantikan Jenderal Sudirman, sebagai idola.

Apa hebatnya pak Sim sehingga saya mengidolakannya? Kalau Pak Sim sedang berceramah, pendengarnya selalu tercengang. Kami jadi terasa bodoh.

Pernah, seorang jenderal yang masih aktif berdebat dengan pak Sim dalam salah satu seminar. Peserta seminar bisa merasakan perbedaan pengetahuan yang sangat besar antara sang jenderal dengan Pak Sim. Sang jenderal sempat emosional. Pak Sim tetap santai.

Memang, pak Sim mampu menguraikan persoalan sulit dengan cara sederhana, sekaligus memukau. Ia seperti tahu semuanya. Dunia ini ada dalam genggamannya. Ia memang seorang yang rakus membaca buku. Entah berapa ribu buku yang sudah dilahapnya.

Kalau berjumpa dengannya, tangannya selalu menggenggam buku. Ia pembelajar aktif! Setiap kali mengobrol dengannya atau mendengarkan ceramahnya selalu terlontar pikiran bernas nan cerdas.

Pengaruh Tiga ‘Karl’
Pak Sim mengakui bahwa pemikirannya dipengaruhi oleh tiga pemikir besar dunia yang kebetulan memiliki nama kecil yang sama yaitu ‘Karl’. Ketiganya adalah Karl Marx, penggagas Marxisme; Karl Barth, teolog Protestan terkenal yang kritis terhadap Hitler dengan rejim Nazinya; dan Karl Von Clausewitz, seorang pemikir handal dalam bidang militer.

Tentu saja meski dipengaruhi ketiga pemikir ini, pak Sim sendiri bersikap kritis terhadap ketiganya. Artinya ia menerima dengan kritis, lalu mencoba menerapkannya dalam konteks Indonesia.

Ada satu pemikir lain yang bagi saya sangat memengaruhi gagasan pak Sim. Pemikir itu adalah Reinhold Niebuhr, teolog Amerika Serikat yang pemikirannya sangat mempengaruhi kebijakan politik Amerika Serikat sampai sekarang.

Pemikirannya buka saja hasil membaca tetapi juga hasil diskusi. Pak Sim sendiri aktif  berdiskusi dengan kaum intelektual dalam negeri seperti Sudjatmoko, dan sebagainya. Oleh karena itu, pemikiran pak Sim adalah hasil blending dari sangat banyak pemikir, baik dalam maupun luar negeri. Aspek ini yang membuat pak Sim mampu melahirkan banyak gagasan orisinil.

Jadi, bisa disimpulkan bahwa pemikirannya itu lahir dari hasil bacaan serta diskusinya dengan pemikir dalam dan luar negeri, dari iman kristianinya, dari komitmen kebangsaan juga kemanusiaannya, dan dari pergumulannya yang intens dengan persoalan masyarakat dan politik Indonesia.

Pak Sim yang Berintegritas
Komitmen kebangsaan dan passion pak Sim pada persatuan Indonesia yang berdasarkan Pancasila sangat besar. Passion ini yang memampukannya bersikap kritis terhadap siapa pun, termasuk terhadap Soekarno.

Ia berani berbeda pandangan dengan sang presiden. Perbedaan pendapat itu tidak bisa didamaikan. Ujungnya, Pak Sim memutuskan untuk pensiun dari karier militernya yang cemerlang. Padahal usianya masih sangat muda, 39 tahun.

Ini tanda bahwa Pak Sim termasuk pejabat langka. Ia pejabat jujur yang berintegritas. Paling tidak ia jujur pada keyakinan dan hati nuraninya. Ia bukan penjilat atasan.

Pak Sim mengakui bahwa pensiun dininya itu akibat perbedaan pandangan politik dengan Soekarno. Gagasan Pak Sim agar militer berperan lebih aktif dalam kancah perpolitikan Indonesia  demi mempertahankan ideologi Pancasila dan UUD 1945 yang selama ini terbukti berhasil menjaga persatuan dan kesatuan Indonesia.

Gagasan politik Pak Sim itu muncul karena pada saat itu Indonesia sedang mengalami krisis berat akibat pertarungan dua pendukung ideologi besar yaitu antara pendukung Negara Islam dan pendukung Komunisme.

Pertentangan yang laten di antara kedua pendukung itu akan menciptakan situasi konfilk tanpa akhir yang merugikan kehidupan bersama dan berpotensi menghapuskan eksistensi bangsa dan negara Indonesia.

Sebaliknya, kelompok mana pun yang menang dalam pertarungan itu akan mengubah wajah perpolitikan Indonesia dan berpotensi mengganti Pancasila sebagai ideologi negara.

Betapa pun baiknya maksud pak Sim, gagasannya itu menunjukkan bahwa ia menaruh kepercayaan yang terlalu berlebihan terhadap militer. Gagasannya ditolak Soekarno! Kemungkinan Soekarno pun memiliki kekhawatiran yang tidak dilihat Pak Sim sebagai seorang jenderal, panglima TNI. Soekarno khawatir Indonesia akan jatuh pada bahaya lain yaitu militerisme.

Kekhawatiran Soekarno itu terbukti pada masa Soeharto. Gagasan untuk memberikan peran militer yang lebih aktif dalam dunia politik dan ide tentang Pancasila diadopsi dan dimanipulasi oleh rejim Soeharto demi kepentingan kekuasannya.

Terlepas dari manipulasi Soeharto, Pak Sim menunjukkan bahwa gagasannya itu murni demi kebaikan Indonesia. Demi kesatuan dan persatuan Indonesia berdasarkan Pancasila!

Itulah sebabnya, Pak Sim tak mau menggunakan kekuatan militer untuk memaksakan kehendak seperti yang kini terjadi di Mesir. Ia memilih mundur!

Tetapi, Pak Sim tetap aktif memberikan sumbangan pemikiran yang cerdas dalam dunia politik, militer dan ideologi, melalui jalur gereja. Memang, sejak mundur dari dunia Militer, Pak Sim terjun dalam aktifitas gereja, melalui Dewan Gereja Indonesia (DGI, sekarang PGI). Melalui DGI itulah Pak Sim memberikan banyak kontribusi pemikiran bagi  gereja dan bagi Indonesia.

Semua orang akui bahwa saat Pak Sim masih hidup, pemikiran dan kontribusi gereja sangat diperhitungkan oleh elemen masyarakat mana pun termasuk oleh pemerintah Indonesia. Dalam diri Pak Sim kekristenan dan keindonesiaan menyatu dengan sempurna.

Di tengah persoalan yang multi kompleks sekarang ini, gereja dan bangsa ini membutuhkan orang-orang cerdas yang berintegritas seperti Pak Sim. Mungkin Anda akan menjadi salah satunya.

Penulis: Pdt. Dr. Albertus Patty
Sumber foto: Doc. PGI

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA