Konten versus Sistem di Pelayanan Pemuda GKI

Kita punya konten yang melimpah, tapi miskin sistem!

Kesimpulan yang terdengar agak pahit itu saya temukan, saat merefleksikan pengalaman tiga belas tahunan melayani di remaja dan pemuda GKI. Lepas dari kajian teologis – saya tetaplah seorang praktisi pelayanan, tidak memiliki latar pendidikan teologi – analisis ini lebih membedah permasalahan riil yang dihadapi pelayanan kaum muda GKI.

Saya melihat bahwa ada dua pendekatan yang harus diperhatikan ketika membangun pelayanan kaum muda di GKI, yakni pendekatan konten dan pendekatan sistem.

Agar tidak salah paham, perlu dijelaskan yang dimaksud dengan konten adalah materi, muatan atau isi yang diberikan gereja kepada remaja dan pemudanya. Contohnya isi khotbah di kebaktian pemuda, isi materi pembinaan baik segi spiritual maupun segi praktis seperti kepemimpinan dan keterampilan untuk melakukan pelayanan. Konten juga dapat berarti event baik yang insidentil, maupun yang rutin diadakan.

Sedangkan sistem merupakan tata kelola pelayanan yang dijalankan gereja. Sistem juga berarti aturan, instrumen laporan, penjadwalan, keuangan dan banyak hal lain. Aturan tentang masa jabatan dan konsep pemilihan pengurus dalam organisasi GKI, misalnya, sudah jelas tercantum pada Tata Laksana dan Tata Gereja.

Namun, saya cenderung melihat bahwa sistem yang ada selama ini, masih terlalu umum. Kebanyakan dibuat untuk menyeragamkan GKI. Saya ingin menggali lebih dalam dan spesifik, yaitu dalam pengertian sistem yang dibangun untuk membuat pelayanan berjalan. Ini bukan sebatas penjadwalan petugas kebaktian, misalnya, tapi berbicara bagaimana suatu bagaimana pola kepemimpinan diajarkan, bagaimana para pelayan, kepanitiaan dan tiap generasi dikelola.

Tanpa konten, maka “core bussiness” gereja memperjumpakan kaum muda dengan Tuhan tidak bisa berjalan. Remaja dan pemuda hanya akan berkegiatan tanpa dasar dan motivasi yang benar. Tanpa sistem, maka pelayanan akan sporadis, tak berpola, tak beraturan dan tidak tertib. Regenerasi tidak akan berjalan baik. Sumber daya materi, waktu dan tenaga para pelayan banyak terbuang percuma.

Pendekatan konten saja, akan melahirkan pemuda yang memiliki motivasi tinggi, takut akan Tuhan dan tergerak untuk pelayanan, namun tidak tertata. Pendekatan sistem saja menghadirkan pelayanan tanpa soul, tanpa dasar motivasi yang benar. Bahkan sistem yang kaku akan menghalangi pertumbuhan, fleksibilitas dan spontanitas yang konstruktif.

Soal konten, pelayanan kaum muda sebenarnya melimpah. Konten kebaktian rasanya tidak akan pernah habis dan selalu ada. Gereja dapat menggunakan Derap Remaja-nya terbitan sahabat surgawi yang terus diproduksi. Bahan tersebut sangat komprehensif, mulai dari isi khotbah, ilustrasi hingga rujukan tambahan.

Bahan pembinaan untuk pengurus juga sangat mudah diperoleh. Sudah terbantu dengan kehadiran Bina Warga yang senantiasa konsisten memberikan pelatihan setiap tahunnya, bahkan tim ini juga dapat dipanggil ke gereja lokal bila diperlukan.

Konten non-spiritual seperti kepemimpinan dan soft skill juga banyak di luar sana. Buku dan kursus kepemimpinan ternama dunia, semisal John Maxwell, sangat mudah diperoleh dan digunakan untuk membekali keterampilan para aktivis atau jemaat.

Singkatnya, ada begitu banyak pilihan konten di GKI dan di luar sana (baca: kalau gereja malas buat konten sendiri) yang dapat digunakan untuk membina pemuda GKI. Lantas kalau konten melimpah, kenapa tidak bisa jalan dengan baik? Nampaknya, pelayanan remaja dan pemuda di GKI sangat kurang dalam sistem pengelolaan, baik untuk jemaat maupun aktivis.

Adalah lebih mudah mengisi materi pembinaan bertema hospitality, ketimbang membangun infrastruktur pelayanan yang menyokongnya, semisal sikap staf gereja dalam memberi sambutan hangat, sikap jemaat menyambut pengunjung yang baru, juga bagaimana gereja bisa memandu orang baru itu menemukan talenta pelayanannya.

Lebih mudah mencari konten atau mengundang pembicara mumpuni untuk sesi tentang talenta pelayanan, ketimbang mempersiapkan pengelolaan talenta dan kaderisasi tim musik misalnya.

Atau masalah klasik GKI mempersiapkan majelis baru. Sekali lagi, relatif mudah mencari konten motivasi mengetuk hati jemaat agar mau menjadi majelis, ketimbang mempersiapkan sistem dengan sengaja dengan tujuan kaderisasi majelis.

Misalnya, bagaimana talenta jemaat diidentifikasi dan dicocokkan dengan bidang yang ada. Bagaimana remaja dan pemuda bertumbuh dalam sistem pengkaderan yang dapat mewariskan rasa memiliki mereka terhadap gereja. Satu kenyataan yang banyak terjadi adalah jemaat kapok dan merasa dijerumuskan dalam kemajelisan, bukan karena mereka tidak ada hati untuk melayani, namun pengelolaan yang kurang baik.

Untuk membuat sistem perlu usaha besar, setidaknya lebih dari sekedar usaha mempersiapkan konten. Konten mudah dicari, pembicara relatif mudah dihubungi, buku pun mudah didapat. Namun, untuk membuat sistem diperlukan identifikasi tujuan, sasaran, tindakan taktis yang bisa berbeda  di tiap gereja. Cuma butuh event organizer untuk sesi pembinaan aktivis, tapi diperlukan suatu kelompok kerja untuk membuat sistem baru. Sistem juga harus dipelihara dan dimodifikasi seturut keadaan di lapangan pelayanan.

Ada inspirasi menarik dari kisah minyak seorang janda (2 Raj 4:1-7), yaitu ketika minyak dari buli-buli kecil, berhenti mengalir bersamaan dengan habisnya seluruh bejana penampung. Kalau saja janda istri seorang nabi itu mempersiapkan 10 bejana maka 10 bejana tersebut akan penuh terisi. Sama halnya bila dipersiapkan 100 atau 1000.

Menurut saya, jika gereja mau menyediakan bejana lebih banyak, memikirkan sistem dengan usaha yang lebih, mulai mengevaluasi sistem yang sudah berjalan, serta mulai bergerak dari pola pikir konten belaka ke pola pikir sistem, maka pertumbuhan gereja akan berkelanjutan dan berdampak.

Penulis: Dr. Christian Fredy Naa

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA