Mazmur di Tengah Meja Operasi

“Stop thinking, just believe…”
“Yah, kita doakan. Jam berapa operasinya?”
“…Terpujilah Tuhan! Maz 103.”

Aku tertegun sejenak melihat pesan pendek yang terakhir. Ada banyak sekali pesan yang kuterima sepanjang malam hingga pagi hari. Dari adik-adik, ibu, abang angkat, teman dekat, dan kenalan lainnya. Seolah ada yang menuntun, aku pun membuka dan membaca Mazmur 103.

Pujilah TUHAN, hai jiwaku! Pujilah nama-Nya yang kudus, hai segenap batinku! Pujilah TUHAN, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya! Dia yang mengampuni segala kesalahanmu, yang menyembuhkan segala penyakitmu, Dia yang menebus hidupmu dari lobang kubur, yang memahkotai engkau dengan kasih setia dan rahmat, Dia yang memuaskan hasratmu dengan kebaikan, sehingga masa mudamu menjadi baru seperti pada burung rajawali.

Firman itu berbicara dengan kuat dalam pikiran dan hatiku. Tuhan Mahabesar, Mahakuasa. Dia memegang kendali atas segala sesuatu, termasuk apa yang berlangsung dalam ruang operasi pagi itu. Operasi yang membuatku dan ibu gemetar dan sulit tidur. Operasi yang kami harapkan bisa menyembuhkan penyakit bapak yang sangat kami kasihi.

Enam tahun lebih bapak menderita Trigeminal Neuralgia. Penyakit itu disebabkan bersentuhannya saraf kelima dengan pembuluh darah. Efeknya, pipi seperti kena sentrum, gigi serasa dibor, mata perih, ngunyah atau sikat gigi nyeri sekali. Hal sederhana seperti terpaan angin AC dan sinar matahari bisa memicu kambuhnya penyakit ini. Di Eropa dan Jepang banyak penderita penyakit ini yang mengakhiri hidup mereka karena putus asa.

Ada beberapa opsi penyembuhan: Minum obat setiap hari, suntik botox, atau operasi Microvascular Decompression (MVD). Bapak sudah bertahun-tahun minum obat, namun tidak kunjung sembuh. Belakangan malah sudah kebal obat. Suntik botox belum pernah dilakukan karena mesti ke Singapore atau Malaysia, hasilnya juga kurang memuaskan menurut beberapa pasien.

MVD menjadi pilihan. Metodenya: tengkorak kepala bagian belakang dekat kuping dibor sekian millimeter, lalu dengan alat khusus dicari saraf kelima dan pembuluh darahnya. Setelah itu dilakukan pemisahan sejauh mungkin dan dipasang teflon sebagai pembatas. Daripada makan obat 11 butir setiap hari, ini pilihan yang patut dicoba! Pemulihannya bisa dua hari, seminggu, atau dua bulan. Tergantung kondisi fisik pasien.

Malam sebelum operasi, saat menemui dokter yang menanganinya, bapak sempat curcol, “Saya pernah putus asa, Dok. Minta Tuhan cabut saja nyawa saya supaya penderitaan ini berhenti.” Sedih sekali aku mendengarnya. Bersyukur bahwa sikap sang dokter menenangkan hati. Setelah menjelaskan hasil MRI, metode operasi, dan lain sebagainya, ia berkata mantap, “Kita akan operasi besok pagi, yang penting berdoa.”

Aku lalu mengantar bapak kembali ke kamar dan berdoa untuknya, “Tuhan, ini bapak yang saya kasihi. Dia anak yang Engkau sayangi. Kami tahu, kami punya Tuhan yang besar! Sertai dia dalam tidurnya dan tenangkan hati juga pikirannya…” Kata-kata itu mengalir bersama air mata.

Waktu terasa berjalan sangat lambat di ruang tunggu. Aku menatap monitor di hadapan kami dengan harap-harap cemas. Mazmur 103 terus terngiang dan menguatkanku. Mengingatkanku kepada siapa aku meletakkan pengharapanku: Sang Juruselamat yang berkuasa menebus dosa dan menyembuhkan segala penyakit! Dia berkuasa menjamah, mencari, memisahkan, dan membuang penyakit yang sudah membuat bapak saya menderita sekian tahun.

Setelah satu jam berlalu, gambar di monitor berganti dan suara dokter menyapa. Oh My God! Kepala bapak sudah dibor! Kami melihat saraf, pembuluh darah, dan otaknya yang berdenyut-denyut. Dengan tenang beliau menjelaskan dan menunjuk tempat saraf kelima dan pembuluh darahnya menggunakan alat setipis rambut. Ibu diam saja. Aku yakin dalam hati ia terus berdoa untuk bapak. Aku pun begitu.

Kami mengikuti semua yang dilakukan dokter terhadap bapak melalui monitor. Hanya beberapa menit, namun rasanya sangat menegangkan! Mata ibu tampak berkaca-kaca ketika akhirnya operasi selesai. Aku sendiri merasa sangat lega.

Satu jam kemudian kami dipanggil ke ICU untuk melihat bapak. Dokter yang tadi memimpin operasi juga ada di sana. “Pak Torang, bangun! Lihat ini, siapa hayoo?” Ia berseru membangunkan bapak dengan gaya bercanda.

Suaranya yang ceria membangkitkan semangat dan sukacita. Aku dan ibu tersenyum melihatnya. Bapak masih di bawah pengaruh obat bius dan memakai beberapa selang. Namun, masa kritis itu telah lewat. Sekarang bapak ada dalam tahap pemulihan. Terima kasih, Tuhan!

Peristiwa ini terjadi enam tahun lalu, tepatnya pada bulan Oktober 2011. Namun, Mazmur yang sama masih menguatkanku hingga hari ini. Adakalanya masalah yang besar membuat kita lupa bahwa kita memiliki Tuhan yang jauh lebih besar!

Secara teori kita tahu bahwa Tuhan sanggup melakukan segala sesuatu, Dia Mahakuasa! Namun pada praktiknya, kita kerap meragukan campur tangan-Nya. Kita mengaminkan bahwa Dia Mahatahu dan Mahabijak, namun kita gencar memberitahu dan mencoba mengatur apa yang seharusnya Dia lakukan.

Apa yang Tuhan izinkan terjadi membuatku mengalami sendiri apa artinya mempercayai Tuhan dan berharap kepada-Nya dalam situasi yang menurut sudut pandang manusia tidak lagi punya harapan.

Kami melihat pemeliharaan Tuhan melalui dukungan doa, proses pengobatan, serta dana yang dicukupkan pada waktunya. Semuanya disediakan Tuhan. Terpujilah Tuhan! Terima kasih abang, kakak, ibu, tim dokter, sahabat, PTPN VI dan X, juga semua yang telah menjadi sarana kasih karunia Tuhan bagi kami sekeluarga. God is able! **bdjt

 

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA