Pendeta GKI Perlu Tanggap Isu Kebangsaan

Pagi di hari Senin itu (15/5) terbilang ramai, sebagaimana biasanya warga memulai aktivitas di awal minggu. Tapi ada kesibukan lebih di kompleks Kampus Universitas Krida Wacana (UKRIDA), Tanjung Duren, Jakarta. Hari itu digelar diskusi kebangsaan yang mempertemukan para pendeta di lingkup GKI Sinode Wilayah Jawa Barat.

Sekitar enampuluhan pendeta hadir, baik mereka yang masih muda, sampai para pendeta yang sudah emeritus dan emerita. Tidak hanya dari Jakarta, beberapa peserta bahkan sejak subuh sudah berangkat dari kota-kota lain.

Ini bermula dari keprihatinan melihat situasi kebangsaan terkini,” jelas Pdt. Sheph Davidy Jonaz saat ditanya mengenai latar belakang pertemuan ini. Ketua Badan Pekerja Majelis Sinode Wilayah (BPMSW) GKI Sinode Wilayah Jawa Barat ini mengakui ada urgensi agar para pendeta GKI berbagi pemahaman dalam menyikapi dinamika sosial bangsa ini.

Sebenanya kita ada pertemuan pendeta yang lebih rutin sifatnya. Tapi, perkembangan belakangan ini membuat kita perlu mendiskusikannya secara khusus. Kita mau para pendeta GKI bisa merespon dengan cukup bijak dan baik, juga bisa menjelaskan pada jemaat. Sehingga reaksinya tidak jadi kontraproduktif,” ujarnya.

Diskusi Kebangsaan tersebut dirangkai dalam bentuk panel, bersama Pdt. Albertus Patty dan Mohammad Guntur Romli, dimoderatori langsung oleh Pdt. Davidy. Tema-tema terkait kondisi politik terkini, pergumulan gereja memenuhi panggilan dalam kehidupan berbangsa, serta sejumlah kritik dan saran atas sikap yang harusnya diambil saat-saat ini, memenuhi diskusi yang berlangsung hampir empat jam tersebut.

Guntur Romli, salah seorang panelis, mengaku senang atas respon para peserta yang dinilainya begitu antusias. “Ini menautkan semangat kita bersama untuk memperjuangkan kemanusiaan, kesetaraan dan kebangsaan Indonesia,” komentar Guntur seusai acara.

Kita perlu terus memperkuat komitmen, jangan mau diadu domba dan dipecah-pecah. Lawan kita kan sama, yaitu kemiskinan dan ketidakadilan, intoleransi dan ekstrimisme agama. Hal-hal itu sekarang mau mendominasi wacana sosial politik kita. Kita perlu bersama-sama bersikap melawannya dengan cara yang damai. Ini bukan tanggung jawab satu dua pihak saja,” tambahnya.

Pertemuan ini memang menyisakan kebutuhan dan tuntutan agar para pendeta perlu tanggap akan isu kebangsaan terkini. Gereja perlu mendorong sikap yang menggumuli dengan serius keberadaannya di masyarakat bersama semua elemen bangsa yang lain. **arms

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA