Idul Fitri: Momentum Merayakan Kemanusiaan Baru

Saudara-saudara kita, umat Muslim, pada tanggal 25 – 26 Juni 2017, merayakan hari raya Idul Fitri 1438 H. Pada hari raya ini kita mengucapkan selamat hari raya Idul Fitri, Mohon maaf lahir dan batin. Meskipun ada sebagian kecil kelompok yang melarang  umat Muslim menerima salam selamat Idul Fitri dari yang bukan Muslim, tetapi umumnya masyarakat bangsa kita, Indonesia, masih terus menjalin dan membina hubungan silaturahmi dengan baik sesama umat beragama. Ini tentu hal yang sangat menggembirakan bagi kita semua sebagai satu bangsa di tengah berkembangnya isu radikalisme dan fundamentalisme yang menggunakan atribut agama untuk kepentingan kelompok atau politik.

Hari raya Idul Fitri merupakan puncak dari pelaksanaan ibadah puasa. Idul fitri mempunyai makna yang berkaitan erat dengan pelaksanaan ibadah puasa itu sendiri.  Kata Id berasal dari akar kata aada-yauudu yang artinya kembali. Sedangkan kata fitri yang berarti suci, bersih, bebas dari segala dosa, kejelekan atau keburukan yang berasal dari akar kata fatharo-yafthiru. Selama bulan Ramadhan umat Muslim  berpuasa selama 29-30 hari.

Puasa Ramadhan sejatinya adalah upaya latihan pembaruan diri secara intelektual dan emosional.  Secara  intelektual pada masa puasa dilatih untuk menjadi manusia yang cerdas dalam bersikap, dalam bergaul, dan berbicara. Sedangkan secara emosional, orang yang berpuasa diharapkan akan tumbuh sikap sabar, bijaksana, penyayang, tidak  serakah  dan  rakus, serta  mengendalikan amarah  dan  menga-lahkan kebencian pada sesama.

Dalam konteks hari raya Idul Fitri maka masa puasa dihayati sebagai proses pembentukan dan pembaruan diri agar kembali menjadi manusia sesuai fitrahnya, yaitu menjadi manusia baru yang bertaqwa kepada Tuhan, sadar akan dirinya sebagai ciptaan Tuhan, sadar akan kelemahan dan dosa, serta mempertajam kepekaan dan kepedulian sosial kepada sesama.

Umat Muslim juga sering menyebut hari raya Idul Fitri dengan istilah Lebaran. Istilah ini merupakan pengaruh budaya Jawa. Kata Lebaran mengandung makna LebarLeburLuberLabur. Lebar  dapat diartikan  sebagai  keluasan  dan  kelegaan  hati  setelah  melaksanakan ibadah puasa serta kegembiraan menyambut hari kemenangan itu bersama keluarga dan kerabat untuk memperlebar persaudaraan.

Lebur artinya lebur dari dosa. Bersih dari dosa. Luber artinya berlimpah berkah atau berkat dari Tuhan. Labur artinya bersih. Mereka yang menjalankan puasa di bulan Ramadhan dengan benar maka ia akan menjadi manusia yang bersih dari dosa karena Tuhan mengampuni dan menyucikannya, dan oleh karena itu menyambutnya dengan kegembiraan dan memperluas jalinan silahturahmi serta mengembangkan rasa peduli pada sesama.

Dari seluruh uraian tersebut di atas kita dapat melihat keluhuran nilai yang terkandung dalam puasa Ramadhan dan perayaan Idul Fitri atau lebaran. Hari raya Idul Fitri adalah sebuah perayaan transformasi diri, perubahan  dan  pembaruan  diri, menjadi manusia  yang  bertaqwa kepada  Tuhan serta  memiliki  kepekaan  sosial  kepada  sesama  dan  lingkungannya.  Idul Fitri adalah momentum untuk merayakan kembalinya manusia kepada fitrahnya sebagai manusia yang taqwa kepada Tuhan dan penuh kepekaan serta kepedulian kepada sesamanya.

Di dalam kekristenan kita juga mengenal seruan pentingnya kita senantiasa berproses menjadi manusia baru yang terus-menerus diperbarui (Kolose 3:10 dan Efesus 4:24). Manusia yang tahu akan kelemahan dan keberdosaannya, manusia yang tahu posisinya di hadapan Tuhan, tetapi juga yang mau terus membarui diri agar semakin berkenan di hadapan Tuhan dan sesama.

Hidup yang terus dibarui akan menjadikan kita menjadi surat Kristus yang terbuka dan membawa keharuman bagi nama Yesus (2 Korintus 2: 14 – 15). Tema pelayanan kita di lingkup Sinode Wilayah GKI SW Jawa Barat juga memperlihatkan maksud yang sama yaitu, “Mewujudnyatakan pembaruan  hidup  dengan  berbagi  ruang dalam kehidupan bersama.”

Dalam perspektif pemahaman nilai luhur yang sama ini, yaitu pentingnya menjadi manusia yang beriman kepada Tuhan dan menjadi sesama bagi sesama manusia inilah kita menyapa dan mengucapkan selamat hari raya Idul Fitri kepada saudara atau rekan kita yang Muslim.

Di dalam perspektif ini kita bisa mengembangkan dialog yang jujur dan tulus untuk saling mengenal dan membangun persaudaraan. Dialog itu sendiri dilakukan dengan memperbesar kesamaan dan memperkecil perbedaan. Perbedaan di dalam akidah (pokok ajaran iman) tidak membuat kita terpisah dan terbelah.

Di dalam perbedaan yang ada kita bisa membangun kerjasama dalam menciptakan perubahan  sosial  bagi  kehidupan bangsa kita yang semakin baik  dan atau mengatasi berbagai macam masalah sosial kemasyarakatan yang ada dalam kehidupan bangsa kita sekarang ini sebagai wujud nyata tanggungjawab hidup beriman yang semakin dibarui. Kita membangun dialog kemanusiaan sebagai jembatan untuk membangun kehidupan bersama yang semakin baik di negeri yang kita cintai ini.

Hari raya Idul Fitri hendaknya menjadi momentum bagi kita semua sebagai anak bangsa untuk menciptakan persaudaraan dan kesatuan di dalam keragaman yang ada. Persaudaraan dan kerjasama yang dibangun ini amat dibutuhkan untuk memberikan alternatif bagi kehidupan bersama di Indonesia yang mulai digerogoti oleh sikap fundamentalisme dan radikalisme agama. Kita sama-sama mewujudkan Indonesia yang damai dan indah.

Selamat Idul Fitri, semoga Tuhan memberikan hari yang penuh rahmat bagi saudara kita kaum Muslim.

Penulis: Pdt. Jotje Hanri Karuh, Sekretaris Umum BPMSW GKI SW Jawa Barat

Referensi
Ahmad Muhammad Qomar, Makna Lebaran bagi umat Islam, Kompasiana, 16 April 2016.
Bayu Gawtama, Apa arti Lebaran, Era Muslim, 7 Juli 2016.
Benny Susetyo, Idul Fitri, Momentum persaudaraan sejati, Kompas, 5 November 2005
Hadi Mulyanto, Makna dan Hikmah Idul Fitri, NU Online, 27 Juli 2014.
Zuly Qodir, Idul Fitri untuk Kaum “Mustad’afin”, Kompas, 12 November 2004.

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA