Remaja GKI Klasis Bandung Gelar Café Religi

Sore itu Viona tampak hilir mudik. Ia beberapa kali menghampiri rekan-rekannya yang ada di depan panggung, juga yang membantu di sejumlah titik. Memastikan waktu, memastikan semua pos yang ada berjalan dengan lancar. Ia pun berpindah-pindah agama dari Buddha ke Tao, ke Penghayat Sunda, ke Kristen, ke Islam dan beberapa agama lainnya.

Tentu saja bukan pindah agama dalam artian konversi. Jumat sore itu(16/6) di Lantai 2 GKI Kebonjati, Viona bersama rekan-rekannya di Komisi Remaja GKI Klasis Bandung sedang menggelar acara Café Religi. Acara yang sebenarnya ada dalam nuansa ngabuburit itu mengundang sekian banyak rekan-rekan muda dari berbagai agama. Juga mengundang sejumlah narasumber yang menjelaskan secara singkat pengenalan masing-masing agama.

Ada sembilan komunitas agama dan keyakinan yang diundang dalam forum itu. Sementara tiap peserta berjalan ke beberapa pos untuk bertanya pada narasumber dari masing-masing agama. Kegiatan ini mencoba membuka wawasan kaum muda, khususnya remaja GKI se-Klasis Bandung tentang keberagaman dan juga melatih kaum muda untuk mengecek prasangka, demi membangun kerukunan umat beragama yang lebih hidup dan dinamis.

Lebih dari seratus peserta yang berpartisipasi dalam kegiatan ini tampak sangat antusias. Apalagi bagi sebagian mereka, ini merupakan kali pertama bisa mendiskusikan agama-agama lain. Langsung bersama pemeluknya yang sudah cukup memahami ajaran dan keyakinan tersebut.

Seru banget, nggak nyangka bisa serame ini,” komentar Aga, salah seorang peserta. Dalam kegiatan ini Aga sempat masuk dan bertanya pada narasumber dari komunitas penghayat, rekan yang Muslim, serta beberapa yang lain dalam obrolan santai.

Asyik kok, saya nanyanya jadi berani aja. Bahkan ada beberapa yang terbilang sensitif, tapi narasumbernya menjelaskan dengan cukup baik. Sayang waktunya terbilang singkat, padahal masih ada yang penasaran pengen ditanya,” tambah Aga.

Kegiatan yang dikerjakan Komisi Remaja Klasis Bandung bersama Komisi Kesaksian Pelayanan GKI Kebonjati dan Jaringan Kerja Antar Umat Beragama (JAKATARUB) ini memang merupakan kegiatan perdana bagi remaja GKI yang menyentuh isu lintas agama. Ke depannya diharapkan program remaja baik di tingkat klasis maupun di tiap jemaat bisa jadi lanjutan yang baik demi meningkatkan kesadaran dan kepekaan remaja, akan keberadaannya sebagai salah satu komunitas di tengah keragaman Indonesia.

Yang jelas malam itu memang punya makna tersendiri. Selain ramainya tukar-kata dalam diskusi, ada pula sejumlah doa bersama yang dipanjatkan. Ada doa pembuka yang dipanjatkan secara Kristiani, lalu doa untuk berbuka puasa dipimpin oleh rekan yang Muslim serta ada doa penutup yang dibawakan rekan-rekan dari Hindu dan Buddha. Momen hening itu terasa membekas begitu dalam.

Iweg, dari Keluarga Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia (KMHDI) Jawa Barat yang didaulat menjadi narasumber Hindu dan juga membawakan doa, mengaku sangat senang bisa berbagi dengan rekan-rekan muda GKI. Ia bersama tujuh rekannya dari KMHDI juga senang baru kali pertama bisa turut berdoa bersama di gereja.

Kapan-kapan harus ada kerjasama lagi ini,” usul Iweg bersemangat. **arms

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA