Harga Sebuah Perjalanan Ekumenis

Memang cukup mahal…

Pemikiran itu yang sekilas terlintas di benak saya, saat mempersiapkan keberangkatan menuju Sidang World Communion of Reformed Churches (WCRC) di Leipzig Jerman, yang berlangsung selama 26 Juni hingga 7 Juli 2017. Dalam berbagai sidang gerakan ekumenis sedunia, seringkali kita harus berangkat dan tinggal sekian hari di luar negeri. Bertemu dengan sekian banyak orang dari berbagai negara.

Ditinjau dari segi ekonomis, menghadiri sebuah sidang ekumenis jelas membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Penyelenggaraannya juga bukanlah sebuah hal yang murah. Tapi sebenarnya ada harga lain yang sering tak terpikirkan. Ini bukan sekedar bicara soal nominal uang yang dihabiskan.

Menghadiri persidangan ekumenis selalu membawa nuansa tersendiri. Saya tidak hanya pergi ke sebuah negara lain namun saya mengalami perjumpaan, bahkan mau tidak mau mengalami kehidupan ekumenis itu sendiri.

Sebelum berangkat ke Jerman, saya sudah mengetahui bahwa teman sekamar saya adalah seorang perempuan dari Afrika. Tinggal sekamar dengan seorang yang tidak kita kenal selama seminggu lebih nampaknya bukan sesuatu hal yang nyaman. Apalagi orang ini tidak berasal dari budaya yang sama.

Yang pasti saya akan kehilangan sejumlah kenyaman saya. Saya harus sabar berbagi meja belajar yang hanya satu. Harus bersabar juga berbagi kamar mandi yang hanya satu dan saya juga harus bersabar berbagi giliran conference call dengan keluarga.

Memang peristiwa berbagi kamar hanyalah hal sederhana. Namun saya bisa merefleksikan ketidaknyamanan yang ada di benak saya tadi. Berbagi kamar saja sudah susah apalagi berbagi kehidupan.

Kehidupan ekumenis adalah sebuah kehidupan berbagi. Berbagi berarti melangkah keluar dari zona nyaman dan memasuki sebuah kehidupan bersama yang membutuhkan pengorbanan. Saya merenung dan menyadari selama ini kita tidak cukup berani bayar harga untuk sebuah kehidupan ekumenis. Kita enggan berbagi, kita bahkan tidak mampu melangkah keluar dari kenyamanan kita.

Kehidupan ekumenis menjadi sebuah kehidupan di awang-awang seringkali yang hanya tercermin dalam bentuk persidangan antar gereja. Kehidupan ekumenis sering menjadi sesuatu yang tidak mampu kita upayakan dalam kehidupan bergereja sehari-hari.

Memasuki sebuah kehidupan ekumenis sebenarnya berarti meninggalkan prasangka dan memberikan kesempatan. Memasuki sebuah kehidupan ekumenis berarti mau berbagi bahkan merugi karena mereka bukan orang lain, mereka dan kita adalah satu Tubuh Kristus.

Hidup dalam kehidupan ekumenis berarti siap merasa tidak nyaman. Jika selama ini kita tidak pernah merasa terganggu dan tetap merasa nyaman maka saya rasa kita belum membumikan kehidupan ekumenis. Kehidupan ekumenis itu masih menjadi sebuah negeri di awan yang kita lagukan namun tidak sanggup kita daratkan.

Maka menurut saya disinilah letak harga yang lebih mahal. Lebih tepatnya, harga yang lebih susah untuk dibayar. Harga yang justru lebih perlu dibayar lewat praktik keseherian bergereja. Kiranya Tuhan menolong kita untuk mau keluar dari zona nyoman kita dan berupaya hidup sebagai satu Tubuh Kristus.

Penulis:  Pdt. Cordelia Gunawan

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA