Alkitab Tanpa Nomor Ayat

Kebiasaan membaca dan menghafal Alkitab dengan bantuan nomor ayat dan pasal adalah hal yang lazim kita jumpai dalam tradisi kekristenan sekarang. Sejumlah ayat emas atau ayat favorit juga biasa dirujuk dengan angka-angka pasal dan ayat. Rasanya sulit membayangkan jika kitab suci awalnya tidak dinomori demikian.

Namun, memang begitulah adanya. Tiap kitab di Alkitab adalah satu kesatuan utuh, dan awalnya dibaca layaknya kita membaca surat atau cerita yang ditulis tanpa jeda. Tidak ditulis dengan potongan-potongan ayat seperti yang kita pakai sekarang. Apalagi dipenggal dengan judul-judul perikop, seperti lazim kita temui dalam versi terjemahan baru, Lembaga Alkitab Indonesia. Bahkan dalam manuskrip yang paling klasik, teks Ibrani atau Yunani, Alkitab kadang tidak disertai spasi atau jeda paragraf.

Lalu, sejak kapan Alkitab jadi dinomori seperti sekarang?

Hal ini bermula dari kebiasaan bangsa Yahudi untuk menamatkan bacaan Taurat (semacam tradisi khattam Quran di Islam). Maka kitab suci pun dibagi-bagi menjadi beberapa bagian paragraf yang disebut parashot. Sebelum pembuangan Babel, kitab Taurat dibagi dalam 154 parashot sehingga bila dibacakan tiap Sabbat akan tamat dibaca setelah 3 tahun. Sejak pembuangan Babel, porsi bacaan diperpanjang, hingga hanya ada 53 atau 54 parashot, yang akan selesai dibaca dalam setahun.

Tradisi ini dikembangkan juga untuk kitab Perjanjian Lama lainnya. Lantas, diteruskan dalam tradisi Kristen, dimana tiap kitab Injil dan surat para rasul dibagi ke dalam beberapa kephalaion. Hal yang mendahului dari apa yang kini kita kenal sekarang sebagai leksionari (daftar bacaan Alkitab untuk ibadah).

Kecuali untuk Kitab Mazmur, yang memang sudah terbagi dalam kelompok syair dan ada beberapa bagian yang sejak awal memang dibaca bersahut-sahutan, pembagian klasik ara parashot dan kephalaion itu belumlah sama dengan pembagian pasal di Alkitab modern. Baru pada zaman Kardinal Stephen Langton (Uskup Agung Canteburry 1207-1228), Vulgata, Alkitab terjemahan Latin resmi, dibagi ke dalam nomor pasal seperti yang kita kenal sekarang. Kardinal Langton meyakini Alkitab akan lebih mudah dibaca dan dirujuk jika diberi nomor pasal, tidak sekedar dibagi dalam paragraf.

Penomoran ayat, bahkan baru dilakukan lebih baru lagi. Adalah biarawan Dominikan asal Italia, Santi Pagnini (1470-1541) yang tercatat pertama kali memberi nomor ayat pada pasal-pasal kitab Perjanjian Baru. Hanya saja sistem yang dipakainya dinilai kurang praktis. Kebanyakan pemenggalan ayat Alkitab modern mengikuti apa yang dikembangkan oleh Robert Estienne (1503-1559), seorang juru cetak asal Perancis.

Patut diingat, meski sangat membantu untuk jadwal bacaan dan rujukan, nomor pasal dan ayat yang memenggal Alkitab tidak selalu pas. Ada pemenggalan yang sebenarnya tanggung, semisal dalam versi Terjemahan Baru LAI di Amsal 25:7 ada frasa: “Apa matamu lihat,” yang sebenarnya lebih pas jika dimasukkan ke ayat delapannya.

Terkadang hal ini pun menyentuh masalah teologis. Sebagai contoh, pemenggalan Pasal 5 Surat Efesus, apalagi dengan penambahan judul, “Kasih Kristus adalah dasar hidup suami istri,” seolah-olah menyempitkan makna Efesus 5:22-29 adalah melulu soal hukum hubungan suami istri. Apalagi membenarkan argumen patriarkis: pokoknya istri harus tunduk pada suami.

Padahal sangat mungkin, Paulus hanya menggunakan analogi hubungan suami-istri untuk mengilustrasikan hubungan Kristus dengan jemaat, sebagaimana terlihat dalam ayat sebelum dan sesudahnya.

Jadi ada baiknya jika sembari membaca Alkitab, kadang kita perlu membayangkan kalau nomor ayat dan pasal dan judul perikopnya tidak ada. **arms

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA