Indonesia Bersyukur

Memasuki bulan Agustus, seperti biasa, kita melihat bendera Merah Putih berkibar di mana-mana. Tahun ini agak menarik karena adanya himbauan yang cukup masif (paling tidak di daerah tempat tinggal saya) dari pihak RT, RW dan kelurahan agar semua rumah memasang bendera. Meskipun terlihat banyak bendera di mana-mana, namun saya tetap merasakan adanya sesuatu yang berbeda bila dibanding dengan suasana bulan Agustus di masa kecil dulu.

Dulu gairahnya sangat terasa. Semangat untuk menyambut perayaan kemerdekaan pun tampak dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat. Saat ini lebih terasa sebagai formalitas saja. Sebab yang tampak sibuk memasang berbagai hiasan khas HUT RI hanya para petugas sementara masyarakat terlihat biasa-biasa saja.

Permainan-permainan khas yang dulu biasa diadakan untuk memeriahkan hari kemerdekaan pun terpaksa dibatalkan oleh panitia karena kurangnya peminat. Saya perlu sampaikan bahwa hal ini hanyalah merupakan pengamatan di lingkungan sekitar saya saja, semoga di tempat lain masyarakat Indonesia masih tetap bergairah merayakan hari kemerdekaannya.

Namun demikian, bila mengamati pemberitaan di media-media maka kita melihat bahwa apa yang terjadi di lingkungan sekitar saya tidaklah unik. Di tempat lain ada juga kelompok masyarakat yang enggan merayakan kemerdekaan negaranya. Bukan hanya menolak memasang bendera, bahkan salah satu di antaranya berani membakar umbul-umbul merah putih  atribut perayaan. Ketika polisi menanyakan alasannya, dengan terus terang ia menyatakan kebenciannya terhadap NKRI.

Sikap yang anti terhadap NKRI seperti yang ditunjukkan oleh si pembakar umbul-umbul juga bukan sikap yang unik, yang dimiliki hanya olehnya seorang. Dari berita-berita kita tahu ada kelompok-kelompok yang telah dengan terang-terangan menunjukkan sikap yang anti terhadap NKRI dan Pancasila dan dengan terang-terangan juga menyatakan keinginan dan perjuangan untuk mewujudkan bentuk bernegara yang lain.

Seberapa banyakkah kelompok masyarakat yang  bersikap  seperti itu? Katanya sih tidak (atau belum?) banyak. Jauh lebih banyak masyarakat yang tidak anti tapi juga tidak menunjukkan kepedulian terhadap bangsanya. Tidak  membakar  atribut perayaan tapi juga tidak ikut merayakan. Hanya turut serta memasang bendera sambil berharap semoga pemerintahan Presiden Jokowi sekarang ini dapat mencegah penyebaran gerakan yang anti terhadap NKRI dan Pancasila. Berharap pemerintahan Presiden Jokowi dan para menterinya sekarang ini dapat mempercepat pembangunan negara kita sehingga dapat sejajar dengan negara-negara maju di dunia sambil berkeluh-kesah terhadap segala persoalan bangsa yang masih ada.

Jika kita membaca Keluaran 15 kita dapat turut merasakan kegairahan dan sukacita besar dari bangsa Israel yang baru saja dimerdekakan dari penindasan dan ancaman bangsa Mesir. Allah bukan saja telah menuntun bangsa Israel keluar dari Mesir dengan membelah laut Teberau tetapi juga telah menenggelamkan seluruh pasukan Mesir yang mengejar bangsa Israel.

Sekarang, Israel adalah bangsa yang bebas. Tidak lagi tertindas, tidak lagi terancam. Karena itulah mereka mengungkapkan rasa syukur mereka dengan puji-pujian kepada TUHAN. Dikisahkan bagaimana Musa bersama-sama dengan orang-orang Israel menyanyikan puji-pujian bagi TUHAN sementara Miryam bersama semua perempuan Israel memukul rebana serta menari-nari. Kegairahan serta sukacita besar yang juga pernah dirasakan oleh bangsa Indonesia saat kita baru saja berhasil merebut kemerdekaan dari bangsa penjajah.

Kemerdekaan Indonesia disambut dengan sorak-sorai dan nyanyian seluruh rakyat yang menyambut para pejuang kemerdekaan. Kita menyadari bahwa kemerdekaan adalah sesuatu yang sangat berharga yang harus dibayar oleh darah dan air mata para pejuang kemerdekaan dulu.

Kita juga percaya bahwa kemerdekaan yang diraih bukan hanya buah perjuangan manusia tetapi juga anugerah dari Tuhan. Kita memasuki kehidupan baru sebagai sebuah bangsa yang merdeka dengan penuh harapan akan kehidupan yang lebih baik (dan lebih mudah?)

Seiring berjalannya waktu, bangsa Israel yang telah merdeka segera berhadapan dengan realita kehidupan. Di padang gurun Sin mereka tidak lagi bersukacita dan mengucap syukur atas kebebasan mereka melainkan bersungut-sungut kepada Musa dan Harun. Bangsa Israel yang sedang lapar teringat kepada makanan yang mereka makan di Mesir (Kel. 16:1-3) dan menyalahkan Musa atas keadaan sulit yang sedang mereka hadapi.

Mereka memilih untuk mati di Mesir di hadapan kuali berisi daging dan makan roti sampai kenyang dari pada merdeka tapi lapar. Mereka tidak dapat lagi menghargai kebebasan yang mereka peroleh dengan campur tangan Tuhan. Bangsa Israel lupa bahwa dulu mereka sendiri yang berseru memohon belas kasihan TUHAN agar menolong mereka dari penindasan Mesir. Sekarang bangsa itu menuntut Musa untuk menyediakan makan dan minum bagi mereka karena Musa-lah yang telah membawa mereka keluar dari Mesir.

Dalam Bilangan 11:4-23,  bangsa I srael  bukan saja tidak  dapat  mensyukuri kemerdekaan  mereka  dari  Mesir  bahkan  kini  mereka  juga  tidak dapat mensyukuri manna yang diberikan TUHAN untuk mereka makan. Mereka memang tidak lagi kelaparan tetapi sekarang mereka menginginkan makanan yang “lebih sejahtera”. Merdeka  saja  tidak  lagi  cukup,  mereka  juga  ingin sejahtera. Mereka ingin makan daging! Siapakah yang harus mengusahakan daging untuk mereka makan?

Seperti biasa, Musalah dengan pertolongan TUHAN yang harus mengusahakan semuanya. Mulai dari menghadap Firaun, membawa Israel keluar dari Mesir, membelah laut Teberau, menyediakan manna untuk dimakan dan air untuk diminum bahkan juga harus memohonkan ampun kepada TUHAN agar bangsa itu tidak dibinasakan karena dosa mereka. Saat ini Musa sudah sampai pada puncak kekuatannya. Ia berkeluh kesah kepada TUHAN atas tanggung jawab yang  diberikan TUHAN kepadanya  untuk memimpin Israel. Dengan jujur Musa mengakui keterbatasannya, “Aku seorang diri tidak dapat memikul tanggung jawab atas seluruh bangsa ini, sebab terlalu berat bagiku.” – Bil. 11:14

Merenungkan kembali kemerdekaan Indonesia yang sudah kita nikmati selama 72 tahun ini, apakah kita masih mensyukuri kemerdekaan kita itu? Masihkah kita merayakannya dengan sukacita yang besar seperti pada saat kita baru merdeka? Atau seperti Israel yang segera kecewa karena ternyata kita yang sudah merdeka ini masih harus bekerja? Hidup di negara yang merdeka bukan berarti hidup tanpa bekerja tanpa berusaha.

Kita tetap harus bekerja, kita tetap harus berusaha! Bedanya: saat ini hasil pekerjaan kita, kita nikmati sendiri bukan dinikmati oleh para penjajah. Bahkan di era kemerdekaan ini, kita juga masih harus berjuang. Bukan lagi dengan mengangkat senjata melawan penjajah tetapi berjuang dengan menyingsingkan lengan baju untuk membangun negeri. Siapa yang berjuang? Kita! Semua warga negara!

Kita tidak boleh melakukan apa yang dilakukan oleh bangsa Israel dalam mengisi kemerdekaan mereka setelah mereka keluar dari Mesir dengan bergantung hanya kepada Musa dan Tuhan sementara yang  mereka  lakukan  hanyalah  berkeluh kesah  dan menuntut kehidupan yang lebih baik. Jika kita hanya mengharapkan kemajuan negeri ini hanya pada Presiden Jokowi sambil terus berkeluh kesah dan mengkritik tiada henti tanpa melakukan sesuatu yang berarti bagi bangsa, maka dapat dipastikan bangsa kita akan terus tertinggal. Negeri ini terlalu besar untuk ditanggung oleh seorang Jokowi atau siapapun orang yang menjadi pemimpin kita.

Kita harus bersama-sama menanggungnya, sebab kemerdekaan ini adalah keinginan kita semua. Marilah bersama-sama kita menanggungnya sesuai dengan tugas dan peran kita di tengah-tengah bangsa ini. Saat ini mungkin negeri kita ini belum memenuhi semua harapan kita akan sebuah negeri merdeka. Tapi paling tidak kita hidup di negeri yang merdeka, syukurilah hal ini karena tidak semua bangsa dapat menikmatinya.

Bersyukurlah Indonesia! Sebab hanya dengan bersyukur kita dapat menghargai negeri kita ini. Hanya dengan menghargai kita dapat menyadari betapa bernilainya kemerdekaan kita. Hanya dengan menyadari betapa bernilainya sebuah negeri yang merdeka maka kita mau memperjuangkannya. Merdeka!

Penulis: Pdt. Gunawan ( anggota BPMK GKI Klasis Jakarta Barat)

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA