Matonge, Dusun yang “Tidak Tercatat”

Tidak tercatat. Itulah dua kata mengenai Dusun Matonge, di Sulawesi. Dusun Matonge tidak tercatat di peta. Matonge pun tidak ada di google. Penduduknya pun tidak tercatat, karena mereka dahulu adalah penduduk suku yang tinggal di atas pohon. Tidak kenal baca atau tulis atau berhitung. Jadilah bersama dengan Tim GKI Kepa Duri (Pdt. Daud Naibaho, Ibu Esther C, Pnt. Waris, Pnt. Lambertus, dan Pnt. Cindar) serta Pdt. Arliyanus dan Pdt. Davidy, kami pergi mengunjungi dusun tak tercatat ini. Seragam, obat-obatan, buku-buku, biji kopi dan lain-lain kami bawakan untuk penduduk di Dusun Matonge.

Mencapai Dusun Matonge membutuhkan perjuangan tersendiri, tiba di Palu kami masih harus menempuh perjalanan ke Pasangkayu sekitar 4 jam, itu pun harus melalui sungai yang terkadang sangat pasang sehingga air naik dan kita pun harus menunggu sampai surut atau setengah surut. Sampai di Pasangkayu kami harus berganti mobil yang dapat melalui jalanan yang naik turun dan belum diaspal.

Setelah itu, di sebuah kampung kami harus menempuh perjalanan naik turun gunung selama 1 jam melintasi jalan yang belum berjalur serta melewati beberapa sungai. Jangan berharap bisa mendapatkan sinyal mobile phone karena tidak ada sinyal di sana. Di kampung dimana GKI Kepa Duri mendirikan rumah singgah untuk anak-anak ini tinggal selama menempuh pendidikan SMP tidak ada listrik. Di Dusun Matonge ada listrik karena GKI Kepa Duri menyusun instalasi listrik.

Sampai di rumah singgah ada kurang lebih 15 anak SMP dari Dusun Matonge yang meninggalkan dusun dan keluarganya untuk sekolah. Hari makin gelap dan anak-anak itu duduk tanpa penerangan dan tanpa kegiatan. Keesokan harinya anak-anak itu bersemangat memakai baju seragam yang dibawakan walaupun kebesaran dan harus diikat tali rafia, namun mereka begitu bersukacita.

Perjalanan kami lanjutkan ke Dusun Matonge, setelah berjalan kira-kira sejam lebih sampailah kami di sebuah dusun dengan pemandangan yang indah, rumah-rumah yang sangat sederhana. anak-anak yang sedang bermain dalam rumah panggung, mereka bersembunyi ketika kami mendekat.

Mereka tidak mengenakan alas kaki, mereka belum lama diajarkan mandi, merawat kesehatan, dan banyak hal baru yang diperkenalkan dan diajar pada mereka. Mengherankan sekaligus memilukan karena ternyata tersembunyi di balik gunung, tidak tercatat, ada sekelompok penduduk yang hidup dan seolah belum tersentuh dengan kemajuan kota besar.

Di dalam keterbatasan dan kesederhanaan namun juga dalam kebahagiaan para penduduk Dusun Matonge saya kembali menghayati bahagia itu sederhana. Mereka hidup dalam kesederhanaan bahkan mungkin kita dapat melihatnya sebagai kekurangan. Bagi mereka bahagia itu sangat sederhana. Mata anak-anak itu berbinar diberikan seragam sekolah. Para ibu begitu bersemangat meminum obat cacing. Para bapak dengan penuh gairah mendengarkan dan belajar cara menanam kopi.

Bahagia itu sederhana dan itu saya lihat dengan jelas di Matonge namun mungkin motto itu kurang berlaku di kota-kota besar dan dalam kehidupan kita. Bahagia tidak lagi sederhana. Kita sudah mendapat banyak berkat dari Tuhan namun tetap saja banyak di antara kita yang kurang merasa bahagia.

Seandainya saja kita bisa belajar dan menerapkan bahagia itu sederhana maka sesulit apa pun kehidupan kita pasti tetap merasa bahagia, mengapa? Karena berkat Tuhan dalam hidup kita melampaui limit sederhana. Tuhan sudah memberkati kita dengan berlimpah.

Dalam percakapan dengan mereka yang membantu dan tinggal di Dusun Matonge, mendengar mereka mengatakan bahwa sekarang warga Dusun Matonge lebih suka makan nasi dan bahkan banyak anak sekolah malu membawa bekal jika yang dibawa adalah singkong, saya terkesima mendengar jawaban Pdt. Davidy, “Singkong itu karbohidrat sama saja dengan nasi. Menolong warga Dusun Matonge bukan berarti mengubah mereka menjadi kita. Mereka bukan kita. Banyak hal baik yang tidak perlu diubah, sekalipun ada yang harus diubah.”

Menarik mendengar paparan sederhana tersebut karena menurut saya jika kita tidak mengingat hal itu kita terjebak pada kesalahan yang dilakukan oleh para missionaris dahulu, mereka membawa kekristenan dan mematikan kebudayaan lokal mengganti dengan kebudayaan barat yang memang saat itu sudah lebih maju namun mematikan kearifan lokal.

Saya yakin setiap kita punya niat yang baik memajukan saudara kita di dusun-dusun seperti Matonge, namun jangan terjebak dalam upaya meng’kita’kan mereka karena mereka bukan kita. Justru kita harus membangun rasa percaya diri mereka, membangun kebiasaan yang baik dan menghapus kebiasaan yang tidak baik, bahkan kita dapat belajar dari mereka juga.

Mengingat Matonge berarti mengingat ada tugas yang belum selesai yaitu menyalurkan berkat Tuhan yang kita terima ini kepada mereka yang ada di Dusun Matonge. Tidak hanya materi namun juga jerih lelah dan upaya untuk ikut membangun Matonge menjadi Cerdas, Sehat dan Bekerja. Motto inilah yang diungkapkan Pdt. Arliyanus Larosa dalam lagu karangannya.

Tidak mudah. Tidak langsung berhasil, namun terus berupaya dan memohon Tuhan menyempurnakan upaya kita, sehingga Dusun Matonge ini benar-benar mengalami kemajuan. Menyalurkan berkat bukan berarti kita menjadi subyek dan mereka obyeknya, bukan…, namun saat kita menyalurkan berkat untuk mereka, keberadaan mereka juga menjadi berkat bagi kita.

Di balik gunung ada dusun yang tidak tercatat namun keberadaan mereka paling tidak tercatat dalam benak saya, dan memicu saya juga kita untuk tidak mengenggam sendiri berkat Tuhan namun bersama menjadi berkat dan merasakan berkat Tuhan saat kita mau peduli kepada mereka yang tinggal di Dusun Matonge. Saya rasa ada banyak matonge-matonge lain, tempat yang tidak tercatat dan membutuhkan sentuhan kasih Tuhan melalui saudara dan saya.

Terima kasih untuk setiap mereka yang sudah ikut serta menyalurkan berkat bagi mereka yang tidak tercatat di Dusun Matonge. Terima kasih rekan-rekan dari GKI Kepa Duri yang sudah mengajak saya ikut dalam perjalanan ini. Menyalurkan berkat bagi mereka saja menurut saya sudah berkat yang luar biasa dari Tuhan. Kiranya Tuhan terus menolong dan melengkapi kita.

Penulis: Pdt. Cordelia Gunawan

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA