Serba-serbi Angka di Alkitab: Empat Puluh

Life begins at forty. Hidup dimulai saat usai empat puluh. Demikian ungkapan yang sering kita dengar dalam Bahasa Inggris. Di banyak kebudayaan lain, usia 40 tahun sering dianggap sebagai usia dewasa dan matang. Masa sejatinya seorang manusia berperan aktif dan layak dijadikan pemimpin.

Sementara itu, di suku-suku pengembara Arab ada nasehat untuk mengenal seseorang kita harus tinggal bersamanya minimal 40 hari. Dalam kebudayaan Nusantara, kita juga mengetahui momen 40 hari selepas kelahiran dan kematian seseorang, dianggap sebagai satu peristiwa dengan makna sakral tertentu.

Ada semacam ketaksadaran komunal di banyak budaya, termasuk dalam penulisan Alkitab, untuk mengaitkan angka 40 dengan suatu proses, suatu pengujian, masa persiapan atau upaya pemurnian. Dalam kisah di Perjanjian Lama kita mengingat, misalnya, banjir di masa Nuh berlangsung selama empat puluh hari, empat puluh malam (Kejadian 7:4). Demikian pula para pengintai Israel memakan waktu yang sama untuk mengintari Kanaan (Bilangan 13:25).

Beberapa sosok Alkitab diceritakan mengalami proses refleksi yang berkaitan dengan angka empat puluh itu. Musa, misalnya, mengembara selama 40 tahun, sebelum akhirnya dipanggil Tuhan untuk membebaskan umat Israel dari Mesir.

Empat puluh tahun juga sering dianggap sebagai durasi untuk satu generasi. Saat umat Israel menolak masuk Kanaan, mereka menghabiskan waktu selama 40 tahun di padang gurun, dengan catatan agar generasi barulah yang akan memasuki tanah perjanjian itu (Bilangan 32:13). Demikian pula para pemimpin Israel – semisal Eli, Saul, Daud, dan Salomo – dicatat memerintah selama 40 tahun, yang berarti melayani satu generasi.

Ini yang kemudian dilambangkan dalam tradisi mikveh (semacam baptisan di Yudaisme), yang mensyaratkan air untuk upacara tersebut bervolume 40 se’ah (sekitar 288 liter) untuk mengingatkan bahwa satu generasi baru tengah hadir bagi umat.

Di contoh lain, Musa, Nabi Elia dan Yesus dikisahkan menjalani puasa selama 40 hari, untuk momen persiapan pelayanan maupun dalam mempersiapkan diri dalam hadirat Tuhan. Penduduk Niniwe yang mendengar pesan Tuhan lewat Nabi Yunus, menghabiskan waktu selama 40 hari untuk berpuasa dan menyesali dosa-dosanya.

Tradisi puasa yang mengandung makna kerendahan hati dan persiapan seperti itulah yang kemudian diberi makna baru oleh umat Kristiani dalam puasa Pra-Paskah (Great Lent). Momen dari Rabu Abu hingga Jumat Agung (dalam tradisi Gereja Barat) atau dari Senin Kudus hingga Sabtu Lazarus (dalam tradisi Gereja Timur) dianggap sebagai momen pertobatan dan persiapan, sekaligus refleksi pribadi dan komunal. Masa-masa ini diharapkan menjadi retreat bagi gereja, memaknai kembali kehidupan, peran dan apa yang telah dikerjakannya di tengah kehidupan.

Namun ada yang unik, meski sangat sarat dengan angka dan simbol, Kitab Wahyu, maupun bagian Kitab Daniel yang bernada apokaliptis tidak memuat angka 40. Nampaknya makna proses, pengujian dan persiapan itu erat kaitannya dengan upaya spiritual manusiawi, serta aspek here and now, karya kekiniaan dan di dunia yang kita tinggali.**arms

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA