Tiga Masalah dalam Situasi Jelang Pemilu

Kemerdekaan yang diperoleh Indonesia bukanlah hadiah dari bangsa lain. Ada perjuangan yang menghabiskan waktu, tenaga bahkan harus dibayar dengan nyawa oleh para pendiri bangsa kita yang berasal dari berbagai latar belakang. Di satu sisi itu memang memilukan, tapi juga menjadi blessing in disgusie, karena lewat perjuangan itu bangsa kita jadi memiliki kesadaran perjuangan bersama. Kita sadar bahwa perpecahan akan melemahkan perjuangan.

Kenyataan itu disampaikan oleh Pdt. Albertus Patty sebagai pembuka seminar bertajuk Situasi Politik Menjelang Pemilu 2019 dan Respon Gereja, yang diadakan di GKI Maulana Yusuf pada Kamis (17/8). Dalam acara yang merupakan bagian dari rangkaian acara Perayaan Jubileum 50 Tahun GKI Maulana Yusuf itu, Pdt. Patty kemudian menyampaikan pandangannya tentang tiga permasalahan utama yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini.

Yang pertama adalah menguatnya fundamentalisme dan ekstrimisme agama, lalu sulitnya mempertahankan persatuan dan kesatuan bangsa di tataran elit politk, dan ketiga adalah masalah kesenjangan ekonomi,” Pdt. Patty mengurutkan.

Menurut salah satu ketua PGI ini, persoalan tersebut adalah juga pekerjaan rumah bersama gereja bersama komponen bangsa lainnya. Apalagi bangsa ini sebentar lagi akan menghadapi momen politis yang cukup menentukan, yaitu Pemilukada sertentak 2018, lalau Pemilu Legistalitif dan Pemilu Presiden 2019. Bagi Pdt. Patty narasi besar persatuan dalam memperoleh kemerdekaan Indonesia perlu terus dihidupi dan ditampilkan relevan dalam keseharian.

Lewat pendalaman diskusi, Pdt. Patty dan para peserta seminar meyakini gereja terpanggil untuk memahami persoalan bangsa ini dalam terang Firman Tuhan, lalu mencari dan memberikan jawaban strategis untuk persoalan bangsa tersebut. Oleh karena itu gereja harus mendorong warganya untuk mengemban tugasnya sebagai garam dan terang dunia, keluar dari zona nyaman dan berani berpikiran luas.

Politik harus dibicarakan dan didiskusikan di gereja tanpa terjebak politik partisan. Gereja harus pula menyiapkan generasi yang cerdas dan tangguh serta memiliki komitmen kebangsaan. Gereja harus pula membuka diri untuk melakukan kerjasama dengan berbagai unsur masyarakat yang beragam ini,” tambah Pdt. Patty.

Salah seorang peserta sekaligus panitia seminar, Pnt. Rona Tobing, mengungkapkan apa yang dibahas dalam seminar kali ini memang relevan. Ketiga permasalahan yang utama yang diungkapkan oleh Pdt. Patty tadi dinilainya juga amat sesuai dengan apa yang ia dan rekan-rekannya rasakan.

Seringkali kita memang terlalu nyaman dengan spiritualitas individu, dan sekedar beribadah demi kita. Padahal hal-hal yang seperti ini perlu terus dibukakan, ini juga adalah bagian dari ekspresi iman. Juga wujud kemerdekaan spiritual. Jangan-jangan kita selama ini belum merdeka, justru karena kita terperangkap dalam ketakutan sekaligus kenyamanan kita yang semu,” ujar Pnt. Rona dengan nada serius. **arms

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA