Variasi dalam Sepuluh Perintah Allah

Seorang pemuda Katolik pernah dinasehati rekan Protestannya agar ia selalu mengingat perintah kelima dari sepuluh perintah Allah, yaitu agar ia menghormati orang tuanya. Si pemuda Katolik justru heran. Bukan karena nasehat baiknya, tapi ia bingung masakkan dia diingatkan untuk tidak membunuh.

Benar, urutan Sepuluh Perintah Allah (dikenal juga dengan sebutan Dasa Titah, atau Dekalog) ternyata tidak sama dalam berbagai tradisi kekristenan. Lebih luas lagi, tradisi Yahudi dan Samaria, meski sama-sama mengamalkan dasa titah, juga punya urutan yang berbeda.

Meski dalam Keluaran 34:28 dan Bilangan 10:24 perintah yang langsung diucapkan Tuhan itu disebutkan sebagai sepuluh firman (Ibrani: aseret ha’devarim; Yunani: deka logous), tapi dalam redaksionalnya baik di Keluaran 20:1-17, maupun Ulangan 5:4-21, tidak disebutkan bagaimana seluruh perintah itu dibagi dan diurutkan.

Dalam sejarah, setidaknya ada beberapa variasi pengurutan yang pernah diterapkan. Ada yang memilih redaksional di Kitab keluaran, ada pula yang memilih redaksional di Kitab Ulangan, atau kombinasinya.

Tradisi pembagian Septuaginta (Perjanjian Lama berbahasa Yunani) boleh dikatakan salah satu pembagian urutan yang paling tua (abad IV SM). Lebih banyak memakai redaksi dari Kitab Keluaran, tradisi yang kini diikuti oleh Gereja Ortodoks ini membaginya menjadi sepuluh perintah dengan rincian:

  1. larangan untuk menyembah ilah lain,
  2. larangan untuk membuat patung untuk disembah,
  3. larangan menyebut nama Tuhan dengan sembarangan,
  4. perintah pengudusan hari Sabbat,
  5. perintah menghormati orang tua,
  6. larangan untuk membunuh,
  7. larangan atas perbuatan zinah,
  8. larangan untuk mencuri,
  9. larangan untuk bersaksi dusta, dan
  10. larangan untuk mengingini istri dan milik sesama.

Philo, filsuf Yahudi (20 SM- 50 M), juga memakai urutan dan pembagian yang sama dengan Septuaginta, hanya saja, di titah keenam dan ketujuhnya saling bertukar.

Versi pembagian Talmud Yahudi, punya keunikan tersendiri. Tradisi Yahudi ini menjadikan kalimat pembuka ucapan Tuhan: “Akulah TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan,” sebagai perintah pertama. Lalu perintah pertama dan kedua dalam Septuaginta digabung menjadi satu, sebagai perintah kedua. Sehingga urutan berikutnya sama dengan Septuaginta.

Penggabungan perintah pertama dan kedua versi Septuaginta, juga dilakukan oleh St. Agustinus. Tapi Bapa Gereja dari Afrika Utara ini tidak menyertakan kalimat pembuka seperti di Talmud. Walhasil dari perintah kedua sampai kedelapan, urutan versi Agustinus ini lebih maju satu dibandingkan dengan versi Septuaginta. Di ujungnya, titah kesepuluh Septuaginta dibagi menjadi dua. Agustinus menyebut titah kesembilan adalah larangan untuk mengingini istri sesama, sedangkan titah kesepuluh adalah larangan mengingini milik sesama, karena ia mengikuti redaksi dari Kitab Ulangan.

Pembagian versi Agustinus ini diikuti oleh Katekismus Gereja Katolik dengan menambahkan redaksional pembuka di Talmud Yahudi dan menggabungkannya dengan perintah pertama. Inilah redaksi yang dipakai oleh umat Katolik sampai sekarang.

Katekismus Kecil awal versi Martin Luther juga mengikuti urutan yang demikian, namun lebih memakai redaksi yang di Kitab Keluaran. Walhasil, titah kesembilan versi Luther adalah larangan untuk mengingini milik sesama dan titah kesepuluh adalah larangan mengingini istri sesama.

Secara terpisah, urutan dalam Tradisi Samaria mirip dengan pembagian versi Agustinus, dari titah pertama sampai ke delapan. Namun titah kesembilannya menggabungkan larangan untuk mengingini istri sesama dengan larangan mengingini milik sesama, seperti pada versi Septuaginta dan Talmud Yahudi. Lantas apa perintah kesepuluhnya? Hanya tercatat dalam Taurat Samaria, yaitu perintah mendirikan batu peringatan di Gunung Gerizim (Keluaran 20:17 versi Pentateuk Samaria).

Sementara itu, Calvin nampaknya tetap mengikuti urutan versi Septuaginta, namun menambahkan kalimat pembuka ke dalam titah pertama. Tapi tidak seluruh kalimat pembuka seperti di versi Talmud, Calvin hanya memulainya dengan kata: Akulah Tuhan Allahmu, (seru Tuhan kita). Versi ini lah yang banyak diikuti oleh gereja-gereja Protestan setelahnya, juga oleh gereja-gereja yang berlatar Anglikan.

Tentu saja tak soal versi mana yang diikuti, karena masing-masing punya penekanan teologis tertentu. Namun mengetahui variasi seperti ini tentu menarik untuk menelusuri dan memperkaya pemahaman teologis kita. **arms

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA