Ishak, Bapa ‘Kanaan’ yang Setia

Bukankah harusnya Ham, saudara Sem dan Yafet. Tetapi Ishak layak disematkan sebagai Bapa Kanaan karena memilih dan kesetiaannya mendengarkan perintah Tuhan (Kejadian 9:22).

Abraham, Ishak dan Yakub adalah tiga Bapa leluhur bagi bangsa Israel. Abraham adalah orang Ur-Kasdim yang Tuhan panggil untuk masuk ke Tanah Kanaan dan sampai menutup usia disana. Yakub yang lahir di Kanaan harus menutup usianya di Tanah Gosyen, Mesir, meskipun jasadnya dikebumikan di tanah leluhurnya.

Sedangkan Ishak adalah satu-satunya Bapa leluhur orang Israel yang lahir, mati dan dikuburkan di Tanah Kanaan. Meskipun bencana kelaparan hampir membuat Ishak melarikan diri ke Mesir, namun ia lebih memilih mendengarkan perintah Tuhan untuk menetap di negeri orang Filistin. Hal ini tentunya membuat ia layak disebut Bapa ‘Kanaan’.

Namun, menetap di Kanaan tidak dapat langsung dijadikan alasan bagi kita untuk menyimpulan bahwa Ishak adalah Bapa leluhur yang setia. Ada hal lain, yaitu mengenai kesetiaan terhadap pasangan.

Ishak adalah satu-satunya Bapa leluhur orang Israel yang tidak memiliki lebih dari satu istri, gundik pun tidak. Yakub dapat memiliki kedua belas anaknya dari Rahel, Lea dan gundik-gundiknya. Abraham yang Bapa orang beriman saja pernah putus asa dan tidur dengan gundik dari istrinya, bahkan sempat mengambil Ketura sebagai istri sepeninggal Sarah.

Kesetiaan Ishak kepada Tanah Kanaan merupakan ungkapan ketaatan dan cintanya terhadap Tuhan yang dikenalnya melalui Bapanya Abraham. Kesetiaanya untuk tidak mengambil gundik atau istri yang lain juga merupakan ungkapan kasihnya terhadap Ribka, istrinya tercinta. Bahkan saking cintanya Ishak harus mengulang kesalahan ayahnya, Abraham, dengan mengakui Ribka sebagai saudarinya bukan sebagai istrinya, saat mengungsi di daerah orang Filistin.

Namun kebohongan ini sepertinya harus ‘dibayar’ saat Ribka dan Yakub membohonginya demi mendapat berkat perjanjian. Meskipun Ishak contoh suami dan ayah yang setia tapi ia terjatuh saat diuji kejujurannya. Bapa leluhur pun adalah manusia berdosa yang membutuhkan Tuhan untuk hidup setia.

Kesetiaan mungkin terlihat seperti barang langka di zaman ini. Namun kesetiaan bukan hal yang mustahil. Seperti halnya Ishak yang terus mendengarkan perintah Tuhan, dan membuahkan kesetiaan, kita pun dapat hidup dengan setia asal kita mau peka dan mendengarkan sapaan Tuhan. Biarkan naik-turun kehidupan yang akan menguji kesetiaan kita. **sn

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA