Menilik Aksi GKI di Dunia Maya

Apakah GKI memberi dampak di dunia maya?

Pertanyaan itu sempat membuat kening berkerut.  Sebagai salah satu elemen representasi wajah GKI (khususnya Sinode Wilayah Jawa Barat) di tatar internet, tim SELISIP pernah beberapa kali melakukan survei kecil-kecilan tentang pemanfaatan internet di jemaat GKI. Baik terkait penggunaan situs resmi dan media sosial milik sinode, sinode wilayah, klasis, jemaat hingga komisi-komisi yang ada di dalamnya, atau yang ada di luar struktur kejemaatan namun tetap erat kaitannya dengan GKI.

Hasilnya? Tentu bisa dinilai dari berbagai segi. Bisa pula dinilai secara kuantias, cakupan atau lebih dalam lagi secara kualitas.

Soal penggunaan situs resmi, misalnya, dari 97 jemaat yang ada di Sinode Wilayah Jawa Barat, ada 36 jemaat yang memiliki situs resmi dan 22 diantaranya selalu diperbarui. Setidaknya kita bisa berkata bahwa ada sekitar 23 % jemaat GKI di Sinode Wilayah Jawa Barat yang sudah terwakili secara resmi di jagad internet.

Sebagian dari 22 jemaat itu juga cukup aktif mengunggah kegiatannya di media sosial, terutama Facebook dan Instagram. Ada pula Klasis Jakarta Selatan dan Komisi Pemuda Klasis Jakarta Timur, yang juga punya situs dan terbilang sering memperbarui informasinya di media sosial.

Ini memang belum menyentuh semua ranah. Youtube (dengan gaya vlog) dan LINE sebagai media sosial yang cukup digandrungi kaum muda belum banyak disentuh. Meski ada beberapa orang yang secara pribadi mengusahakan untuk menjadi penyambung gap media ini.

Konsistensi dalam memperbarui konten jelas adalah permasalahan sumber daya. Media-media GKI yang dikelola secara rutin pun (seperti SELISIP, situs sinode GKI, Ignite, atau situs Sinode Wilayah Jawa Tengah) paling banter memproduksi satu sampai tiga konten perhari. Situs jemaat yang update sekali tiap minggu sejauh ini sudah dianggap cukup baik.

Melihat hal ini, tentu belumlah jadi prioritas untuk mempengaruhi hiruk-pikuk dunia maya dengan menang-menangan jumlah. Yang perlu ditekankan tentu mampu menyelisip di ceruk-ceruk tertentu yang menarik perhatian dan maksimal disana.

Lantas dari segi kualitas, seberapa besar pengaruhnya? Kita perlu meninjau beberapa sisi yang timbal balik dan simultan. Namun, belum tentu semuanya tercakup dalam arah pelayanan situs dan media sosial yang ada di GKI.

Di level pertama, dalam cara pandang konvensional kita berusaha untuk memberi informasi pada pengguna internet terkait gereja. Dalam hal ini jadwal ibadah, alamat, profil gereja serta sejumlah kegiatan adalah informasi yang lazim dicari dan disajikan.

Sebenarnya untuk level ini, sekedar situs statis, fan page di sosial media yang tidak perlu terlalu update atau bahkan sekedar info di laman mesin pencari sudah cukup. Untuk poin yang terakhir, di Sinode Wilayah Jawa Barat misalnya, sudah ada 86 (87%) jemaat yang terlampirkan alamat dan kontak yang aktif di mesin pencari Google. Masih ada sekitar 8 jemaat yang “belum dikenal” sama sekali di dunia maya.

Di level kedua, sedikit lebih interaktif, kita mungkin ingin menampilkan wajah gereja kita agar pengguna internet punya bayangan suasana kita berjemaat. Dalam hal ini yang lebih ditekankan tentu adalah hal-hal yang sifatnya lebih interaktif, naratif dan menyentuh personal.

Informasi-informasi yang diberikan sebaiknya bukanlah yang monoton dan bergaya all-size. Semestinya ada pemilahan hal-hal yang menarik bagi kalangan tertentu, juga sesuai dengan apa yang ingin dicitrakan oleh visi jemaat. Jadi bukanlah sekedar warta langsung dipindah ke internet atau seluruh video isi khotbah dan seluruh foto acara diunggah ke media sosial tanpa narasi. Hanya orang yang benar-benar niatlah yang akan mengunduh atau menonton konten yang demikian.

Disini kebanyakan jemaat GKI memang masih perlu belajar. Kita masih terbilang ketinggalan dan nanggung, mau beranjak dari level pertama ke level kedua ini. Setidaknya kita bisa memberikan narasi, memilah informasi dan mengunggah yang lebih sesuai dengan wajah yang ingin jemaat tampilkan.

Di level ketiga, sebenarnya kita tentu berharap konten yang kita hasilkan dirasakan pengaruhnya tidak hanya oleh jemaat dan simpatisan GKI. Tapi juga diakui kualitasnya oleh masyarakat umum. Misalnya, saat beberapa waktu lalu kita ramai-ramai mengunggah tulisan, meme, foto atau video terkait GKI berbicara kebangsaaan. Siapa saja yang berkomentar, menyukai atau membagikannya? Apakah gemanya hanya untuk kita padahal kita merasa dan berharap itu untuk semua?

Tanpa bermaksud menafikan semua upaya yang telah dilakukan pribadi maupun secara struktural untuk membari informasi, menampilkan wajah, atau memberi pengaruh – tulisan ini mencoba untuk sekedar memetakan sudah sejauh mana aksi GKI di dunia maya. Dunia yang kini melipat dan menyajikan realitas baru bagi umat manusia. **bdjt

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA