Seruan dari Tempat Sempit: Refleksi 40 Tahun Kependetaan Kuntadi

It might be my farewell. Ini bisa saja jadi perpisahan saya.

Pdt. Em. Kuntadi Sumadikarya mengucapkan kalimat itu dengan nada yang terbilang datar. Setelah bernostalgia dengan sejumlah kisah selama 40 tahun kependetaannya, ia menceritakan sekilas tentang kondisi kesehatannya. Mantan ketua GKI SW Jawa Barat ini mengaku sudah tenang, jika memang Tuhan telah menentukan waktunya untuk pulang…

Keheningan spontan hinggap diantara sekitar 150-an peserta yang hadir dalam Syukuran 40 tahun Kependetaan Kuntadi Sumadikarya, yang berlangsung pada Senin (25/9) di Kampus Universitas Kristen Krida Wacana (UKRIDA) itu. Hampir semua, yang kebanyakan pendeta GKI, menunduk mengamini refleksi yang mendalam dari sang pendeta senior.

Bertahun-tahun apa yang di Sinode Wilayah kita temakan, juga sering saya dengungkan, sebagai ‘perjumpaan dengan Tuhan’, tidak pernah menyentuh tema soal mendekati kematian. Saya bersyukur sekarang bisa menghayati perjumpaan dengan Tuhan, tidak hanya lewat simbolisme belaka, melainkan mengalami itu dalam situasi yang benar-benar nyata,” ungkap Pdt. Kuntadi pelan namun tegas.

Pendeta yang kini berusia 68 tahun itu lantas menyampaikan apa yang direfleksikan kekristenan Keltik (Skotlandia) sebagai spiritualitas tempat sempit (thin places). Bagaimana menghayati spiritualitas dimana dunia manusia dan dunia Tuhan terasa begitu dekat, seolah dipisahkan hanya oleh tabir tipis. Bagaimana kita diizinkan untuk mengintip Tuhan dari dunia manusia yang jaraknya begitu dekat. Bahkan kemudian diizinkan untuk melintasi tabir tipis itu, mengalami perjumpaan yang nyata dan gamblang dengan Tuhan…

Alasan perpisahan dan obrolan mengenai ‘perjumpaan’ dengan Tuhan itu mungkin terdengar tidak menggembirakan, namun toh harus didengar dan dirasakan. Keluarga, rekan kerja, serta tiap peserta yang merasa Pdt. Kuntadi telah membimbing mereka, sedikit banyak menampilkan raut muka sedih, sekaligus takzim.

Tapi, syukuran ini juga untuk dua alasan lain.

Orang-orang tentu bisa mendaftar sekian banyak hal yang telah menjadi karya Pdt. Kuntadi. Kegigihannya untuk mempertahankan kesatuan GKI (terutama keikutsertaan Klasis Priangan), perhatian khususnya kepada kaum muda dan anak-anak, idenya untuk mendirikan GKI Humanitarian yang kini menjadi Gerakan Kemanusiaan Indonesia, usulannya yang belum kesampaian soal perlunya gereja mewadahi advokasi keadilan, semangatnya mengkampanyekan gerakan kekristenan global Oikotree, kerja kerasnya sepanjang menjabat pimpinan dan kepengurusan di sejumlah lembaga (DGI, GKI SW Jawa Barat, Yayasan BPK Penabur, BPTK Krida Wacana, KAUM, WCC, WCRC dan CWM), tulisan dan khotbahnya yang bertema Selusur Spiritual, atau juga sentuhan personal dan bimbingan yang tak akan pernah dilupakan oleh mereka yang pernah berinteraksi dengannya.

Pdt. Kuntadi menilai segala lebih dan kurangnya dalam menjalani semua kiprah itu mungkin merupakan warisan yang ia bisa tinggalkan. Sekaligus juga untuk menjadi kesaksian bahwa ini adalah karya Tuhan yang mengangkatnya dari bukan siapa-siapa menjadi orang yang bisa punya arti dalam hidup (from nobody being somebody). Dua alasan yang tentunya meneguhkan dan memberi semangat bagi rekan-rekan pendeta dan warga jemaat yang juga tengah berjuang memberi makna dalam hidup masing-masing.

Ringkasan atas warisan dan kesaksian itupun terangkum dalam buku Menelusur Tuhan dan Peradaban. Buku yang berisi refleksi pribadi Pdt. Kuntadi dan testimoni dari banyak rekannya pendeta itu turut dibagikan dalam acara syukuran.

Tema-tema itu memang terdengar sangat berat juga tidak begitu menyenangkan untuk dicerna sebagai refleksi. Tapi, seorang pendeta di semakin matangnya spiritualitas tentu tak hanya berhasrat menyampaikan apa yang enak atau sekedar berharap dipuji karena menyenangkan. Di 40 tahun kependetaan sekaligus juga 40 tahun usia pernikahannya, Pdt. Kuntadi kini menyerukan perjumpaan dengan Tuhan dari tempat sempit. Seruan yang bisa jadi terasa amat nyaring saat diteladani para pendengar dengan segala lebih dan kurangnya… **arms

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA