Yacub: Spiritualitas dalam Berbagi Beras

Duduk di kursi roda, Yacub Djohansyah masih saja antusias bercerita. Kecepatan bicaranya tidak berkurang, meski beberapa kali menghela nafas agak panjang. Stroke yang dialaminya beberapa bulan lalu memang sedikit banyak menghambat gerak fisiknya, namun jelas bukan penghambat semangat.

Jemaat GKI Maulana Yusuf, seperti rekan-rekan lain di bidang Oikumene dan Masyarakat (Oikmas) GKI se-Bandung, mengenal Om Yacub sebagai sosok yang ramah dan konsisten. Ia tidak terlalu banyak tampil di depan, tapi tidak pernah melalaikan tanggung jawab. Namun, bagi cukup banyak warga dan lurah di Bandung, Om Yacub nampaknya lebih dikenal sebagai wajah GKI dalam program Beras Peduli Sesama.

Ya, mau bagaimana, saya kan nggak bisa nyanyi dan main musik… jadi nggak nampil,” canda Om Yacub saat mulai menceritakan program rutin yang telah berlangsung sembilan tahun itu. Awalnya, di hadapan majelis jemaat tahun 2008, Yacub membawa sebuah kisah.

Sepupu saya yang di Tangerang punya kantin. Sekitar jam delapan atau sembilan malam biasanya sudah tutup. Kadang cukup banyak makanan yang masih layak makan. Biasanya ia bagikan saja pada orang-orang di sekitar, seperti para petugas ronda. Tapi satu saat ia berjumpa Bani, seorang yang tidak punya pekerjaan tetap. Sering harus pulang ke rumah sampai larut malam. Cari uang agar istrinya bisa sekedar beli beras. Ini orang yang benar-benar butuh…” Yacub itu menarasikan ingatannya.

Kisah itu mengajarkan bahwa ada orang-orang yang sebenarnya rela memberi, di sisi lain ada orang-orang yang sungguh membutuhkan, tapi kadang hal ini tidak ketemu. Perlu ada yang menjembatani dan menjumpakannya.

Memang ini kelihatannya sebatas karitatif, atau katakanlah kurang memberdayakan,” komentar pria kelahiran Teluk Betung itu. Ia pun bercerita, waktu itu tidak seluruh majelis menyambut idenya karena sejumlah kekhawatiran.

Ada yang nanya soal apakah program ini bakal bisa berjalan. Soal apakah akan dapat data orang miskin yang tepat, kekhawatiran dituduh Kristenisasi, banyaklah, tapi intinya semua itu hal yang nggak penting,” ujar Yacub santai sambil tertawa. “Yang penting itu apakah kita mau untuk mulai melangkah…

Yacub mengingat April 2008, mereka memulai hanya dengan 300 kilogram beras dalam 30 paket, di kelurahan Tamansari, Bandung. “Kita bahkan masih belepotan saat presentasi di depan Pak Lurah. Beberapa RW juga khawatir kalau hanya segitu bisa membuat iri masyarakat lain,” kenang Yacub. “Tapi tekad kita waktu itu adalah memberi hanya untuk warga yang benar-benar membutuhkan. Puji Tuhan, mereka menyambut baik.

Semangat ini didasari keyakinan bahwa, program Beras Peduli Sesama hanyalah pendorong, agar masyarakat di wilayah itu juga menolong warganya yang benar-benar membutuhkan. Itulah yang selalu didengungkan pada warga dan pamong di lebih dari 85 kelurahan lain yang telah menerima program ini.

Yacub yang kini telah berusia 70 tahun menceritakan satu-persatu sentuhan kemanusiaan yang ia alami. Seorang Bapak yang menyandang disabilitas, menunjukkan senyum haru. Seorang ibu yang tidak punya penghasilan tetap, menerima kantung beras dengan menangis sembari mengucap syukur pada Tuhan…

Yacub bahkan masih mengingat nama-nama orang yang pernah ia jumpai saat membagikan beras. Beberapa diantaranya masih berkontak dan ada pula yang diberdayakan lewat sejumlah program sosial lanjutan.

Tapi lebih dari sekedar keberhasilan menyumbang, Yacub melihat kebesaran Tuhan yang melintas batas dalam setiap momen ini.

“Kelihatannya sederhana, tapi buat saya ini sangat spiritual,” Yacub setengah terisak, “Ada pengalaman yang amat indah ketika kita bisa bersukacita melihat orang lain bersukacita…. Ini juga memberi saya kekuatan dan keberanian. Saya tidak takut ditolak dan dicela, ini adalah bentuk saya menyatakan kasih Kristus pada sesama, lintas batas, lebih dari kata-kata…”

Jeda panjang terjadi saat Yacub menceritakan hal ini. Tuturannya terkesan kurang teratur diiringi tangis, nampak sekali semangat dan harunya meluap melampaui bahasa verbal. Om Yacub telah menemukan bahwa kesederhanaan dan keterbatasan yang diiringi kasih adalah spiritualitas yang tetap selau indah. Di momen Beras Peduli Sesama, ia mengalaminya… **arms

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA