COY Summit 2017: Realisasi dan Refleksi Karya Pemuda

Ini merupakan portofolio karya pemuda GKI se-Bandung.

Kalimat itu dengan percaya diri ditampilkan sebagai profil COY (Community of Youth) Summit 2017. Summit pertama yang digawangi kaum muda GKI se-Bandung ini memang menjadi ajang untuk menampilkan karya yang telah dikerjakan serta menimba inspirasi untuk karya berikutnya.

Selain diisi sejumlah keynote speaker inspiratif, seperti Prof. Armien Langi (Universitas Kristen Maranatha), Christian Natalie (Greeneration) dan Pdt. Hendra Prasaja (GKI Cianjur) acara yang digelar Sabtu (28/10) di GKI Kebonjati Bandung ini memang diutamakan menjadi ajang berbagi dari kaum muda sendiri. Yaitu mereka yang merupakan alumni COY Academy. Ada 12 orang alumni yang berbagi karya dan ide di pertemuan yang dikemas dengan gaya presentasi ala TED Talks itu.

Presentasi para alumnus ini telah menjalani coaching clinic terlebih dahulu dari Tim COY Academy, namun masing-masing membawakan topik yang merupakan concern dan ladang pelayanan mereka selama ini. Mereka dilatih untuk berani menyampaikan idenya di depan khalayak ramai, sekaligus juga berbangga dan menginspirasi lewat apa yang digelutinya.

Elkana, misalnya membawakan tema tentang dunia vlogging, dengan judul Youtube lebih dari TV, sementara Aldius berbagi tentang Smiling Project, gerakan sosial yang telah dikerjakannya bersama rekan-rekan muda. Ada pula Yoselin yang berbagi pengalaman hidupnya sebagai seorang yang mengalami celebral palsy namun justru menjadi sumber inspirasi untuk merenungkan hubungan dengan Tuhan. Bersama Michelle, Rowland, Eres, Jean, Kristian, Mikhael, Ivana, Alber dan Immanuel, mereka tampil bersemangat dan disambut antusias oleh seratusan lebih peserta Summit.

Ketua Komisi Pemuda Klasis Bandung, Fandy Wijaya mengamini bahwa pertemuan ini adalah kemajuan yang diraih bersama secara bertahap. “Kita melihat kondisi pemuda GKI beberapa tahun kebelakang, ada kecenderungan untuk bersikap apatis dan terjebak di lingkaran persoalan gereja masing-masing. Padahal kita memiliki resource dan talenta yang luar biasa. Selama kami berkarya di COY, kami melihat sebenarnya potensi itu bisa diarahkan untuk karya yang berdampak. Asal anak muda diberi wadah dan kesempatan yang sesuai,” simpul Fandy dalam sambutannya.

Hal yang sama diamini oleh Wimanda. Pemuda yang sempat merintis sejumlah upaya gerakan pemuda di tingkat Klasis dan Sinode itu meyakini simulasi dan stimulus perlu terus diupayakan di tengah pemuda GKI. “Lalu perlu dibarengi dengan konsistensi dan sinergi yang terus dikerjakan,” ungkap pria yang akrab disapa Icon itu.

Selama setahun perjalanan COY, komunitas ini telah mengerjakan sejumlah karya yang menginspirasi lewat COY Care (kegiatan layanan sosial), COY Event Organizer, COY Media dan COY Academy. Karya-karya ini disambut amat baik oleh jemaat-jemaat GKI. Umumnya merasa senang karena kegiatan kepemudaan dapat bergairah kembali.

Gereja menyadari bahwa Alkitab banyak mencatat bagaimana anak muda diberi ruang untuk menjadi pemimpin, pembaharu dan ikut menyelamatkan kehidupan,” komentar Ketua BPMK Bandung, Pdt. Ima Simamora. “Majelis Klasis Bandung sangat menghargai dan bangga atas pelayanan dan kerja keras rekan-rekan COY ini. Kiranya ini menjadi ruang belajar dan pengembangan kaum muda yang dapat menghasilkan dampak bagi kehidupan kini dan nanti,” lanjutnya.

COY sendiri mengupayakan agar tidak hanya berkarya untuk internal seputar pelayanan seremonial gereja. Isu sosial, pendidikan dan kebangsaan juga menjadi ranah yang telah disentuh COY selama usianya yang masih belia. Itu pula yang menjadi gagasan mengapa COY Summit yang pertama ini diselenggarakan tepat di perayaan Sumpah Pemuda. **arms

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA