Gereja Perlu Memperlengkapi Makhluk Karbon

Presentasi itu terbilang panjang dan terdengar rumit. Kajian fisika, biologi, kimia, teknik komputer,  ekonomi, sejarah, pedagogi, psikologi, filsafat dan teologi seolah berbaur mencari titik temu. Tapi idenya sebenarnya lumayan sederhana. Prof. Armien Langi, sang penyaji, sedang menjelaskan tantangan dan kebutuhan besar yang dihadapi manusia di masa sekarang dan mendatang. Sesuatu yang menurutnya perlu diisi oleh gereja dan dunia pendidikan.

Kajian itu disampaikan oleh Prof. Armien dalam satu sesi di event COY Summit 2017, Sabtu (28/10). Tidak mau sekedar memberi jawaban normatif dan praktis atas tema peran univesitas dan gereja dalam membangun generasi muda, rektor Universitas Kristen Maranatha ini beranjak lebih jauh membukakan sejumlah wawasan realitas yang perlu dipahami sebelum berupaya.

Kita sudah dibukakan wawasan untuk realitas simbolik, dimana kita berbahasa dan menggunakan simbol. Kita juga dibukakan wawasan untuk realitas natural, kita mengenal dunia dengan indra, yang semakin lama semakin luas, karena indra kita dibantu teknologi. Demikian pula wawasan untuk realitas spiritual, dimana sejak dulu nenek moyang kita mengenal kekuatan di luar manusia yang menggerakkan dunia. Lalu, wawasan untuk realitas reflektif-meditatif, dimana kita mengenali dunia dengan kesadaran diri,” papar Prof. Armien panjang lebar.

Tapi di semua wawasan realitas itu kini terjadi pergeseran yang signifikan. Apa yang dianggap sebagai nilai, kekuasaan dan kekayaan sekarang tengah beralih cepat. Ada banyak hal yang kini bisa tergantikan oleh kemajuan teknologi. Sesuatu yang diistilahkan sebagai ‘makhluk silikon’ oleh Prof. Armien, untuk dikontraskan dengan manusia yang adalah ‘makhluk karbon’.

Di muka bumi sekarang ada dua makhluk yang bisa berbahasa dan menggunakan simbol, yaitu kita, sang makhluk karbon, dan makhluk silikon, dengan bahasa digitalnya. Banyak kecerdasan yang dulu dialamatkan ke makhluk karbon kini diambil alih makhluk silikon. Lewat perkembangan kecerdasan buatan, mereka bahkan akan bisa lebih baik memahami keempat wawasan yang saya uraikan tadi. Kedepan bahkan, makhluk silikon diperkirakan lebih cerdas dari kita dalam hal-hal itu,” tambah lulusan ITB dan University of Manitoba, Canada ini.

Maka dalam teater kehidupan di abad ini, kaum muda, generasi masa depan ditantang untuk menjalani kisah hidup yang inspiratif dan orisinil. Bukan sekedar menjadi mesin dan narasi monoton, karena dalam hal ini pasti manusia akan kalah dengan teknologi.

Inilah tugas yang perlu diisi oleh dunia pendidikan. Rasionalitas, lalu kepekaan, integritas dan pemahamanan yang holistik perlu ditekankan lebih dalam pendidikan. Sementara gereja ditantang untuk menghadirkan teologi yang bisa memberikan narasi luas atas keempat realitas tadi dengan koheren, tidak terfragmentasi,” lanjutnya.

Prof. Armein menyadari kebutuhan dan celah besar ini belum sepenuhnya disadari. Banyak dunia pendidikan, juga gereja yang tetap menggunakan cara dan perspektif lama dalam mendidik. Hal yang menurutnya cukup berbahaya.

Manusia yang tidak siap menghadapi platfrotm yang baru ini akan hanya mengambil peran defensif, atau malah jadi ekstrim dan destruktif. Kita tentu tak ingin gereja dan dunia pendidikan perlahan ditinggalkan, karena sekedar bertahan hidup. Atau malah menjadi sarang sempitnya berpikir, sehingga merusak kehidupan,” tegas Prof. Armein menutup presentasinya. **arms

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA