Tetty, Kanker dan Mujizat Keseharian

Perempuan itu duduk di kursi roda, dengan sweater merah dan masker hijau. Perlahan, ia membuka masker dan memulai kesaksian. Seratusan lebih jemaat yang mengikuti Persektuan Antar Jemaat (PAJ) GKI se-Klasis Cirebon (19/09) di GKI Kuningan, mulai hening mendengar tuturannya. Semua seolah sedang dibawa mengalami kisah yang sama.

Pnt. Tetty Lidiawati Suwardhana adalah seorang cancer survivor. Lebih tiga tahun lalu ia melakukan operasi pengangkatan rahim. Bermula dari hasil medical check-up yang menemukan tumbuhnya polip yang harus diambil melalui kuret. Lebih jauh med-check tersebut mendiagnosis keberadaan kanker pada rahim Tetty, yang mengharuskan operasi pengangkatan itu.

Hari itu saat operasi, kami merayakan hari ulang tahun Ayah, Suami, serta anak bungsu saya di Rumah Sakit,” ujar perempuan yang juga majelis GKI Kuningan ini sembari menatap lembut, suaminya, Iing yang menemani testimoni di kebaktian ini. Tetty mengaku sebagai manusia, ia mulai merasa sangat depresi saat mendengar soal kanker itu.

Memang ia sudah menyadari kemungkinan akan risiko kanker, saat sebelumnya adik beserta ibunya meninggal karena terkena penyakit kanker juga. “Saya pernah bersiap, kalau suatu saat saya pasti akan kena juga, tapi tetap yang namanya manusia, tidak semudah itu menerima kenyataan,” akunya.

Dengan dukungan dari keluarga, kerabat dan rekan gereja Tetty berhasil melewati operasi pengangkatan ovarium. Ia pun kembali merasa sehat, bahkan bisa kembali beribadah, bahkan menemani camp Komisi Remaja gerejanya. Setahun berlalu ia pun mengikuti saran dari dokter, untuk melakukan PET/CT Scan demi mengatahui apakah di dalam tubuhnya sudah bersih dan terbebas dari kanker.

Hasil menunjukkan masih terdapat kanker dalam kelenjar getah bening. Tetty terhenyak… Ia dan keluarga memilih untuk mencari opini kedua. Tapi hasilnya semakin di luar dugaan… Menurut dokter yang lain itu, ia terkena kanker serviks stadium 1B (bukan ovarium), meski dulu ia sudah melakukan vaksin HPV serta Pap Smear setiap tahunnya, bahkan  sampai sebelum pelaksanaan operasi pun Pap Smear nya masih bagus.

“Seharusnya pas saya operasi itu langsung kemo, tetapi karena setelah operasi dinyatakan bersih,  jadi setahun kemudian baru melakukan kemo yang pertama,” tuturnya sambil menunjukan foto saat ia melakukan proses kemo. Tetty amat bersyukur kepada Tuhan karena dalam jangka satu tahun tersebut tidak terjadi penyebaran kanker pada tubuhnya, masih di sekitar daerah kandungan saja. Untung pula waktu itu proses penanganannya tidak hanya pada ovarium, tapi juga serviksnya.

Namun, kisah penuh tantangan itu tidak berhenti disana saja. Selama kemoterapi ternyata terjadi pembengkakan pada bagian kaki sebelah kanan. Dokter menyarankan untuk segera ke Rumah Sakit dan segera melakukan Doppler Scan atau pengecekan pembuluh darah. Ternyata ada penyumbatan di pembuluh balik. Ia pun dirawat-inap selama satu minggu, dan disitu lah ia mulai mengalami proses perontokan rambut sedikit demi sedikit…

Kalau sebagian orang kan biasanya langsung dibotakin, biar jangan sedih lihat rambutnya perlahan rontok, tapi saya milih untuk tidak dibotakin, saya mau lihat seperti apa sih prosesnya, ternyata memang rontoknya pelan-pelan,” canda ibu tiga anak ini sembari memperlihatkan sejumlah foto wajahnya yang mulai botak.

Setelah melakukan lima kali kemoterapi, dokter menilai hasilnya masih kurang memuaskan. Lalu menyarankan untuk mengganti kemoterapi menjadi radiasi. Karena kanker Tetty ada pada kandungan, maka ia pun harus menjalani radiasi luar dan dalam. Radiasi luar dilakukan sebanyak 30 kali, dan radiasi dalam dilakukan sebanyak 3 kali.

Rambut Tetty tumbuh sedikit demi sedikit setelah memalui proses radiasi. Akan tetapi dokter kembali menyarankan untuk melakukan kemoterapi kedua, karena kadar CA(Cancer Antigen)-125 yang belum normal. Disitu Tetty mulai merasa pentingnya untuk jeda sejenak.

“Dok, saya ingin pulang dulu saya kangen sama anak saya,” pinta Tetty waktu itu. Dokter memberinya waktu dua minggu, dengan harapan pasien ini tidak berlama-lama.

Dua minggu berlalu, kadar CA-125 kembali meningkat, dan Tetty pun melakukan proses kemoterapi kedua. Berbeda dengan proses pertama, kemoterapi kedua ini tidak merontokkan rambutnya, prosesnya berjalan baik, dilakukan selama tujuh kali.

Mei 2015 saat anak perempuannya baru akan naik ke kelas 3 SMP, kaki Tety kembali mengalami pembengkakan, sangat susah untuk berjalan. Dokter menduga hal yang kurang baik lalu menyarankan agar men-scan ginjalnya. Ternyata terjadi pembengkakan pada ginjal karena, proses pengeluaran urine yang tidak lancar. Tim medis pun memasang PCN/Nefrolitomi Perkutan pada bagian kiri dan kanan pinggul belakang untuk memperlancar pengeluaran urine dari ginjal.

Tak sampai disitu… akhir 2016 perempuan tangguh ini kembali memasuki ruang UGD untuk kembali menjalani pemeriksaaan. Ternyata kanker telah menyerang dengan menjepit saluran pembuangan air di dekat otaknya. Dokter pun mengambil tindakan Gamma Knife atau bedah radiasi untuk mendestruksi tumor di dalam otak tanpa harus melakukan pembedahan.

“Saya sangat berterimakasih sama Tuhan, Puji Tuhan sekali entah bagaimana cara bekerja Tuhan yang sangat sungguh luar biasa dalam hidup saya. Tidak terbanyangkan kalau kepala saya harus dibelah juga” tutur Tetty dengan nada haru sendu, seraya menceritakan bagaimana mereka sekeluarga merayakan libur Natal tahun 2016 di rumah sakit.

Proses pengobatan pun terus berlanjut dengan melakukan immunotherapy, karena CA-215 yang masih tinggi dan tidak ada obat kemoterapi yang efektif.  Immunotherapy ini sudah dilakukan Tetty selama 10 kali dalam tiga minggu sekali dan sampai saat ini.

Menceritakan ini semua Tetty sampai pada kesimpulan bahwa bagi para survivor kanker seperti dirinya, mujizat justru terasa lebih dekat dan terasa sehari-hari. “Apa yang dirasakan sebagai hal yang biasa oleh orang sehat, semisal bernafas, bangun pagi, berjalan, sapaan keluarga danrekan dekat, bagi para survivor seperti saya adalah mujizat dan anugarah yang amat disyukuri,” simpulnya di ujung keheningan acara PAJ itu. **id

Disarikan dari video testimoni Pnt. Tetty Lidiawati Suwardhana di PAJ Klasis Cirebon: Sukacita Menghapus Ketakutan (19/9)

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA