Kepahlawanan Musa

Musa adalah orang hebat. Dia adalah nabi utama bagi agama Yahudi. Begitu pula bagi agama-agama Abrahamik seperti Kristen, Islam, dan Baha’i, Musa adalah nabi besar. Kisah kepahlawanannya melegenda melewati batas komunitas agama melalui literatur, karya seni, serta media dan hiburan.

Kepemimpinan dan kepahlawanan Musa sungguh luar biasa. Dengan keberanian dan keteguhan dia menghadapi Firaun yang otoriter untuk membebaskan bangsa Israel dari perbudakan dan penindasan yang telah berlangsung selama ratusan tahun. Menghormati segala pengorbanannya, kematian Musa ditangisi bangsa Israel dalam perkabungan selama 30 hari.

Musa dikenal sebagai satu-satunya nabi yang berbicara berhadapan muka dengan Tuhan. Kehidupannya dijadikan teladan dalam pengajaran tentang iman.

Di atas semua itu, dia adalah nabi yang menjadi pengantara Tuhan dan umat-Nya. Melalui dia penyertaan, tuntunan, dan penjagaan Tuhan diterima oleh bangsanya.

Mission Impossible

Siapa sesungguhnya Musa? Sejak kecil Musa adalah pemilik identitas ganda. Asal-usulnya harus disembunyikan demi menghindari ancaman genosida Firaun. Pernah menjadi kriminal dan hidup sebagai seorang pelarian di tanah Midian. Meski mengecap pendidikan kualitas istana dan pernah sangat berkuasa dalam perkataan dan perbuatan, dia kurang percaya diri, tidak pandai bicara, dan dihantui oleh ketakutan masa lalu.

Ketika dipanggil Tuhan untuk membawa orang Israel keluar dari Mesir, usianya sudah lanjut. Tugasnya terlihat tidak cocok bagi usianya yang lanjut. Tuhan tidak memberi dia tugas menjadi penasihat tetapi memimpin aksi pembebasan orang Israel dari penguasa tangan besi. Jumlah yang akan dipimpinnya jutaan dan sebelumnya tidak terorganisir.

Sementara, bagi Mesir orang Israel adalah tenaga gratis yang bahkan bisa diperintah untuk mengerjakan pekerjaan yang sia-sia! Di masa lalu, demi memastikan mereka tidak meninggalkan Mesir, Firaun tega membunuh anak laki-laki Israel. Meski mengeluh, mengerang, dan berteriak minta tolong atas deritanya, orang Israel sendiri pun tampak tidak percaya bahwa suatu saat keadaan mereka akan berubah menjadi baik. Pada dasarnya, tugas Musa tidak masuk akal. Mission Impossible!

Dalam percakapan dengan Tuhan, Musa tidak bisa menyembunyikan rasa tidak percaya diri untuk menerima tugas besar tersebut.

Buah Ketaatan dan Kebergantungan

Atas setiap keraguan dan kegamangan yang diutarakannya, Tuhan membesarkan hati Musa dengan menunjukkan dan menjanjikan penyertaan dan kuasa-Nya. Melalui perbincangan tersebut, kegentaran Musa berubah menjadi kesiapan mewujudkan visi Tuhan yaitu kehidupan baru bagi umat-Nya. Dia memperoleh keyakinan bahwa perjuangan yang akan dijalani bukan tentang dirinya, tetapi tentang tujuan Tuhan, tentang penyertaan Tuhan, tentang kuasa Tuhan.

Itu bukan berarti jalan mulus. Dia harus menghadapi Firaun yang keras kepala dan licik. Umat yang dibela menolak bahkan mengutuki dia. Meski telah melihat sendiri perbuatan Tuhan, umat yang dipimpinnya lebih senang bersungut-sungut bahkan bertengkar dengan Musa. Bukannya kooperatif untuk mencapai tujuan, mereka sering terlihat melakukan sabotase pada rencana besar mereka. Menghadapi semua itu, ada kalanya Musa menjadi tidak sabar, ragu akan tugasnya, dan kehilangan asa.

Tetapi semua tantangan itu adalah keadaan yang memungkinkan Musa mengalami pemeliharaan dan berkat-Nya. Di dalam setiap masalah, Musa datang kepada Tuhan dan dalam terang-Nya dia menemukan jalan keluar.

Tuhan menjawab kebergantungan Musa kepada-Nya dengan menyediakan hal yang mengisi kekurangan dan meneguhkan kekuatannya. Harun yang pandai bicara diberi sebagai jurubicara. Yosua seorang yang cakap sebagai asisten. Yitro pemimpin bijaksana sebagai penasihat organisasi dan manajemen. Dengan kemampuan menyatakan mujizat, Tuhan mengukuhkan kepemimpinan Musa.

Ketaatan juga berarti kesediaan melepaskan keinginan pribadi dan fokus pada tujuan dan rencana Tuhan. Tahu bahwa dia tidak akan masuk tanah perjanjian tidak menyurutkan niat Musa dalam mempersiapkan penerus dan bangsanya demi terwujudnya visi Tuhan. Dengan rendah hati dia menyerahkan tongkat kepemimpinan kepada Yosua. Dia membekali umat dengan pembelajaran bersama Tuhan selama perjalanan dari Mesir dan pengembaraan di padang gurun. Dia membesarkan hati mereka dengan mengingatkan penyertaan dan pertolongan Tuhan seperti yang telah dialaminya secara pribadi.

Menerima dan Memenuhi Panggilan

Kepahlawanan Musa bukan sekedar tentang aksi heroik yang kemudian menuai pengakuan. Heroisme Musa adalah tentang kesediaan menerima panggilan Tuhan dalam mewujudkan visi-Nya serta ketaatan melaksanakan perintah-Nya.

Belajar dari pengalaman Musa, Tuhan tidak saja memberikan tugas, tetapi memberdayakan dan memperlengkapi yang dipanggil-Nya agar berhasil. Dia menyediakan sumber daya yang diperlukan.

Kepahlawanan Musa bukanlah tentang kehebatan pribadi tetapi kebergantungan penuh kepada Tuhan. Di dalam setiap masalah yang dihadapi, selalu berpaling kepada Tuhan adalah jalan kepada solusi.

Cerita kepahlawan Musa adalah pola Tuhan menjadikan setiap umat menjadi rekan sekerja-Nya. Di saat kita merasakan panggilan Tuhan, lalu merasa tidak layak, tidak kompeten, sampaikan semua keraguan dan kebimbangan itu kepada-Nya dan dengarkan Dia. Berjalan bersama Tuhan, maka kita akan merasakan tuntunan-Nya. Kita akan kagum mengetahui bagaimana Dia mengorkestrasi hidup kita dan kehidupan.

Penulis: Jeffrey Samosir (GKI Maulana Yusuf)

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA