Komisi Pemuda GKI Guntur dan Perlawatan ala Milenial

Dalam kehidupan bergereja kita tahu setiap tahunnya terjadi pertambahan dan pengurangan baik anggota maupun partisipan yang hadir didalamnya. Hal tersebut sering terjadi baik dalam tataran jemaat umum, komisi remaja dan komisi pemuda. Terlepas apapun yang melatarbelakangi hal tersebut, jemaat tentu perlu memperhatikan hal-hal yang terjadi di warganya. Sekiranya ada hal yang bisa diperbaiki maupun dibantu.

Ini yang kemudian mendorong banyak pelawatan pastoral yang dilakukan dalam jemaat. Namun, tentunya mustahil bagi pendeta untuk melakukan lawatan kepada semua jemaat. Untuk itu, gereja sepatutnya membentuk tim pelawatan jemaat, sehingga setiap jemaat yang mendapatkan masalah atau perlu dukungan bisa segera dilayani.

Selain itu, para penatua, diaken, dan jemaat yang potensial perlu didorong untuk terlibat dalam pelayanan ini. Gereja sebaiknya mengupayakan agar tidak ada jemaat yang terlantar atau terabaikan dan akhirnya meninggalkan gereja. Dua contoh lawatan yang perlu diperhatikan sehubungan dengan memelihara jemaat adalah lawatan bagi jemaat baru dan anggota jemaat yang jarang beribadah.

Komisi Pemuda GKI Guntur mempunyai cara pelawatan yang cukup menarik bagi generasi kini. Pelawatan yang merupakan salah satu bentuk ungkapan kasih, perhatian dan simpati melalui kegiatan perkunjungan kepada orang yang dilawat, dikemas dengan gaya berbeda ala milenial.

Cara pelawatan klasik, dimana tim pelawat mengunjungi rumah atau tempat tinggal sudah dianggap kurang efektif bagi pengurus pemuda GKI Guntur. Yang menjadi faktor utama adalah kesibukan masing-masing baik pekerjaan juga studi yang sedang ditempuh dan sulitnya menentukan waktu untuk bertemu.

Waktu anak pemuda sekarang sudah terbatas. Buat main buat bagi waktu ini itu sudah susah. nah apalagi kalau buat yang dilawat itu sudah susah waktunya dan yang pelawatan juga udah susah waktunya. Jadi akhirnya tercetuslah ide udahlah pelawatannya sambil main aja ketemuan nongkrong bareng, makan bareng,” ujar Lingga Permana salah satu pengurus Komisi Pemuda GKI Guntur bidang pembinaan.

Memang dari hasil yang sebelumnya dengan cara pelawatan yang lama lebih banyak orang yang menghindar atau menolak secara halus dengar berbagai macam alasan. Hal ini telah dialami dari masa kepengurusan sebelumnya dan kebetulan ia pun berperan serta juga pada masa itu, dan hasilnya pun tidak pernah berhasil.

Menurut perempuan yang akrab disapa Lingling itu ada cara yang lebih mudah untuk mengajak teman-teman pemuda untuk bertemu dan untuk yang dilawatpun tidak terkesan tercengang karena akan dikunjungi. Model pelawatan yang akan lebih mudah untuk saling meluangkan waktu.

Lewat nongkrong, nonton film, atau makan bersama, misalnya, ada kesan lebih santai untuk bercengkrama satu sama lain, mulai dari menayakan kabar sampai kesibukan yang sedang dijalani juga ajakan untuk pelayanan bersama dan jug ajakan untuk mengikuti kegiatan kebersamaan yang ada seperti olahraga bersama, nonton bersama, persekutuan, kegiatan sosial dan kegiatan lainya.

Dengan model pelawatan seperti ini juga sangat berdampak terhadap jumlah jemaat yang hadir saat kebaktian pemuda.“Untuk hasilnya juga dibanding cara yang lama ya lebih bagus sih, dari data yang jelas dari kita sebelum melakukan pelawatan model seperti ini, kebaktian hari mingggu dipemuda itu cuma 20 orang lah, itu tuh udah sama petugas dan kalau lagi penuh. Jadi ya rata-rata dibawah 20 gitu. Nah… setelah pelawatan-pelawatan, sekitar 2-3 kali pelawatan, yang baru itu tuh kebaktian meningkat, ya perlahan jadi 30, sampai sekarang maksudnya bisa dibilang stabil lah. Yang udah dilawat itu tuh terjaga lah komunikasinya, hubunganya ya jadi masih oke sampai sekarang kebaktian,” cerita Lingling.

Akan tetapi pelawatan dengan model seperti ini dibandingan dengan model pelawatan yang lama menurutnya juga mempunyai kekurangan, yaitu Komisi Pemuda tidak bisa menjalin hubungan yang intim misalnya mengenal lebih jauh dengan keluarga ataupun dengan saudara-saudaranya.

Terlepas dari itu Linling berharap agar kebersamaan tetap terjalin antara satu dengan yang lain dan bisa lebih ditingkatkan kembali, karena melihat keterbatasan waktu luang untuk saling bertemu, dan yang menjadi poin penting adalah tetap menjaga komunikasi dan lebih banyak membuat kegiatan kebersamaan seperti nonton bersama, olahraga bersama dan kegiatan lainya, ini juga menjadi sebuah tantangan untuk kepengurusan berikutnya yang terhitung 4-5 bulan lagi. **id

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA