Menghayati Kebangkitan di Sumpah Pemuda dan Hari Pahlawan

“Bila engkau ditanya, “Hei pemuda Indonesia, berapa jumlahmu?” Jawablah “Kami hanya satu.”-

Ir. Soekarno.

 

Semarak kebangkitan pemuda jadi pembicaraan yang seru sepanjang peringatan dua peristiwa heroik tahun ini. Telah 89 tahun lalu sejak pertama kali Sumpah Pemuda dikumandangkan, juga 72 tahun selepas perjuangan heroik para pemuda di Surabaya, yang diabadikan sebagai Hari Pahlawan. Sebentuk komitmen para pemuda di masa itu untuk maju dan terlibat dalam kemerdekaan republik kita tercinta, Indonesia.

Masyarakat Indonesia haruslah bangga. Karena tanpa komitmen dan keberanian tersebut, kita tidak akan pernah mendapati diri yang nyaman dan bebas pada era kini. Namun masyarakat Indonesia juga harus malu. Karena sayangnya, momen yang terhitung memasuki usia matang bila disandingkan dengan usia manusia (yang nyatanya bukan penjamin pula untuk kematangan berpikir dan bertingkah pola manusia dewasa ini) seakan hanya menjadi penghias dalam kalendar tahunan semata-mata.

Sesungguhnya, dua momen ini bukanlah hal yang kedudukannya sekedar menjadi selebrasi setahun sekali. Selain mengingat, memaknai adalah proses yang tak kalah penting. Proses memaknai menjadikan sistem nilai dalam diri individu akan terbentuk. Sistem nilai inilah yang menjadi penuntun hingga manusia dapat mencapai kematangan yang sebenar-benarnya matang dalam berpikir dan bertingkah kelak.

Dalam memaknai Sumpah Pemuda, hendaknya bukan sekedar tiga baris pengakuan yang “satu”. Sumpah pemuda dan setiap butirnya membulatkan makna bahwa Bhineka tunggal Ika adalah mutlak pemersatu bangsa. Demikian pula saat Hari Pahlawan hendaknya merujuk pula pada upaya pemuda dari berbagai latar belakang, berani berkorban bagi bangsanya. Pemaknaan hingga penerapan nilai seperti ini haruslah diresapi dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, tidak cukup hanya satu hari saja.

Peranan lembaga pendidikan, media pers, masyarakat (terutama keluarga), dan pemerintah sangat diperlukan, terutama sebagai poros, pemberi stimulus, dan pengalaman. Karena pemuda-pemudi Indonesia adalah aset berharga yang perlu dipelihara positif, bukan disuguhkan tontonan perebutan kursi atau sinetron bertuhan rating.

Hal-hal yang kini melahirkan pemuda konsumtif tak produktif, pemuda apatis masalah sosial atau ujungnya pandai berpikir namun tanpa realisasi, pemuda yang pun dalam dirinya tidak mengejar tapi dikejar (bahkan kadang menolak) keyakinan, pendidikan agama, dan pendidikan moral karena takut dianggap buta modernitas.

Lalu bagaimana kini pemuda memaknai Sumpah Pemuda yang dahulu dimaknai sebagai sebuah jembatan dan Hari Pahlawan sebagai wujud semangat berkorban untuk mempersatukan seluruh bangsa Indonesia?

Kesatuan dan kemampuan kita dalam menghargai perbedaan masih perlu dipertanyakan. Media sosial dijadikan sarana menghina pilihan, adu argumen, tak ubahnya merasa pihak yang paling benar.

Sungguh, memaknai adalah hal yang sangat penting. Terlebih setelah kemerdekaan, maka peran pemuda dalam mempertahankan persatuan Indonesia tentu semakin besar. Dibutuhkan pemuda-pemudi khususnya-yang cerdas, tak pengecut, menghargai perbedaan, yang merupakan bibit-bibit mapan dalam hal moral maupun kematangan bersikap demi kemajuan bangsa. Tentunya berguna, dan memiliki peran yang dapat dikenang dan dialirkan pada keturunan berikutnya meski telah tua kelak.

Proses memaknai ini tentu saja dapat dilakukan dengan pelbagai cara. Contoh kecilnya saja, melakukan hal-hal bermanfaat guna melatih diri agar tak pasif, terus berkarya sesuai bidang semaksimal mungkin, melibatkan diri dalam kegiatan-kegiatan bermasyarakat, atau pun pengukuhan kepemudaan untuk membangun sifat peduli.

Momen penggantian pemerintahan baru/Pilkada serentak 2018 yang sebentar lagi akan dilaksanakan, saatnya pemuda berkontribusi. Begitu pun sebaliknya, tentu semua berharap pemerintahan yang baru kini turut memberi ruang bagi pemuda untuk terus melangkah lebih lebar, untuk merangkul dan mendengarkan ide-ide pemuda.

Karena pemuda adalah komponen masyarakat yang turut memberi arah tentang kebijakan-kebijakan suatu pemerintahan, bersinergi dan selaras tentu saja hal ini perlu diperhatikan nantinya, guna meraih “satu” yang sebenar-benarnya. Indonesia “satu” yang lebih baik. **id

Foto: Ilustrasi Battle of Surabaya

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA