Natal dan Reuni Keluarga di GKI Mangga Besar

Langit Jakarta di wilayah bilangan Mangga Besar cukup cerah di malam itu. Susana Natal yang hangat segera terasa saat memasuki gedung gereja. Dalam ibadah malam Natal itu (24/12) ada 135 jemaat yang hadir. Mereka umumnya datang bersama anggota keluarga. Bahkan sebagian anggota keluarga yang sudah tinggal di tempat lain, menyempatkan diri untuk datang. Ada nuansa lepas-kangen yang kental, mungkin karena sekian lama, mereka tidak saling berjumpa.

Saya cukup surprise juga. Acara natal ini jadi seperti reuni… dalam kesederhanaan kami, jemaat mau berbagi dan mempersembahkan banyak hal,” ujar Pdt. Nanang, ketua majelis jemaat GKI Mangga Besar.

Dalam momen kebersamaan singkat selepas ibadah malam Natal itu, SELISIP sempat memperhatikan sejumlah jemaat yang saling memberi kado Natal, termasuk ada seorang yang memberikannya pada Pdt. Nanang, saat beliau masih diwawancara.

Nah, yang begini-begini ini, selalu ada saja,” puji Pdt. Nanang sembari tersenyum. Pdt. Nanang kemudian menjelaskan sejumlah kebiasaan yang ada di jemaat ini, saat merayakan malam Natal. Misalnya selalu ada drama sederhana yang mendahului khotbah, biasanya dengan dekorasi tertentu. Juga yang selalu ada tiap tahun adalah persembahan palungan, dimana dalam pengumpulan persembahan jemaat maju ke depan dan menaruh persembahannya di palungan.

Di jemaat yang telah didewasakan sejak 34 tahun lalu itu, momen Natal telah menjadi tradisi tersendiri untuk bertemu dan berbagi kebahagiaan dengan keluarga besar. Baik di badah Malam Natal, maupun ibadah hari Natal 25 Desember, yang biasanya diselenggarakan pembaptisan bagi anak.

Dalam khotbah malam Natal itu, Pdt Nanang menegaskan berita tentang bagaimana kelahiran Kristus menjadi sukacita bagi semua bangsa. Yesus dilahirkan dalam sebuah masyarakat yang sedang trauma dengan kekerasan, intimidasi, penindasan dan penghisapan habis-habisan. Namun dalam menjadi jawaban yang memberi sukacita itu, Yesus bukanlah sosok superhero yang membalas kelaliman itu dengan kekerasan pada yang dianggap jahat. Ia justru menghadirkan cinta kasih, bela rasa, sehingga menunjukkan bagaimana Allah mengasihi mereka yang tertindas.

Hal ini menurutnya tetap relevan. Tidak jauh berbeda dengan yang terjadi di zaman Yesus. Saat ini semangat primordial, keserakahan, penaklukan dan penindasan terus terjadi di dunia. Disitulah kita sebagai pengikut Kristus dituntut untuk berbela rasa dan menyalurkan cinta kasih bagi sesama.

Pesan sukacita dan berbagi kasih seperti itulah yang coba terus dihidupi di jemaat ini, saat mereka berkumpul merayakan Natal. **arms

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA