Pesan Natal 2017 dari Sinode GKI

Segenap anggota jemaat dan simpatisan GKI yang kami kasihi,

Sejak akhir tahun lalu dan sepanjang tahun 2017 ini kita seperti berada di dalam roller coaster yang berjalan naik turun, meliuk ke kiri dan kanan, terkadang berjalan perlahan menenangkan, tetapi tiba-tiba kita menukik tajam dengan kecepatan tinggi menegangkan. Ada banyak emosi dan energi yang keluar dari berbagai peristiwa sosial-politik, ekonomi, belum lagi peristiwa alam yang tidak terduga.

Dalam Markus 1:4 kita membaca kisah di mana Yohanes Pembaptis berseru-seru di padang gurun mengajak kita semua untuk menyambut Yesus Kristus yang hadir di dunia ini dengan bertobat. Yang menarik dari Injil Markus adalah absennya kisah kelahiran bayi Yesus sebagai manusia.

Kehadiran Yesus dimulai dengan seruan Yohanes Pembaptis di padang gurun, dan kemudian pembaca diajak langsung masuk pada perjalanan karya Yesus di dunia. Dalam Injil Markus, kisah natal utamanya adalah kesediaan umat untuk bertobat. Padang gurun adalah simbol dunia ini, yang menggambarkan tempat dan ziarah kehidupan umat manusia.

Kita perlu menempatkan ini sebagai bagian dari kisah natal Yesus Kristus. Kisah natal yang berisikan seruan untuk semua umat manusia di tengah perjalanan hidupnya untuk berusaha mendengarkan dan taat kepada Tuhan.

Menyambut kehadiran Tuhan Yesus berarti bersedia dengan rendah hati untuk bertobat, mendengarkan danĀ  taat pada apa yang Tuhan Yesus ajarkan. Pertobatan adalah dasar dari panggilan kita sebagai umat Tuhan yang menyambut kehadiran Yesus Kristus. Dengan kata lain, merayakan natal adalah merayakan pertobatan, di mana umat Tuhan bersedia merendahkan diri mendengarkan dan taat pada Kristus.

Dengan dasar pengertian di atas, kita perlu menyempurnakan perayaan natal yang romantis tentang bayi Yesus bersahaja (yang lahir di kandang ditemani Maria dan Yusuf yang nampak gembira, bintang terang bercahaya dan binatang-binatang yang seolah ikut larut dalam nyanyian gembira para malaikat) dengan kesediaan mendengarkan suara Tuhan melalui ‘berbagai’ hal dan berjuang untuk taat dalam ‘padang gurun’ kehidupan kita saat ini.

Konteks Indonesia dan dunia saat ini yang menghadirkan kegelisahan bahkan krisis kemanusiaan, cinta dan kehidupan, adalah ‘padang gurun’ kehidupan kita. Menyambut dan merayakan natal dalam konteks seperti ini berarti menunjukkan kesediaan bertobat dan mendengarkan serta taat pada suara Tuhan melalui Yesus di tengah ‘padang gurun’ kehidupan.

Dengan ini, kami mengajak kita semua untuk terus memiliki kegelisahan untuk mempertanyakan keberadaan kita sebagai gereja. Apakah kita menjadi gereja yang terus mendengarkan, belajar dan memperjuangkan kebenaran dan bukan sebaliknya justru menutupi kebenaran? Gereja bukan sekedar gudang aktivitas dan seremoni tanpa refleksi dan evaluasi. Gereja harus menjadi sumber pencarian dan penggalian nilai-nilai kehidupan yang dihidupi oleh seluruh warganya dan dibutuhkan oleh konteksnya.

Hanya dengan sikap inilah gereja tetap relevan dan mampu melakukan fungsinya di tengah ruang publik, khususnya di tengah negeri Indonesia ini. Di sini perspektif religiositas dan spiritualitas mendapatkan bentuknya dalam hidup keagamaan kita, sehingga kita sebagai gereja tidak terjebak dalam aktivitas ritual belaka atau kebekuan pada tradisi serta ajaran-ajaran lama.

Karena itu kami berharap bahwa perayaan natal yang telah kita lakukan untuk kesekiankalinya ini, tidak terus menerus hanya menjadi seremoni yang tidak memiliki kepekaan dan keseriusan pada berbagai isu kehidupan di Indonesia bahkan dunia. Sebutlah, persoalan identitas kelompok yang sempit, teologi operatif dan ajaran yang tidak ramah pada perbedaan serta kehidupan, pengabaian pada ketertindasan dan ketidakdilan, agama yang terseret pada formalitas tanpa religiositas dan spiritualitas, sikap tidak peduli pada teriakan alam yang semakin hancur, dan sebagainya.

Gereja Kristen Indonesia saat ini membutuhkan kepemimpinan yang kuat di tengah jemaat, klasis, sinode wilayah, dan sinode. Kepemimpinan yang bersedia untuk mengajak semua orang untuk melihat konteks, terbuka pada perubahan dan mampu berefleksi membangun sikap iman yang tepat dalam konteks Indonesia dan kehidupan global.

Kami meyakini bahwa bentuk panggilan pelayanan bukan hanya menjadi pendeta atau melaksanakan tugas-tugas pelayanan formal dalam organisasi gereja, tetapi juga menjadi manusia yang bersedia menggereja di dalam hidup sehari-hari, yang memiliki kesediaan berbagi serta menghadirkan pengaruh bagi orang-orang di sekitarnya. Ketika masyarakat dan dunia ini memerlukan perhatian serta perubahan, maka gereja haruslah menjadi sebuah komunitas yang bersedia untuk memahami, berubah dan mengubahkan.

Gereja Kristen Indonesia membutuhkan anggota-anggota jemaat dan simpatisan yang bukan hanya asyik berbondong-bondong mengunjungi perayaan natal di gedung-gedung gereja, tetapi juga bergairah menggerakkan orang-orang di sekitarnya untuk menjadi sebuah persekutuan yang transformatif bagi kehidupan. Dalam cara seperti inilah gereja dihadirkan melalui semangat kehadiran Yesus Kristus.

Akhirnya perkenankanĀ  kami menyampaikan Selamat Natal 2017 dan Selamat Tahun Baru 2018. SelamatĀ  menghadirkan pertobatan dan perubahan, seperti junjungan kita, Yesus Kristus, yang sudah hadir di dalam dunia ini (Yohanes 14:12; 17:18).

Teriring doa,

Badan Pekerja Majelis Sinode Gereja Kristen Indonesia

Pdt. Budi Cahyono Sugeng (Ketua Umum) Pdt. Arliyanus Larosa (Sekretaris Umum)

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA