Suarakan Damai Sejahtera Natal

Suara-suara yang riuh mewarnai kehidupan antar umat beragama dan antar etnis. Tidak sedikit suara yang saling mencurigai, saling membenci. Suara jeritan korban bencana yang terjadi di mana-mana menggema merintih memohon pertolongan. Suara-suara membingungkan  bahkan  kerap memancing  amarah juga bising, gaduh mewarnai panggung politik kita.

Sekian banyak suara memenuhi kepala kita, terkadang tidak hanya membuat kita khawatir dan bingung namun bahkan membawa kita pada titik nadir kehidupan, kita menjadi frustasi akan kehidupan yang kita jalani. Kita frustasi akan keadaan yang cenderung menyedihkan untuk  dicermati.

Menjelang Natal dan mengakhiri tahun 2017, mari kita mendengar suara yang lain, suara yang juga didengar dan menyemarakkan hidup Maria dan para gembala. Malaikat menghampiri Maria, sang perempuan sederhana, menyuarakan berita sukacita, bahwa dari sekian perempuan, rahimnyalah yang terpilih sebagai tempat kediaman Sang Juruselamat (Lukas 1:30-33). Suara Malaikat menjadi sebuah suara yang menenteramkan dan meneduhkan bagi perempuan bernama Maria. Berita sukacita yang dibawa Sang Malaikat membawa kedamaian bagi Maria namun menuntut Maria juga untuk mau berkorban. Keterpilihannya membuat ia juga harus rela menjalani kehidupan di luar kebiasaan.

Malaikat menghampiri para gembala, kelompok yang kerap terlupakan di tengah kehidupan, menyuarakan berita sukacita bahwa Sang Juruselamat telah lahir ke dunia (Lukas 2:8-20). Suara para malaikat  menenteramkan dan memberikan harapan bagi mereka yang menjalani kehidupan yang keras dalam profesi gembala. Berita sukacita itu justru didengar pertama kali oleh para gembala. Namun toh berita sukacita ini pun disikapi dengan pengorbanan, gembala segera bergegas menghampiri sang Juruslamat. Perjalanan yang ditempuh beserta risiko-risiko yang ada di dalamnya merupakan bentuk pengorbanan para gembala.

Berita Natal adalah berita kedamaian dan sukacita, bagi Maria, bagi para gembala, juga bagi kita. Di tengah suara yang begitu beragam, yang kerap menegangkan dan mengkhawatirkan, Natal kembali membawa sukacita. Namun sukacita itu hanya dapat terasa saat kita mampu berkorban. Tanpa kesediaan untuk berkorban sulit untuk merasakan sukacita dan kedamaian.

Selamat Natal. Biarlah kita tidak hanya memohon sukacita dan kedamaian tanpa kesediaan untuk mengorbankan diri. Namun kita dimampukan untuk memohon sukacita dan kedamaian dan mengupayakannya dengan kesediaan untuk berkorban. **sbsnet

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA