Tradisi dan Budaya Natal

Waktu sangat cepat berlalu dan tidak terasa jika sebentar lagi natal pun datang. Tentu semua orang tidak ingin melewatkan momen-momen Natal bersama keluarga dengan segala tradisi yang telah dilakukan selama bertahun-tahun. Misalnya, di Indonesia masyarakat kita masih merayakan natal dengan berbagai macam tradisi. Seperti tukar kado dengan teman, kerabat kerja ataupun sanak saudara dan juga menghias pohon natal bersama keluarga.

Tradisi ini sebenarnya merupakan akulturasi budaya dari Eropa, Catatan pertama peringatan hari Natal adalah tahun 336 M pada Kalender Julian, yaitu pada tanggal 25 Desember. Perayaan ini kemungkinan besar berasal dari tradisi gerejawi yang lebih tua meski tak sedikit pul dipengaruhi oleh budaya saat itu.

Sebagai bagian dari perayaan tersebut, masyarakat Eropa biasanya menyiapkan makanan khusus, menghiasi rumah mereka dengan daun-daunan hijau, menyanyi bersama dan tukar-menukar hadiah. Kebiasaan-kebiasaan tersebut lama-kelamaan menjadi bagian dari perayaan Natal.

Di tahun 1100 Natal telah menjadi perayaan keagamaan terpenting di Eropa, di banyak negara-negara di Eropa dengan Santo Nikolas sebagai lambang usaha untuk saling memberi. Hari Natal semakin tenar hingga masa Reformasi, suatu gerakan keagamaan pada tahun 1500-an.

Gerakan ini melahirkan agama Protestan. Pada masa Reformasi, banyak orang Kristen yang mulai menyebut Hari Natal sebagai hari raya kafir karena mengikutsertakan kebiasaan tanpa dasar keagamaan yang sah. Pada tahun 1600-an, karena adanya perasaan tidak enak itu, Natal dilarang di Inggris dan banyak koloni Inggris di Amerika.

Namun, masyarakat tetap meneruskan kebiasaan tukar-menukar kado dan tak lama kemudian kembali kepada kebiasaan semula. Pada tahun 1800-an, ada dua kebiasaan baru yang dilakukan pada hari Natal, yaitu menghias pohon Natal dan mengirimkan kartu kepada sanak saudara dan teman-teman.

Semua tradisi ini tentunya mempunyai makna tersendiri, misalnya menghias pohon natal. Pohon cemara sering kali digunakan sebagai simbol pohon natal, dibalik itu pohon cemara yang tetap hijau melambangkan hidup yang kekal. Sementara bentuknya yang menjulang ke atas digambarkan sebagai kehidupan rohani yang mengarah kepada Tuhan, Kemudian umumnya hiasan bintang di atasnya memberi makna Natal selalu penuh berkah.

Begitu pun juga dengan tradisi bertukar kado, mempunyai makna tersendiri, yaitu sebagai lambang pertukaran cinta kasih dan berbagi untuk sesama. Ada banyak sekali yang tradisi yang bisa kita rayakan dan maknai saat natal, dibalik semua itu adalah euforia merayakan kembali kelahiran Tuhan Yesus, yang harus kita sambut dengan penuh dengan sukacita dan kegembiraan. **id

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA