Epifani Memberi Kehidupan

Dalam rubrik Analisis Politik, harian Kompas Kamis (4/1) Yudi Latif mengangkat tema Kekuatan Mencintai. Ia menyoroti, antara lain, tentang keburukan dan krisis politik di Indonesia.

Pangkal keburukan kekuasaan bermula ketika orang lebih terobsesi ‘cinta kekuasaan’ (the love of power) ketimbang ‘kekuasaan untuk mencintai’ (the power of love). Dalam krisis yang membutuhkan kekuasaan yang lebih bertanggung jawab pada kebaikan hidup bersama, para pemimpin justru lebih mencintai kekuasaan yang melayani kepentingannya. Elit negeri tak segan menjerumuskan rakyat ke dalam kobaran api permusuhan antar identitas yang membakar rumah kebangsaan menjadi puing-puing kesumat.” Ujar Latif, yang berharap memasuki tahun politik 2018 kesadaran kekuasaan dipakai untuk mencinta itu akan semakin tumbuh.

Sejarah mencatat pergulatan antara orang yang haus kekuasaan dan orang yang menggunakan kekuasaannya untuk meredakan dahaga akan cinta, terus berlangsung. Orang yang haus dan cinta kekuasaan akan memakai segala macam cara untuk mendapatkannya. Dari cara-cara halus, seperti membujuk, membuat pencitraan dan membagikan pelbagai kebaikan, sampai cara-cara kasar, seperti menebarkan kampanye hitam, membuat berita bohong, memfitnah, mengintimidasi, mengancam dan tak segan memecah belah rakyat. Korbannya, tentu rakyat itu sendiri!

Sebaliknya, orang yang menggunakan kekuasaan atau kekuatan yang ada pada dirinya untuk mencinta, akan melakukan apa pun agar rakyat yang dicintainya terbebas dari pelbagai kesengsaraan hidup.

Kehadiran Yesus ada di tengah paradoks ini. Ia lahir ketika Galilea diperintah oleh Raja Herodes I (37-4 SM). Sesudah raja itu meninggal, Galilea dan Perea diperintah oleh Herodes Antipas, putranya. Pada waktu itu Galilea cukup “sejahtera.” Namun, kesejahteraan yang diperoleh tidak lain karena Antipas tampil menindas dengan pelbagai kekerasan yang dilakukannya. Ia tidak segan menumpas setiap orang atau kelompok yang dicurigai dapat merongrong kekuasaannya.

Tidaklah mengherankan kalau kemudian di wilayah ini muncul gerakan anti pemerintahan. Galilea menjadi basis kaum Zelot yang melawan penjajah Romawi. Juga menjadi pusat Yudaisme sesudah runtuhnya Yerusalem (tahun 70 M). Di daerah ini pula kita dapat menyaksikan pergulatan the love of power dan the power of love: kekuasaan yang menindas dan Kekuasaan yang menyapa serta berbela rasa dengan penderitaan umat manusia.

Menurut Injil Markus, Galilea bukan hanya negeri asal Yesus melainkan juga pusat karya-Nya, khususnya wilayah sekitar danau Genesaret atau danau Galilea. Daerah ini dijadikan daerah awal dari misi Yesus dan para pengikut-Nya di antara orang-orang kafir. Yesus meninggalkan wilayah itu hanya sewaktu-waktu saja  (Mrk.7:24, 31; 8:27).

Pada awal karya-Nya, tentu saja Yesus – seperti orang-orang lain – mendengar seruan tobat yang disampaikan Yohanes. Yesus juga berangkat dari Nazaret ke Yudea. Dengan datang ke Yohanes, Yesus menyamakan diri-Nya dengan para pendurhaka yang memerlukan penebusan. Ia ada bersama-sama sebagai sebuah umat Yahudi. Walaupun – kata Yohanes – Yesus lebih besar kuasa-Nya dan hanya Dia yang mampu membaptis orang dengan Roh Kudus, namun, Ia merendahkan diri-Nya menerima baptisan tobat. Bukan karena Yesus juga berdosa maka Ia harus dibaptiskan. Melainkan, Yesus setuju dengan gerakan moral yang dikumandangkan Yohanes bahwa bangsa itu harus bertobat!

Markus memperkenalkan Yesus dari sudut batin-Nya. Yesus datang kepada Yohanes secara incognito. Sama seperti orang lain, Ia berdiri di tengah para pendosa dan menerima baptisan Yohanes walaupun Ia sungguh-sungguh Putra Allah dan Allah sendiri. Ini dilakukan-Nya bukan supaya Ia sendiri selamat atau luput dari murka Allah, melainkan karena Ia sepenuhnya mau bersatu dengan umat manusia. Ia mendekati manusia sedalam mungkin, supaya kelak dapat Ia dapat melimpahinya dengan kasih dalam kerahiman-Nya.

Yesus merendahkan diri dan berdiri dalam jajaran orang berdosa yang menanti pertobatan, ini bukan pencitraan. Ini bukan seperti orang-orang sekarang yang haus kekuasaan (the love of power) yang mau melakukan apa saja, bahkan yang tidak pernah dilakukannya selama hidupnya seperti membersihkan got, makan di pinggir jalan, mengayuh sepeda, menyapu jalanan, menggendong orang miskin, membeli pakaian di pedagang kaki lima, dan sebagainya. Lihat, bahasa tubuh mereka sebenarnya menyangkal itu. Namun, demi citra diri agar kekuasaan dapat diraih, mereka rela melakukannya! Yesus bukan manusia tipe ini.

Tidak berbeda dengan orang-orang Yahudi waktu itu, Yesus turun ke dalam sungai Yordan sebagai tanda ketaatan kepada Allah. Maka, Ia menguduskan diri-Nya dalam iman sebagaimana layaknya seorang manusia. Pada saat itulah langit terkoyak melambangkan keadaan baru: kehadiran Allah tidak lagi tersembunyi, sehingga manusia dapat menjangkau-Nya. Allah meniadakan kendala-kendala dan kini berada di tengah-tengah manusia.  Kini, di bumi mulailah sebuah proses perubahan dasyat, bukan hanya manusia lebih mudah berjumpa dengan Allah, melainkan justru sebaliknya: Allahlah yang turun kepada manusia. Dalam diri Yesus, Allah hadir diantara manusia!

Yesus meninggalkan tahta kemuliaan dan kekuasaan-Nya agar wujud konkrit kasih, karakter, sifat, dan wajah Allah dapat disapa, diraba, disentuh, dilihat dan diraih sepenuhnya oleh manusia. Itulah sejatinya Firman yang menjadi Manusia. Itulah Epifani! Allah yang menyatakan diri kepada umat manusia. Epifani itu adalah the power of love. Kuasa yang tidak terbatas, kini mau membatasi diri untuk mencintai!

Epifani mestinya bukan hanya bagian dari masa lalu ketika pembaptisan Yesus. Epifani itu harus terus terjadi di sepanjang generasi. Kini, Sang Firman Hidup telah kembali kepada Bapa di Sorga. Namun, Ia telah menyatakan Firman hidup dan yang menghidupkan itu kepada setiap kita. Giliran kita yang harus meneruskan karya-Nya agar kehadiran Allah yang peduli, menyelamatkan, mengampuni, mengasihi dan mencintai itu terus terlihat. Dapatkah setiap orang yang bersentuhan dengan kita – dalam pelbagai cara dan kesempatan; termasuk kini di dunia maya – melihat Epifani itu?

Selama kita menjadi orang dalam kelompok the love of power, yang melakukan segala upaya untuk pementingan dan keagungan diri sendiri, selama itu kita makin menutupi wajah Allah yang penuh rakhmat dan damai sejahtera. Tidak ada jalan lain untuk menghadirkan Epifani, kecuali dengan mencontoh apa yang sudah diteladankan Yesus kepada kita. Seberapa pun daya atau “kuasa” yang ada pada kita mestinya mampu menghadirkan rahmat dan kemurahan-Nya pada orang-orang yang kita jumpai.

Penulis: Pdt. Nanang (GKI Mangga Besar)

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA