GKI Pamanukan Menyongsong Kemajuan Pantai Utara

Sore itu gerimis masih sesekali turun. Namun serombongan orang yang tengah berduka, sedang bersiap-siap untuk prosesi pemakaman jenazah. Peti jenazah kemudian dipindahkan dari ruang duka ke satu kereta kencana yang berdesain klasik. Konon usianya sudah cukup antik.

Itu adalah salah satu pemandangan yang terbilang rutin ditemui di samping gedung gereja GKI Pamanukan. Keberadaan rumah duka sederhana di gereja ini memang merupakan salah satu bentuk pelayanan gereja pada masyarakat di Pamanukan, tidak terbatas hanya pada anggota jemaat saja. Meski dengan segala keterbatasan yang ada, jemaat yang telah didewasakan dari GKI Guntur sejak tahun 1995 ini mencoba terus hadir sebagai berkat.

**

Kecamatan Pamanukan Kota sejak lama menjadi pusat pertumbuhan di wilayah pantai utara Kabupaten Subang. Letaknya memang strategis, berada pada persilangan jalan negara (jalur pantura) dengan jalan provinsi yang menghubungkan wilayah pantai Jawa Barat dengan Bandung.

Wilayah yang semi perkotaan ini terbilang sangat dinamis, dengan kesibukan yang hidup selama 24 jam. Cukup banyak arus kendaraan dan banyak pula pertokoan yang dirancang sebagai pusat perdagangan modern, toko-toko waralaba serta pertokoan perorangan. Ini pula yang menyebabkan komposisi penduduknya lumayan beragam. Sejumlah perkampungan warga etnis Tionghoa, Sunda dan Jawa berdamping-dampingan sepanjang waktu yang cukup lama di Pamanukan.

Sempat menjadi pusat pendidikan menengah di Kabupaten Subang, namun Pamanukan hingga kini belum banyak memiliki pendidikan tingkat universitas. Hal yang menyebabkan arus perpindahan generasi muda, cukup banyak terjadi. Meski belakangan sejumlah upaya kemajuan juga tengah dilakukan.

Bagaimana gereja melihat ladang pelayanannya ini?

Banyak tantangan… sebenarnya banyak kebutuhan yang sangat terbuka untuk segera dilayani,” Pdt. Amir Sarifudin memulai ceritanya terkait upaya melayani daerah di kitaran pantai utara yang sangat banyak membutuhkan layanan.

Wilayah di kitaran Subang, Pusaka Negara, Pamanukan, Cikampek dan lain-lain memang masih terbilang sedikit yang memiliki gereja. Di sisi lain pembangunan saat ini tengah gencar-gencarnya. Sejumlah perumahan baru dibuka, demikian pula ada rencana besar pembangunan pelabuhan baru. Selain itu, keberadaan kampus SMA Plus Astha Hannas dan STIP-AN di wilayah Binong, Subang juga masih memiliki kebutuhan besar, karena umumnya nara didik yang beragama Kristen (terutama yang berasal dari wilayah Timur Indonesia) belum banyak terlayani.

Kita sudah rintis, awalnya agak sulit, namun belakangan kampus mulai mengizinkan mereka boleh keluar untuk bergereja disini. Tahun depan mungkin dibalik, saya yang mungkin akan melayani kebaktian minggu disana. Memang cukup merepotkan, tapi saya menikmati tantangannya,” ujar Pdt. Amir dengan senyum simpul. Ia pun turut menceritakan upaya yang lumayan sulit merintis pelayanan di tengah jemaat di Cikampek, Pusaka Negara dan sejumlah tempat lain.

Sudah sempat ada kebaktian dengan beberapa puluh orang, tapi ya itu tadi memang kita masih terbatas,” kesahnya.

Gereja yang kini beranggota jemaat sekitar 110 orang itu memang masih menyadari keterbatasannya, namun berusaha untuk tidak menutup mata akan kebutuhan yang ada. Pembinaan kaum muda, serta upaya merangkul sejumlah pelayanan yang kadang terbengkalai memang menjadi prioritas yang kini tengah diupayakan. Mencoba menangkap denyut perubahan yang kini begitu pesat melandai pantai utara Jawa Barat. **arms

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA